Benda apa itu? Kok seperti gulungan rambut? Kayaknya benar rambut. Kucoba menelisik benda persegi empat yang dibalut oleh helaian-helaian rambut yang sangat tebal.
“Bi, coba ambil yang itu,” perintahku, Bi Inah mengangguk. Mengambil benda persegi panjang tersebut.
Bi Inah dan Mang Karman meneliti. Mengorek benda apa sebenarnya di balik balutan rambut.
“Ini gepokan uang, Non!” seru Mang Karman. Gulungan rambut disingkirkan. Terpampang jelas setumpuk uang seratus ribu. Aku heran, kenapa uang sebanyak itu dililit dengan rambut sangat tebal?
“Kok dililit sama rambut? Buat apa?” tanyaku heran. Menatap suami istri yang berdiri di depanku bergantian. Sejenak kami diam.
“Bibi tau, Non,” celetuk Bi Inah. Memecah keheningan. Aku dan Mang Karman menatap Bi Inah saksama. Menunggu kelanjutan ucapannya.
“Katanya, kalau uang kita dililit dengan rambut. Tuyul, babi ngepet, atau sebangsanya gak bakalan bisa ngambil,” sontak, penjelasan Bi Inah membuatku ternganga tak percaya.
“Hah?” Aku terperanjat mendengar ungkapan Bi Inah. Begitu pun Mang Karman. Ibu mertuaku yang terlihat modern, masih percaya hal-hal yang berbau mistis? Aneh!
“Ibu kata siapa?” Mang Karman tak yakin. Bukan hanya Mang Karman, aku pun tak yakin..
“Ck, Bapak ini, gak percaya amat. Ibu pernah denger cerita dari Mbok Tarmi. Katanya, tuyul dan sejenisnya susah ngambil uang kalau dililit sama rambut. Begitu!” jelas Bi Inah. Aku mengembuskan napas. Masih tak habis pikir dengan alasan Ibu membelit uang gepokan dengan helaian rambut.
“Ya sudah, Bi. Ayok kita bawa semua ke kamar Laila. Takut keburu Ibu pulang. Mang Karman, tolong bantu dulu ya.”
Terhitung ada dua belas gepok uang yang dililit oleh rambut. Entah rambut siapa yang dipakai Ibu untuk melilit uang-uangnya. Kalau rambut Ibu sendiri kayaknya bukan. Aku tahu jenis rambut ibu.
Selain gepokan uang yang dililit rambut, ada juga tiga map. Map-map itu belum sempat aku baca, biar nanti saja di kamar.
Mang Karman menurunkan kasur, disusul Bi Inah merapikan tempat tidur Ibu seperti semula. Dan menyapu rambut yang berserakan.
“Kamarnya jangan lupa kunci lagi, Bi. Laila duluan ke kamar. Nanti Bibi nyusul, ya?”
“Iya, Non.”
***
Di dalam kamar, aku membaca surat satu persatu. Ada tiga surat. Dua surat kuasa pengalihan aset dari namaku menjadi nama Haris. Satunya lagi sertifikat rumah. Untungnya, sertifikat rumah masih atas namaku. Mereka belum sempat mengubahnya. Apa mungkin mereka berniat mengusirku dari rumah ini? Astaghfirullah ... jika memang itu yang terjadi, sungguh keji perbuatan Haris dan Ibunya. Tidak tahu terima kasih.
Sedangkan dua surat lainnya adalah surat kuasa. Surat kuasa yang pertama, pengalihan milik perkebunan. Yang kedua, pengalihan kepemilikan mobil yang sering aku gunakan.
Mereka benar-benar ingin menguasai hartaku.
“Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberi hamba petunjuk tentang siapa suami dan mertuaku sebenarnya.” Doaku penuh rasa syukur.
Bergegas kulangkahkan kaki ke ruangan kerja yang tersekat. Sengaja kamar yang luas ini aku bagi dua. Kamar pribadi dan ruang kerja. Biasanya ruangan itu aku gunakan untuk mengerjakan kerjaan yang belum selesai di kantor. Sebab, kalau aku kerjakan di kamar, dengkuran Bang Haris sangat mengganggu.
Aku langsung mengerjakan surat kuasa pemindah alihan kembali atas namaku. Setelah selesai mengetik, segera aku print, mengambil materai dan menempelkannya di atas nama Haris Prayoga, serta memalsukan tanda tangan Bang Haris. Untung saja sudah lama aku mempelajari tanda tangan Bang Haris.
Biarlah kupalsukan tanda tangannya, dia juga curang karena sudah menandatangani surat kuasa mobil tanpa sepengetahuan. Pasti Bang Haris menyonteknya.
Bi Inah masuk ke kamar. “Tolong Bi, lepasin lilitan rambutnya. Laila jijik,” ucapku bergidik.
Ada-ada saja Ibunya Bang Haris, uang segitu banyaknya bukan simpan di Bank malah di bawah kasur, dililit pula dengan rambut. Ceroboh!
Bi Inah melepaskan lilitan rambut menggunakan gunting. Supaya lebih cepat. Hampir lima belas menit, Bi Inah melakukannya. Aku hitung satu gepok uang bernilai 20 juta. Dan semuanya ada dua belas. Berarti totalnya 240 juta. Ibu mertuaku ceroboh sekali. Menyimpan uang segini banyaknya Cuma di bawah kasur.
Apa jangan-jangan uang ini yang sering aku transfer untuknya? Dia tarik uang itu di Bank lalu membawanya ke rumah?
Ah, sudahlah! Aku tak peduli. Lebih baik sekarang simpan dulu uangnya ke dalam brankas.
“Bi, makasih ya udah bantuin Laila,” ucapku pada Bi Inah, begitu selesai memasukkan uang ke dalam brankas.
“Iya, Non sama-sama.”
Dari luar terdengar deruman mobil. Aku melenggang ke jendela kamar. Memastikan mobil siapa yang datang. Rupanya Ibu dan Bang Haris. Aku tersenyum sinis, pasti Ibu sudah mengadu sama anaknya.
“Non, Bibi ke dapur dulu ya?” pamit Bi Inah takut. Aku mengangguk. Setengah berlari Bi Inah turun ke bawah.
“Lailaa! Laila!” teriak Bang Haris. Pintu kamarku yang terbuka membuat teriakan Bang Haris sangat terdengar. Namun, aku tetap bergeming. Menyandarkan tubuh ke jendela, memerhatikan taman depan rumah.
“Laila! Apa kamu tuli? Dipanggil suami bukannya nyahut!” Bang Haris menggertak, begitu tiba di depan pintu. Dia masuk lalu disusul Ibu mertua.
Aku menunjukkan raut wajah santai.
“Bang, ini rumah, bukan hutan! Gak perlulah Abang teriak-teriak gitu.” Bang Haris tampak geram. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal.
Kulirik Ibu mertua, Kedua matanya sembab. Dia pasti habis menangis.
“Laila! Apa benar kamu nuduh Ibu pencuri? Nuduh Ibu nyuri uang kamu!” Aku menghela napas. Mengalihkan pandangan ke luar jendela.
“Kalau orang yang diam-diam ke dalam kamar, terus kepergok ngambil uang, itu namanya apa?” sindirku sembari menatap Ibu sekilas.
“Jangan ngarang! Mana mungkin Ibu ngambil uang kamu! Ibu bilang, dia ke kamar ini buat bersih-bersih!”
Aku mencebik. “Ya udah kalau gak percaya.”
Bang Haris makin kesal melihatku tampak santai.
“Kalau emang Ibu mencuri, mana buktinya? Mana uang kamu yang diambil Ibu!”
Aku mengembuskan napas panjang. Melenggang tenang mendekati Bang Haris dan Ibunya.
“Bang, Laila gak peduli Abang lebih percaya siapa. Kalau Abang mau nikah lagi, ceraikan Laila dulu!” kataku mengalihkan pembahasan. Percuma kalau membahas tentang Ibu mencuri uang. Sampai kiamat dia pasti berkelit.
Bang Haris melotot
“Siapa yang mau nikah lagi? Abang cuma pengen punya anak!”
“Halaah ... Aaasan!” Aku mencebik. Muak melihat wajah mereka berdua. Rasanya kesabaranku sudah diambang batas.
Tidak tahu diri! Sudah dikasih menumpang hidup, dikasih makan, tapi diam-diam mereka mau membuatku jatuh miskin.
“Aku akan memutuskan pilihan yang ibu ajukan tempo hari,” ujarku setenang mungkin.
“Lho, katanya mau nunggu proyek iklan kamu tayang?” Ibu protes. Aku memutar bola mata malas.
“Bukannya ibu pengen aku cepet memilih?” tanyaku menatap tajam wanita yang tak henti mengipaskan kipas ke wajahnya.
“I-iya sih,” jawabnya gugup. Aku menyilangkan tangan ke depan d**a. Melangkah lebih dekat dengan mereka.
“Ya sudah. Kalau gitu aku akan pilih sekarang.” Aku menjeda kalimat. Memandang wajah Bang Haris dan Ibunya bergantian.
“Pasti kamu pilih dipoligami kan? Kamu kan sekarang sendirian, gak mungkinlah mau kehilangan Ibu dan Haris.” Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah pongah Ibu. Percaya diri sekali wanita tua ini.
“Hahaha ... Ibu salah! Aku tidak butuh kalian. Justru selama ini, kalian yang butuh aku! Kalian yang butuh tempat tinggal dan uang dari aku! Makanya, aku lebih memilih dicerai dari pada di poligami!”