BAB 9

1439 Kata
“Aku sudah follow up kandidat manajer. Tiga orang sudah kutetapkan. Susun rapatnya pukul tiga sore hari ini untuk meresmikan manajer-manajer baru itu,” ujar Kanata sambil melepas kacamata dan bangkit berdiri. Santa mengangguk. “Tentu. Lalu, bagaimana dengan penyusunan kebijakan baru kantor?” “Aku tidak merasa hal itu perlu dilakukan,” Kanata menghela napas panjang, “setidaknya dengan aku memberhentikan beberapa orang kemarin, seluruh karyawan mendapatkan refleksinya tersendiri.” Santa manggut-manggut. “Baik, aku mengerti.” Saionji Kanata melepas kancing jas, memperlihatkan kemeja putih di dalamnya. Pria berumur dua puluh tujuh itu melonggarkan ikatan dasi seiring langkahnya hendak keluar dari ruang kerja. Sepersekian detik Kanata melirik arloji di pergelangannya, memastikan jarum jam memang sudah menunjuk pukul dua belas. Jam makan siang tiba. “Kau benar-benar akan kembali makan siang di Jakarta Pusat, huh?” celetuk Santa tiba-tiba saja sudah berada di samping Kanata. Kanata melepas jas hitamnya, lalu menggulung lengan kemeja hingga siku tangan. “Kita sudah sepakat untuk tidak memperdebatkan hal sepele ini lagi.” Santa memutar bola mata dengan dengusan pelan. “Ya, ya, aku tahu. Aku bukan ibumu yang harus siap sedia menasihatimu.” Kanata menoleh, tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah, kau sudah menerima e-mail dari Mikan?” “Belum. Kurasa situasi di sana juga tidak kalah kacaunya. Mikan-san bukan tipe lambat respon.” Kanata mengembuskan napas pendek. “Dia berkompeten. Ada Mizuki juga di sana.” Santa manggut-manggut sebelum tiba-tiba menepuk keras punggung Kanata membuat sahabatnya itu meringis kaget. “Ya, kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Cepat pergilah makan siang, hari ini ramalan bintang Capricorn sangat bagus dalam segi kehidupan asmara. Mungkin saja kau akan menemukan hal bagus di sana.” Kanata mendecak pelan bersamaan pintu ruang kerja bergeser terbuka. “Aku tidak percaya ramalan bintang.” “Jangan terlalu pesimis begitu. Dari dulu aku selalu mengikuti ramalan bintang harian dan hasilnya mayoritas benar-benar terjadi dalam hidupku.” Kanata mendengus pelan. “Aku lebih tidak percaya kau masih saja memercayai ramalan bintang harian.” Santa mendengus kesal. “Baik, kita lihat apakah ramalan Capricorn hari ini akan terjadi padamu atau tidak. Ingat, kehidupan asmara Capricorn hari ini sedang beruntung.” “Ya, ya, terserah,” dengus Kanata tidak minat sebelum mulai melangkah pergi menuju lift pribadi di ujung lorong. Kehidupan asmara? Kanata tidak pernah memikirkannya. Di sepanjang hidupnya, Kanata selalu berada di posisi yang berlawanan dalam hubungan asmara. Dia tidak pernah mendekati perempuan, dia selalu menjadi orang yang menerima pernyataan cinta lalu memberikan penolakan. Tidak pernah ada perempuan yang benar-benar menarik perhatian Kanata. Cinta pertama? Nah, Kanata belum merasakannya. Tidak ada yang mendasarinya. Kanata hanya belum tertarik menjalin hubungan. Prioritas utamanya adalah memimpin perusahaan. Dengan prioritas itu, hidup Kanata hanya berkubang dalam urusan pekerjaan. Berkeliling dunia untuk mengecek cabang-cabang perusahaan. Mengendalikan perusahaannya yang sedang dalam masa-masa kejayaan. Akhirnya, tidak pernah terlintas dalam benak Kanata untuk menjalin hubungan dengan perempuan. Hidup dan pikiran Kanata hanya dipenuhi oleh urusan pekerjaan. Bila diingat kembali, Kanata sampai harus menghela napas tiap kali mengingat para tetua keluarganya. Sejak Kanata menginjak umur dua puluh empat, mereka sudah melempar perintah kepada Kanata untuk segera menikah. Saat itu, Kanata cukup terkejut melihat kelancangan para tetua mengatur kehidupannya untuk kesekian kalinya. Jadi, Kanata hanya mengiyakan tanpa benar-benar berminat melakukannya. Kanata pikir para tetua tidak akan mengungkit pernikahan setelah dia mengiyakan, Kanata salah. Para tetua itu masih mengungkitnya hingga hari ini. Mereka sungguh-sungguh menyuruh Kanata segera menikah. Sukses membuat Kanata sakit kepala setiap kali selesai menghadiri pertemuan keluarga besar yang rutin dilakukan tiap lima bulan sekali. Seperti biasa, cuaca Jakarta pada siang hari ini sangat cerah. Range Rover Kanata melaju lancar di jalan Jenderal Sudirman. Dia cukup bernapas lega karena hari ini lalu lintas Jakarta cukup bersahabat. Kanata cukup ingin segera tiba di café Anomali. Kurang lebih ingin mengetahui apakah gadis pirang kasir sudah masuk bekerja atau belum. Entahlah, sejak gadis itu berhasil memporak-porandakan benaknya usai rapat pagi sebelumnya, Kanata tidak bisa berhenti memikirkan dan mengkhawatirkannya. Padahal, mereka bukan siapa-siapa dalam kehidupan satu sama lain. *** Berbeda dari hari-hari sebelumnya, siang ini café Anomali cukup ramai. Mayoritas pengunjung adalah orang kantoran seperti Kanata. Sisa lainnya adalah mahasiswa. Hal ini cukup mengejutkan Kanata sebagai pelanggan yang selalu datang tepat pada jam makan siang. Yang Kanata tahu café Anomali mulai memasuki jam sibuknya di sore hari. Dengan keramaian pengunjung seperti ini, Kanata cukup tidak nyaman karena sudah pasti eksistensinya benar-benar mencolok. Ketika Kanata melewati pintu kaca, mata ambernya langsung menemukan figur yang telah lama tak dijumpa. Gadis pirang kasir sudah kembali bekerja. Berdiri di balik mesin kasir, melayani pengunjung dengan senyuman manis andalannya. Seluruh perasaan khawatir dan mengganjal dalam diri Kanata meluruh dalam sekejap. Seolah mendapat sinyal telepati, gadis pirang tersebut menoleh ke arah Kanata yang mulai melangkah pelan menghampirinya. Tatapan mereka bertemu. Tak ada raut terpasang di wajah mereka. Kedua mata mereka pun tidak menunjukkan kesan apa-apa. Akan tetapi, mereka sama-sama merasakan sesuatu dari tatapan itu. Seolah mereka saling berbicara melalui tatapan. Dan itu cukup menakjubkan, bagi Kanata. “Good afternoon, welcome to Anomali café, Mr. Saionji. Please, feel free to order.” ujar Miyu sesaat setelah Kanata berhenti di hadapannya. Kanata tersenyum simpul. “Anda tidak perlu berbahasa Inggris, nona. Saya cukup mampu berbahasa Indonesia.” Miyu tersenyum. “Baik, Tuan Saionji. Saya sangat terkesan mengetahui anda mampu berbahasa Indonesia. Aksen anda cukup bagus.” “Terima kasih, anda terlalu memuji.” “Untuk hari ini, menu apa yang ingin anda pesan?” Alih-alih menjawab pertanyaan Miyu, Kanata justru melempar celetukan, “Beberapa hari terakhir, saya tidak melihat anda.” Miyu tersentak kecil mendengar ucapan Kanata. Tanpa basa-basi sama sekali, Kanata langsung melontarkan kebingungannya atas absennya Miyu selama empat hari. Jujur saja, Miyu sedikit bingung dengan sikap Kanata. Mereka tidak begitu mengenal satu sama lain, seharusnya interaksi yang terjadi hanya sebatas pelayan dan pengunjung. Namun, Kanata mengambil langkahnya menjejaki interaksi yang lebih dekat lagi. Tentu, Miyu bingung. Sebagai pekerja profesional, mau tidak mau Miyu memberi tanggapan sesuai kenyataannya. “Ah, benar. Beberapa hari terakhir, saya mengambil istirahat. Saat ini semua sudah kembali