bc

Bosku, Roomate-Ku

book_age18+
85
IKUTI
1K
BACA
HE
drama
sweet
kicking
bold
city
assistant
like
intro-logo
Uraian

sasa migrasi luar kota dengan uang pas-pasan mencari tempat penginapan hingga akhirnya mendapatkan sebuah Namun ternyata ketika datang seseorang sudah mengklaim dulu rumah itu. Akhirnya mereka berdua tinggal se atap setelah pemilik rumah menyatakan ada kesalahan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Eps. 1 Tarif Sewa Miring
Orin Daniella melangkah keluar dari gedung perkantoran yang megah, selembar kertas penerimaan kerja erat tergenggam di tangannya. Dadanya masih berdebar-debar, campuran antara euforia dan kelegaan yang luar biasa. “Aku diterima,” lirihnya pada dirinya sendiri, seolah masih tak percaya. Di agensi periklanan ternama itu, impiannya untuk menjadi desainer grafis akhirnya dimulai. Tas selempang di bahunya terasa lebih ringan, meski berisi portofolio dan laptop tua yang setia menemaninya bertahun-tahun. Dia menengadah ke langit. Awan kelabu bergulung-gulung, menahan beban hujan yang rasanya sebentar lagi akan tumpah. Udara lembap dan hangat mengelilinginya. Tanpa buang waktu, gadis berusia 25 tahun itu mempercepat langkahnya. Halte bus di seberang jalan adalah tujuannya, tempat berteduh sekaligus titik awal perjalanan pulang. Deru kendaraan dan hiruk-pikuk kota Jakarta tiba-tiba terasa seperti simfoni kemenangan kecilnya. Sesampainya di bawah naungan halte, dia menarik napas panjang. Senyum lepas akhirnya merekah. Dari dalam tas, dia mengeluarkan ponsel dan memotret kertas penerimaan itu, ingin segera membagikan kabar baiknya pada keluarganya di Bandung sana. Tetesan hujan pertama mulai jatuh, membasuh aspal dan atap halte dengan suara rintik-rintik yang menenangkan. Orin bersandar, memandang rintik hujan yang makin deras. Di balik kelabu langit, dia melihat secercah harapan baru. Hari ini, langkah pertamanya sebagai desainer grafis profesional telah diambil. Dan apapun yang menanti di balik pintu kantor itu esok hari, setidaknya hari ini, hujan turun membasuh segala keraguannya. Duduk di bangku halte yang mulai basah oleh percikan hujan, euforia Orin perlahan berganti dengan kekhawatiran yang lebih nyata. Gaji pertama sebagai desainer grafis junior yang tadi disebutkan pewawancara ternyata tidak sebesar bayangannya. Jika dipotong biaya hidup, transportasi, dan kebutuhan dasar, hampir tak mungkin bisa menyewa apartemen sendiri di pusat kota. “Harus dapat tempat tinggal yang terjangkau, saat ini juga,” gumamnya pada diri sendiri, rasa lega tadi sedikit tercemar oleh kecemasan. Dengan sigap, ia mengeluarkan ponselnya lagi. Hujan yang masih deras di luar membuatnya memutuskan untuk memanfaatkan waktu dengan mencari hunian secara online. Sebagai pendatang yang tak punya sanak saudara di kota besar ini, hanya teknologi dan ketekunannya yang bisa diandalkan. Jari-jarinya gesit membuka satu per satu grup pace book sewa-kamar dan situs properti. Namun, setiap guliran layar justru membuatnya semakin ciut. Tarif sewa apartemen kecil saja sudah menghabiskan lebih dari 60% perkiraan gajinya. Mendesah putus asa, ia hampir menyerah ketika teringat ada aplikasi persewaan khusus hunian bulanan yang pernah ia dengar. Segera ia mengunduh dan memasangnya. Di beranda aplikasi itu dipenuhi berbagai pilihan, dari kamar kos hingga apartemen kecil. Matanya menyaring satu per satu, menghitung ulang budget dengan cermat. Lalu, hampir tidak percaya, ia menemukannya, sebuah apartemen kecil dua kamar di lokasi strategis, dekat dengan kantor barunya. Yang membuatnya tersentak adalah angka sewanya hampir 40% lebih murah dari pasaran! Pemiliknya hanya menyebut diri "Pak Van" dengan foto profil siluet gelap. Tanpa pikir panjang, jarinya menekan tombol "Simpan Kontak". Sebuah harapan kecil kembali menyala. “Pak Van... aku harus menghubungimu,” bisiknya, senyum tipis kembali merekah sementara hujan di luar mulai reda menjadi gerimis. Mungkin, hari ini benar-benar hari keberuntungannya. Setelah menekan tombol panggilan, jantung Orin berdegup kencang. Ia tidak menyangka respons dari nomor itu akan begitu cepat. Suara yang terdengar di telepon terdengar berat, mengantuk, namun ramah, sangat berbeda dengan bayangan pemilik apartemen yang mungkin sombong. “Halo, Pak Van? Saya lihat iklan apartemennya di aplikasi. Apakah masih tersedia?” tanya Orin mencoba terdengar profesional. “Oh, iya. Masih kosong. Kamu serius mau lihat?” Suara itu merespons dengan santai, hampir seperti baru bangun tidur. “Sangat serius, Pak. Saya butuh tempat secepat mungkin,” jawab Orin meyakinkan. “Kebetulan lagi di rumah aja. Kalau mau, bisa langsung datang sekarang. Alamatnya sudah ada di aplikasi kan?” Orin melirik ke luar. Hujan masih mengguyur, tetapi niatnya sudah bulat. “Baik, Pak. Saya akan ke sana setelah hujan sedikit reda. Mungkin sekitar setengah jam lagi. Mohon ditunggu.” “Oke, nggak apa-apa. Jangan lupa bawa payung,” sahut suara itu dengan nada hampir seperti bercanda, sebelum panggilan berakhir. Orin menatap layar ponselnya, perasaan campur aduk antara harap dan was-was. Suara “Pak Van” terdengar sederhana, tidak neko-neko. Tapi di balik itu, ada sedikit keraguan, kenapa ini terlalu mudah? Namun, kebutuhan akan tempat tinggal yang terjangkau dan dekat kantor mengalahkan segala keraguan itu. Ia menghela napas, mengumpulkan keberanian. Saat rintik hujan mulai menipis, Orin melangkah keluar dari halte, menuju sebuah apartemen yang mungkin akan mengubah hidupnya lebih dari yang ia duga. * Orin berdiri di depan pintu apartemen dengan payung masih meneteskan air hujan. Jantungnya berdegup tidak karuan saat jarinya menekan bel. Beberapa detik yang terasa lama, lalu pintu terbuka. Seorang pria muncul dengan penampilan yang sama sekali tidak ia duga. "Van" jika memang itu namanya, berdiri dengan rambut cokelat acak-acakan seperti baru bangun tidur, mengenakan piyama bergaris-garis abu-abu yang sudah lusuh di bagian siku, dan kaos oblong putih yang tipis. Matanya setengah mengantuk, tapi ada senyum kecil yang ramah di sudut bibirnya. Tidak ada kesan sombong atau seperti tuan rumah kaya raya, hanya seorang pria biasa yang terlihat sangat… nyaman. “Saya yang tadi telepon, Pak Van,” ucap Orin ragu-ragu. “Orin?” Pria itu melontarkan namanya dengan santai. “Ya, benar.” “Silakan masuk. Lihat-lihat dulu saja.” Begitu melangkah masuk, Orin disambut oleh ruangan yang membuatnya sedikit terkesiap. Apartemen itu jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Lantai kayu terawat, dinding putih bersih dengan beberapa lukisan abstrak sederhana, dan cahaya lampu hangat menerangi ruang tamu yang minimalis namun elegan. Ada rak buku penuh dengan no-vel dan buku seni, serta peralatan sound system yang terlihat mahal di sudut ruangan. Balkon kecil menghadap pemandangan kota yang mulai disinari matahari pasca hujan. Tapi justru inilah yang membuatnya curiga. Tempat seperti ini, di lokasi strategis, dengan interior terawat, harganya seharusnya tiga kali lipat dari yang tercantum di iklan. Perutnya berasa ada yang mengganjal. Kenapa pemiliknya menyewanya semurah itu? Apakah ada sesuatu yang tidak beres? Atau… mungkin ini benar-benar keberuntungan besar yang ia dapatkan di hari yang sudah penuh kejutan? “Tapi… kenapa semurah ini?” tanya Orin ragu. Van tersenyum samar. “Aku hanya butuh suasana baru, bukan uang.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.9K
bc

Too Late for Regret

read
352.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
149.6K
bc

The Lost Pack

read
464.1K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook