Viola tampak cemas di hadapan Michella. Penantian kaki palsunya, membuatnya benar-benar gelisah bukan main. Panji yang sejak tadi duduk di sampingnya, langsung menggenggam tangannya hingga berhasil menarik tatapan Viola teralih ke arahnya. Panji berusaha menguatkan sang istri dengan tersenyum lebar, namun Viola hanya membalasnya dengan senyuman tipis seakan terpaksa dia lakukan. Viola kembali menundukkan kepala yang langsung memudarkan senyuman Panji. Viola memang selalu diam sejak tadi, bahkan sepanjang perjalanan dari Jogja sampai Jakarta Viola lebih memilih diam dari pada mengajaknya bercerita berbagai hal seperti biasa. Viola hanya sekedar menjawab pertanyaannya saja, tidak lebih. Bahkan jika Panji tidak melontarkan pertanyaan untuknya, Panji yakin dia