normal. Terima kasih atas perhatian anda.” “Tidak terjadi masalah serius, bukan?” tanya Kanata dengan tubuh sedikit condong maju mendekati Miyu. Miyu sangat berusaha mempertahankan raut wajah profesionalnya. “Syukurlah hal itu tidak terjadi, Tuan Saionji.” Senyum miring kecil tersungging tanpa bisa Kanata cegah. “Syukurlah.” “Maafkan kelancangan saya, Tuan Saionji. Bisakah anda segera memesan?” tegur Miyu dengan suara berbisik, menyadarkan Kanata bahwa antrian mulai tercipta karena perbincangan kecil mereka. Melihat sedikit kepanikan di wajah Miyu membuat Kanata sedikit terkekeh pelan. “Tentu, maafkan saya. Kalau begitu untuk hari ini carbonara, french fries, dan lemon tea. Untuk lemon tea ukuran large, less ice.” Miyu mengangguk. “Baik.” Mata amber Kanata sepenuhnya mengamati figur Miyu. Gadis itu lebih pendek darinya, sebatas tulang selangka Kanata. Parasnya tidak murni Indonesia. Tampak jelas dari rambut pirang alami dan mata hijaunya. Kulitnya pun sangat putih. Kurang lebih, Miyu sama seperti Kanata, mencolok. Buktinya, Miyu berhasil sedikit menarik perhatian Kanata. “Terima kasih. Silahkan duduk, Tuan Saionji.” ujar Miyu seraya menyerahkan uang kembalian kepada Kanata. Kanata menyingkir, menyempatkan diri melempar senyum kepada Miyu. Lalu benar-benar pergi mencari meja. Meninggalkan Miyu dengan sejuta pesona yang tentu berhasil mengundang semburat tipis menghiasi kedua pipinya. Miyu tidak habis pikir. Setelah empat hari tidak bertemu, ada apa dengan sikap Kanata yang manis dan perhatian itu? Apa yang sebenarnya sudah terjadi selama absennya Miyu? Bagaimanapun juga, Miyu tidak bisa benar-benar mengendalikan efek yang diberikan Kanata. Pria itu seolah sengaja membuat Miyu uring-uringan sendiri sejak awal pertemuan mereka. “Cieee dikangenin sama si bule Jepang,” celetuk Ira ketika antrian telah selesai Miyu layani. Sukses menyulut emosi Miyu. “Jangan mulai, deh,” sahut Miyu mendengus kesal. Walau tak dapat dipungkiri betapa ambyarnya dirinya karena efek manis dan perhatiannya Kanata. Ira cemberut. “Harusnya lo bersyukur. Empat hari gue ngelayanin tuan Jepang itu, dia sama sekali nggak senyum. Datar-datar aja. Giliran elo, cuih, disenyumin ratusan kali.” Pernyataan Ira membuat Miyu mengernyit dalam, tidak percaya. “Bohong lo.” “Dih, gue serius. Kalau bohong, sekalian aja gue bilang dia nembak gue jadi pacar,” decak Ira tiba-tiba sensitif, “kemarin-kemarin dia kayak nggak senang-senang amat datang ke sini. Gue paling ngerti perbedaannya karena gue saksi matanya, Agatha.” Miyu mengerjap. “Gitu?” Ira kembali berdecak. “Iya, gitu.” Wah, apa-apaan? Kenapa tiba-tiba jadi kayak gini? Tuhan, kenapa tiba-tiba gue kayak dikasih harapan gede begini, rutuk Miyu dalam hati seraya berusaha berpikir jernih dan lebih berlogika. Mungkin aja kemarin-kemarin dia sedang bad day, makanya terkesan negatif. Kebetulan saja hari ini dia nggak ngalamin bad day. Oke, oke, itu yang terjadi. Fokuskan dirimu, Agatha Miyu Kouzuki. “Omong-omong kemarin lo sakit, ‘kan? Sakit apa?” tanya Ira kembali menyelutuk, menarik kesadaran Miyu kembali ke dunia nyata. Miyu mengerjap cepat, tidak menoleh ke Ira. Fokus mendata ulang pesanan pelanggan. “Bukan apa-apa, kok. Cuma demam sama flu aja.” Ira manggut-manggut dengan gumaman panjang. “Bagus, deh. Gue kira serius banget penyakitnya sampe empat hari nggak masuk.” “Iya, syukur, deh,” sahut Miyu seadanya. Diam-diam menyembunyikan fakta besar yang dalam tiga bulan ke depan akan terungkap. TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN