“Jangan ngomong sembarangan, Laila!” hertak Bang Haris. Ibu memegang lengan anaknya. Menenangkan. Aku sendiri bersikap tak peduli. Acuh tak acuh. Kenapa mesti takut dengan mereka? Wong ini rumahku sendiri.
“Aku serius!” jawabku menatap mereka nyalang. Enak saja, mereka memberiku pilihan. Pilihan yang justru sangat merugikanku. Benar kata Siska, mereka berdua memang parasit!
“Ya sudah kalau itu emang maumu. Tapi kamu yang harus biayai perceraiannya!” Ibu menyela. Sudah kuduga, pasti Ibu tidak mau rugi.
“Gak masalah. Yang penting sekarang kalian keluar dari rumah ini!” ucapku tegas. Jari telunjuk menjuntai ke pintu luar. Mereka pikir aku akan mengemis untuk tidak ditinggalkan? Ah, no! Meskipun sekarang kedua orang tuaku telah tiada, tapi aku masih punya orang-orang yang peduli. Orang-orang yang sayang padaku dengan tulus.
“Oh gak bisa. Sebelum ketuk palu, kami masih berhak tinggal di sini.” Cih! Gak tau malu! Gerutuku.
“See ... ketauan kan sekarang, siapa yang lebih butuh? Ibu atau aku?”
“Kamu jangan kurang ajar, Laila!”
Kurang ajar? Mereka yang lebih dulu kurang ajar. Mau merebut semua hartaku. Ibu dan anak sebelas dua belas. Benar kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah Bang Haris, selain licik dia juga culas. Persis Ibunya.
Aku memutar bola mata malas.
Seumur hidup, baru kutemui orang macam Bang Haris dan Ibunya. Ingin kaya raya tapi tidak mau usaha! nauzubillahimindzalik.
Aku mendesah napas. Terpaksa mengizinkan mereka tetap tinggal di sini.
“Oke! Tapi ingat, setelah perceraian sah di mata agama dan hukum, kalian berdua harus angkat kaki dari rumahku!” ancamku kemudian.
Kulihat Ibu menyunggingkan senyum sinis. Pasti di pikirannya aku yang akan mereka depak. Untung saja segera mengetahui kebusukan dua makhluk parasit ini. Terima kasih ya Allah, alhamdulillah.
“Sudah, Har. Mending kita keluar dari kamar ini.
Mulai besok kamu tidur di kamar tamu, jangan kau sentuh lagi si Laila.” Aku geli mendengar saran Ibu.
“Idiiih ... siapa juga yang mau disentuh sama peselingkuh!”
“Laila!” Lagi-lagin Bang Haris membentakku. Sabar Laila ... sabar ... semua akan indah pada waktunya. Aku mencoba menghibur diri sendiri.
“Sudah, Nak. Sudah. Biarkan saja dia kayak gitu dulu. Lihat nanti, dia akan mengemis-ngemis di kaki kita. Ayok keluar!” Ibu sangat yakin kalau aku akan bersikap demikian.
Mengemis pada mereka? Yang ada juga mereka yang akan mengemis. Mengemis padaku atau bisa jadi mengemis di jalan-jalan.
Mungkin beda cerita kalau aku tidak segera mengetahui kelicikannya. Tapi misalnya aku jatuh miskin, tidak akan aku biarkan diri ini mengemis apalagi pada dua orang itu.
***
Selepas salat Magrib, berencana menemui Pak Jatmoko, pengacara pribadi. Selain minta tolong dibantu untuk melayangkan surat gugatan cerai, aku juga ingin konsultasi perihal harta dan aset-aset yang aku miliki.
Belum sampai di ambang pintu, Ibu menjegal.
“Laila, kalau mobil Ibu yang di bengkel belum beres, Ibu minta mobil baru,” pintanya tanpa tahu malu mengibaskan kipas di tangan. Aku tersenyum sinis. Kadang aku berpikir, apakah urat malu ibu sudah putus? Aiih ... seenak jidat minta ini-itu.
“Minta mobil baru? Mau ditabrakin lagi? Lagian Ibu udah tua gaya-gayaan pengen nyetir sendiri. Pake pecat Bang Sudin!” Bang Sudin sopir pribadi yang aku gaji buat antar Ibu mertua ke sana kemari. Kurang baik apalagi coba aku sebagai menantu? Tapi sayang, ibu tidak pernah sadar akan hal itu. Selalu memanfaatkan kebaikanku. Dan sekarang, mereka semakin melonjak.
“Kamu tuh makin ke sini makin kurang ajar ya? Lihat saja nanti, kamu rasakan akibatnya!”
Ibunya Bang Haris waras tidak sih? Sudah nyakitin hati aku terang-terangan, sudah tahu aku akan bercerai sama anaknya, masih saja minta ini itu, minta dibeliin mobil pula.
Kayaknya juga, ibu belum menyadari kalau uang dan surat-surat berharga yang mereka simpan sudah raib. Sudah berpindah tangan kepadaku. Buktinya sikap Ibu masih biasa-biasa saja. Kalau dia sudah tahu, aku yakin rumah ini akan gempar oleh keributan yang Ibu ciptakan.
“Eh, Laila! Malah bengong! Pokoknya besok harus ada!” katanya dengan nada menekan.
“Bodo amat! Minta sana sama Bang Haris! Emangnya Laila anak Ibu? Enak saja!” kataku berusaha menghindar dari ibu. Dasar Ibu mertua tidak tahu diri.
“Kamu masih mantu Ibu, Laila! Ibu butuh mobil! Sekalian sama sopirnya!” Aduuh ... permintaannya malah menambah lagi.
Astaghfirullah ... makin melonjak aja nih orang!
“Kalau Ibu gak mau minta sama Bang Haris, minta sama calon mantu Ibu yang baru!” usulku sengit. Muak dengan tingkah sok berkuasa Ibu. Aku pergi melenggang keluar. Tidak menghiraukan panggilan Ibu.
“Laila! Laila!”
Dari dalam mobil kulihat Ibu mengentakkan kakinya di depan rumah. Dia tampak sangat kesal.
***
Urusanku dengan Pak Jatmiko sudah selesai. Dia berjanji secepatnya mengurus perceraianku dengan Bang Haris. Jam di pergelangan sudah pukul sembilan malam. Sejak mengetahui kebusukan Bang Haris dan Ibunya, aku jadi malas pulang. Malas bertemu dan mendengar suara mereka. Ingin segera dua parasit itu keluar dari rumah.
Aku membelokkan mobil ke kanan, memasuki halaman kafe. Mampir sebentar. Sudah lama sekali tidak ke sini, mungkin dengan minum kopi Arabica pikiranku sedikit tenang.
Melangkah santai masuk. Duduk di bangku paling pojok. Suasana di kafe ini lumayan ramai pengunjung. Seorang laki-laki di atas panggung kecil mendendangkan sebuah lagu.
Menghempaskan b****g ke kursi, mengambil handphone di dalam tas, lalu menyimpan tas di atas meja.
Aku mengecek benda pipih itu, ada beberapa pesan, salah satunya Siska.
[Lu baik-baik aja?]
[Baik.]
Hanya pesan Siska yang aku balas. Yang lainnya besok saja. Itu urusan pekerjaan.
Apa aku suruh Siska ke sini aja ya? Ah tidak-tidak, dia pasti capek. Seharian ini udah nge-handle pekerjaanku.
“Mau pesan apa, Mbak?” Aku mendongak.
“Kopi Ara ....“ Kalimatku terputus melihat pelayan kafe tersebut
“Laila?” sapanya terkejut.
“Kamu jadi waiters di sini?” Aku bertanya tak kalah terkejutnya.
“Iya. Emang kenapa?” Pelayan itu menjawab dengan santai.
“Lah terus ngapain kirim lamaran di perusahaan aku?” Damar malah duduk di kursi. “Eh, sana kerja dulu! Nanti dipecat lho!” Damar cengengesan. Kebiasaan!
“Nyantai aja kali! Nih kafe punya temen aku. Kamu ngapain malem-malem keluyuran? Laki gak nyariin?” Dih apaan coba? Pakai menanyakan suamiku segala!
“Bukan urusanmu!” Aku memandang ke arah lain. Damar tampak tak suka mendengar jawabanku.
“Ya udah aku buatin kopi dulu deh!” Laki-laki yang katanya memiliki tinggi badan 178 cm itu meninggalkanku. Tahu Damar kerja di sini, mending aku batalin terima dia buat kerja di perusahaan. Bisa gak bener nanti kerjanya.