Terik matahari begitu menyengat siang hari di kota Jakarta, uap panas baik dari udara maupun emosi orang-orang yang begitu sibuk di hari Senin itu begitu terasa. Begitu juga dengan Bening yang sibuk kilir mudik berkali-kali ke dalam ruangan Fahreza. Hari itu mood Fahreza sepertinya sedang buruk karena apa saja yang sudah dikerjakan oleh Bening selalu ada revisi. “Revisi lagi Mbak?” tanya Sari tidak percaya melihat Bening yang baru saja kembali ke tempat duduknya dengan map di tangannya. “Iya, padahal aku sudah membuat rancangan anggaran biayanya sudah sebaik mungkin dan sama seperti biasa,” jawab Bening yang sedikit sebal. “Sudah selesaikan saja. Turuti maunya apa, jadi nanti habis Magrib bisa datang ke acara nikahan Angga,” ujar Ibu Dian yang di dalam ucapannya terdapat kalimat menging

