BAB 10

1629 Kata
 “Inget, jangan terlalu kecapekan. Suplemen vitamin wajib diminum habis makan. Dan ya lo wajib banget makan dengan porsi kuli. Gue nggak mau lo sok-sokan makan porsi biasa apalagi porsi kecil, gue gampar lo.” Sore hari Miyu kembali menerima telepon dari Nana. Sahabat tomboy Miyu itu sudah menelepon Miyu sebanyak dua kali—kini bertambah menjadi tiga kali. Hal yang dibicarakan pun sama semua, menasihati Miyu untuk tidak kelelahan, minum suplemen vitamin, dan makan tepat waktu. Rutinitas telepon Nana terjadi sejauh tiga hari sejak Miyu kembali bekerja di café. Awalnya Miyu tidak masalah, namun lama-kelamaan mulai terasa menyebalkan juga. Rasanya seperti sedang diawasi oleh orang tua. Walau Miyu pun tahu niat Nana baik, sedikit rasa jengah tidak dapat dipungkiri olehnya. Miyu mencomot kentang goreng dengan kepala manggut-manggut. “Gue nggak pernah lupa.” “Makan makanan yang bergizi. No ice, okay? Nah, you can get it but less. Yang paling penting itu kondisi badan lo harus selalu fit, jangan kecapekan dan rajin minum vitamin. You got it?”  Anggukan kepala Miyu semakin kencang, terpengaruh oleh rasa kesal mendengar celotehan Nana. “I get it, I get it. Oh, ya, untuk rencana hang out—“   “Jadwal check up rutin lo sama Dokter Raina sudah gue atur. Bulan depan lo terjadwal di tanggal sepuluh. Di usia kandungan satu bulan, itu masa-masa dangerous banget karena lo bakal masuk di fase morning sickness. We can’t do anything about that, but I’ll do my best to accompany you, okay.”  Bola mata Miyu mulai berputar jengah. “Nana, rencana hang out—“ Tiba-tiba terdengar suara berisik menjadi backsound Nana membuat Miyu sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Setelah keberisikan itu mereda, suara Nana kembali terdengar. “Oke, gue sangat-sangat sibuk di sini. Seperti biasa gue jemput jam enam. Bye.” Sambungan telepon diputus sepihak oleh Nana tanpa menunggu respon Miyu. Saat itu juga seluruh emosi Miyu seolah naik ke ubun-ubun, siap meledak. Wanita itu mendelik pada layar ponselnya, dalam hati melontarkan sumpah serapah kepada Nana. Sekejap kemudian Miyu mendinginkan kepala, menarik dan mengembuskan napas panjang. Ia harus tetap menjaga kewarasan dan kestabilan emosinya.  Sejak kandungan Miyu dikonfirmasi tujuh hari lalu, perubahan-perubahan kecil mulai terjadi pada diri Miyu. Terutama dalam segi perasaan. Miyu mulai menjadi wanita yang sangat moody dalam situasi apa pun. Contohnya saja barusan. Padahal sebelumnya Miyu sudah biasa menghadapi sisi cerewet Nana, namun akhir-akhir ini Miyu jadi sering mudah naik pitam karena sisi tersebut. Tentu itu adalah hal yang wajar. Namun rasa-rasanya tidak nyaman bagi Miyu. Marah-marah itu menguras tenaga. “Hei!” sapa Ira riang ketika masuk ke office, duduk di hadapan Miyu dengan membawa sepiring kentang goreng. “Ditelepon lagi?” Miyu menghela napas panjang. “Gitu, deh.” Ira mencomot kentang goreng sebelum terkekeh. “Gila, temen lo perhatiannya ngalah-ngalahin level pacar sama suami.” Miyu sedikit mendelik. “Ira.” “What? Gue melontarkan fakta,” Ira mengerjap dengan wajah terheran-heran sendiri menatap Miyu, “maksud gue, temen mana sih yang sepeduli dan sangat over protective kayak temen lo? Jujur aja, gue mulai sedikit envy sama lo.” “Oke, mungkin lo bener,” desah Miyu lelah. “Bukan mungkin, memang bener,” tandas Ira dengan wajah sombongnya yang khas dan menyebalkan di mata Miyu. Miyu mendecih pelan. “Tapi, nggak ada bagian dalam hidup gue yang perlu sampe bikin lo envy. Punya sahabat secerewet Nana itu antara mukjizat sama petaka, you know.” “Level cerewetnya dia udah ngalahin level pacar sama suami, sih.” Tidak mau membahas Nana lagi demi meredakan emosi Miyu, Miyu melempar topik lain. “Jadi, kenapa lo nggak mulai cerita masa-masa empat hari tanpa gue di sini?” Pancingan topik Miyu membuat Ira mengernyit cukup dalam. Tidak hanya mengernyit, Ira juga sedikit mendelik terkesan curiga kepada Miyu. Tentu mendapat balasan kernyitan yang sama oleh Miyu. “Apa?” tanya Miyu bingung. Ira bertopang rahang. “Akhirnya lo mulai kepo soal kondisi tuan Jepang yang dateng selama lo absen?” “Kenapa arahnya jadi ke sana?!” sembur Miyu dengan mata melotot kaget. “Tiga hari lalu pas lo balik kerja, lo nggak banyak tanya soal itu. Padahal gue udah beberin ketimpangan sikap tuan Jepang yang dia lakuin ke gue dan lo. Tapi, lo nggak tertarik,” tutur Ira, “akhirnya lo pengen tahu, toh?” Bola mata Miyu memutar jengah diikuti decak pelan. “Gue cuma pengen tahu kondisi café selama gue absen. Mana ada gue nanyain dia.” Ira cemberut. “Ah, nggak seru lo.” “Lagian, mau sampe kapan lo sangkut-pautin dia sama gue?” “Habisnya gue ngerasain dan ngeliat chemistry di antara kalian itu bener-bener adorable. Kayak bukan halusinasi gue aja, emang ada chemistry yang ngiket kalian.” Miyu mendengus pelan. “Nggak, lo halusinasi. Gue sama dia bagaikan kentang dan serbuk berlian.” Bibir Ira mengerucut sebal. “Terus lo bisa jelasin perbedaan sikap dia antara ke gue dan ke elo? Gue harap bukan alasan klasik yang lo pake, nih.” “Mungkin selama itu dia kena bad day. Makanya dia terkesan negatif di mata lo. Kebetulan aja masa-masa bad day itu selesai tepat di hari gue masuk kerja.”  Ira menggeleng keras, menyangkal. “Jangan terlalu naif, deh. Gue lebih yakin dia ada sedikit crush ke lo sejak pertama dateng ke sini. Menurut lo, alasan klasik dia saat mutusin langganan di sini itu cukup masuk akal? Dia orang kaya, woy. Dia bisa dapetin pelayanan lebih bagus di restoran berbintang. Buat apa dia ke café murah kayak gini hanya karena ada satu karyawan yang bisa melayani pake bahasa Inggris kalau bukan ada ketertarikan sama lo.”    Miyu langsung mendelik dengan wajah bersangsi. “Huh? Lo mulai delusional.” “Gue nggak delusional,” tandas Ira tegas, “gini, ya, Agatha. Lo mulai pikir baik-baik. Kita tahu dia orang kaya, jelas banget. Dia WNA, bahasa Indonesianya nggak terlalu lancar. Dia bilang dia bakal langganan di Anomali karena ada lo yang bisa melayani pake bahasa asing. Sedangkan pelayanan semacam itu bisa dia dapetin di resto berbintang karena dia kaya. “Terus, dia beneran dateng tiap hari. Seminggu pertama kedatangannya dia sangat baik-baik aja. Di hari kedelapan, lo tiba-tiba nggak masuk sehingga gue yang ngelayanin. Hari itu juga dia nggak kayak minggu pertama, coy. Datar banget kayak robot. Itu terjadi sampe empat hari. Hari lo masuk, dia langsung balik jadi manusia. Kebetulan yang kebetulan banget, tahu nggak.” Kalau Miyu boleh jujur, Miyu juga sepemikiran dengan Ira. Kanata termasuk orang kaya. Ia bisa pergi makan di restoran mahal yang memiliki pelayan berkualitas melebihi café Anomali. Tentu Miyu tidak tahu mengapa Kanata lebih memilih café Anomali daripada restoran berbintang. Yang jelas alasan pria itu sedikit tidak masuk akal. Bila menginginkan pelayanan yang baik terhadap WNA yang belum mahir berbahasa Indonesia, restoran berbintang adalah jalan keluarnya. Sebenarnya ini bukan urusan Miyu. Hanya saja Ira mulai mengungkit-ungkitnya sehingga mau tidak mau Miyu ikut kepikiran. Terlebih Ira menyangkutkannya dengan asumsi Kanata berlangganan di café Anomali karena tertarik pada Miyu. Dalam benak Miyu, hal semacam itu tidak akan pernah terjadi. Jadi, dia masih mempertahankan kewarasannya dengan menganggap itu semua sekedar halusinasi Ira semata. “Kesampingin itu dulu, deh. Lo sendiri gimana ke dia?” celetuk Ira membuyarkan lamunan Miyu. Alis Miyu naik sebelah. “Apanya?” “Perasaan elo ke dia,” dengus Ira sambil menggigit kentang goreng, “gue masih inget lo kesambet setan gagu saat pertama kali ketemu dia.” “Gue biasa-biasa aja. Nggak gimana-gimana,” jawab Miyu dengan dengus pelan agar terkesan lebih meyakinkan. Padahal sia-sia saja mencoba menyangkal segala halusinasi Ira, cewek itu tidak akan pernah menerimanya. Ira mendecih. “Nggak perlu bohong nggak masalah kali, Tha.” “Gue nggak bohong—“ Ira manggut-manggut, mengabaikan Miyu. “Gue paham, lo masih malu-malu. Cepat atau lambat bakal keliatan juga, kok.” “Ada apa sih sama semua temen gue?” sembur Miyu seraya bangkit berdiri, “suka, suka, suka, makan tuh suka.” Ira sedikit berusaha kekehannya melihat wajah jengkel Miyu. Gadis berambut pirang itu keluar dari office dengan membawa piring kotor bekas kentang goreng. Tampaknya Miyu sudah mencapai batas kesabarannya dalam menerima ledekan percomblangan dengan Kanata. Namun dalam sudut pandang Ira, Miyu hanya masih belum mau jujur tentang perasaannya sendiri. Orang lain adalah penonton kehidupan memang cocok untuk menggambarkan Ira. Dia yang paling paham karena menyaksikan segalanya. Sementara, sudah sewajarnya Miyu tidak menyadari apa-apa yang berbeda saat sedang dan tidak sedang bertemu tatap dengan Kanata. Emangnya gue punya harapan sama peluang? rutuk Miyu ketika sedang mencuci piring. Gue hamil. Laki-laki mapan kayak dia mana mungkin ngelirik perempuan hamil, di luar nikah pula kehamilannya. Kalau pun emang dia ada sedikit perasaan, pasti langsung ilfeel kalau tahu gue mengandung di luar nikah. Jangan berharap. Dari situ Miyu kembali menegaskan pendiriannya. Mustahil Kanata menyukainya. Semua ini hanya kebetulan. Ini bukan dongeng Disney, ini kenyataan. Miyu harus lebih berhati-hati dalam menjaga perasaannya agar tidak mudah terbawa suasana. “Hei, Agatha. Lo udah masukin nama Pak Saionji Kanata ke daftar member Anomali?” tanya Reno menyeletuk sesaat setelah Miyu selesai mencuci piring. Miyu terlonjak kaget melihat figur Reno tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. “Huh? Member?” “Iya. Beliau kan langganan datang tiap hari. Dia harus ditawarin kartu member Anomali buat dapet banyak promo sebagai pelanggan spesial.” Alis Miyu naik sebelah. “Kenapa nanyanya ke gue?” Reno mengernyit heran. “Lo petugas kasir dan hanya lo yang bisa berinteraksi lebih dekat sama dia. Ya kali gue suruh Ira, mana mau dia.” Ya Tuhan, kenapa segalanya jadi dihubung-hubungin begini. Entah mau sampai kapan Miyu merutuk begini. Entah juga mau merasa senang karena berhasil menarik pelanggan tetap super tampan atau dilema sendiri karena asumsi-asumsi penuh halusinasi Ira.  TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN