bc

Istri Rahasia Sang Duda

book_age18+
14
IKUTI
1K
BACA
billionaire
HE
age gap
friends to lovers
arranged marriage
decisive
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

Abigail hanya ingin mengakhiri rentetan nasib sialnya dengan sebuah pekerjaan. Setelah dua tahun berkorban merawat nenek hingga wafat, hidupnya hancur, tabungan ludes, dijauhi keluarga, dan masa depan suram.

.

Ketika dia akhirnya berhasil melewati serangkaian tes ketat di sebuah perusahaan, harapannya hanya satu: diterima sebagai karyawan.

.

Namun, takdir menjungkirbalikkan segalanya.

.

Di ruang wawancara terakhir, yang menunggunya bukanlah HRD, melainkan Damian Callahan, sang pemilik perusahaan.

Seorang duda tampan dengan tiga anak yang menyimpan luka. Alih-alih tawaran kerja, pria itu menyodorkan lamaran yang mengguncang: menjadi istrinya.

.

Damian tidak butuh cinta. Dia butuh seorang istri sah yang bisa menjadi ibu bagi putri bungsunya yang pendiam, dan pengatur rumah tangganya.

Sebagai gantinya, Abby akan mendapatkan kehidupan mewah dan semua yang tak pernah ia miliki.

.

Terjebak antara keputusasaan dan godaan hidup yang stabil, Abby gamang. Apalagi ketika Damian dengan blak-blakan menyatakan, pernikahan ini tidak akan kosong dari kewajiban di ranjang.

.

Ditambah satu syarat mutlak, pernikahan mereka harus dirahasiakan dari semua orang, terutama dari anak-anaknya.

Abby harus memilih, tetap bertahan dalam kemiskinan yang ia benci, atau menerima tawaran pria misterius ini, dengan segudang konsekuensi dan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya?

.

Sebuah pernikahan kontrak dimulai. Sebuah rahasia besar mengintai. Dan hati yang tak seharusnya terlibat, mulai berdetak tak karuan.

~

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Layar komputer memancarkan cahaya putih yang menyilaukan, memantulkan wajah lelah Abby. Jari-jemarinya menari dengan cepat di atas keyboard, mengetik laporan akhir yang harus dikirim sebelum tenggat waktu. Di sebelahnya, ponsel berdering, suaranya mengiris kesunyian ruang kerjanya. Abby hanya melirik sebentar, sebuah nama ‘Tante Desi’ berkedip, sebelum kembali fokus pada layar. Nanti saja, pikirnya, menunda dunia di luar dokumen-dokumen itu. Barulah setelah makan siang, saat secangkir kopi dingin dan sandwich separuh dimakan menjadi saksi, ia punya waktu untuk bernapas. Ia meraih ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab dari Tante Desi. Istri dari adik ayahnya. Mereka jarang berkomunikasi, biasanya hanya saat ada keperluan keluarga besar. Ada rasa sesak di dadanya, namun Abby tetap menekan tombol panggilan balik. Belum sempat ia menyapa, suara dari seberang sudah menerjang. "Akhirnya angkat telepon juga! Susah banget sih, dihubungi?!" "Maaf, Tante. Tadi sedang ada deadline," jawab Abby, berusaha tenang. "Kamu pikir cuma kamu yang kerja? Semua orang sibuk!" "Ada yang bisa saya bantu, Tante?" tanya Abby masih berusaha tenang ditengah suara tantenya yang berisi kemarahan. "Kamu harus ke sini. Sekarang juga. Ini penting!" "Bisa tidak kita bicara lewat telepon dulu? Saya masih—" "Ini tentang Nenekmu, Abby." Suara Tante Desi menjadi rendah, mengandung suatu ancaman yang samar. "Kamu perlu lihat sendiri." Garis di antara alis Abby semakin dalam. "Baik, Tante. Saya akan usahakan ke sana sepulang dari kantor." Sore itu, setelah menyelesaikan laporannya dengan tergesa, Abby segera menuju ke sebuah rumah di kawasan yang dulu sering dikunjunginya. Udara terasa berat bahkan sebelum ia melangkah masuk. Di ruang tamu, beberapa pasang mata langsung menancap padanya saat pintu terbuka. Om, Tante, dan beberapa saudara ayahnya yang lain sudah duduk rapi, seperti sebuah panel hakim yang tengah menunggu terdakwa. "Nah, si Abby datang juga akhirnya," sapa seorang bibinya yang tertua, Yulinar dengan nada datar. Matanya menyapu Abby dari ujung kepala hingga kaki. "Duduklah sini, By." Abby patuh, tubuhnya terasa kaku di atas sofa yang keras. Telapak tangannya sedikit lembap. "Kami sudah berkumpul dan berdiskusi," ucap Om Irwan memulai, suaranya penuh wibawa yang dipaksakan. "Mengenai Nenekmu. Keadaannya semakin menurun. Butuh perawatan penuh." Abby mengangguk pelan, hatinya mulai berdebar tidak karuan. "Kami semua di sini," lanjut Om Irwan, tangannya menunjukkan sekeliling ruangan, "memiliki tanggung jawab masing-masing. Ada yang sudah punya keluarga, ada yang tinggal jauh." Lalu, pandangannya tajam tertuju pada Abby. "Kamu yang dulu dibesarkan Nenek. Seharusnya kamu yang paling paham bagaimana cara merawatnya." "Maksud Om, Nenek akan tinggal dengan saya?" tanya Abby, berusaha menahan suaranya agar tidak gemetar. "Tepat sekali." "Tapi, saya tinggal di kos, Om. Tempatnya sangat kecil, tidak mungkin—" "Ya sudah, tinggalkan kosmu itu!" potong Tante Desi, suaranya melengking seperti paku yang dicabut. "Kamu pindah saja ke rumah Nenek. Lagipula, itu kan rumah orang tuamu juga dulu. Kamu pernah kan tinggal di sana juga." "Ingat, Abby, kamu dulu yang dirawat Nenek saat ibumu kabur, sudah seharusnya kamu membalas budi!" Kakak ayahnya ikut menimpali. Abby terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara pengap ruangan, berat dan tak terbantahkan. Sekumpulan wajah di depannya hanya memandangnya dengan ekspektasi dingin, seolah keputusan itu adalah batu nisan yang sudah dipahat untuknya sejak lama. "Baik, Om, Tante." Keesokan harinya, sebuah mobil sedan warna kusam berhenti di depan rumah kayu yang catnya sudah memudar. Om Irwan, dengan langkah berat, membantu Nenek turun. Tubuh renta Nenek terlihat semakin kecil di bawah sorot matahari pagi. Abby berdiri di teras, tangan meremas bingkai pintu. Rumah masa kecilnya ini terasa asing sekaligus menyimpan ribuan kenangan. Pikirannya langsung melayang ke kantornya di pusat kota—perjalanan empat jam pulang-pergi setiap hari. Dadanya sesak memikirkan tumpukan pekerjaan dan deadline yang pasti akan terbengkalai. "Nenek akhir-akhir ini sering drop, By," ujar Om Irwan sambil menurunkan sebuah koper kecil, satu-satunya barang bawaan Nenek. Suaranya datar, lebih seperti membaca laporan. "Kami sudah bolak-balik rumah sakit. Kantong kami juga sudah kempes. Sekarang, ya, waktunya kamu yang menjalankan kewajiban." Abby hanya bisa mengangguk. Kata-kata itu terasa seperti batu yang ditumpuk di pundaknya. "Kalau ada keadaan darurat, telepon saja. Tante Yuli dan Om pasti bantu," tambahnya, menepuk-nepuk bahu Abby sebentar sebelum masuk kembali ke mobil. Janji itu menguap bagai asap. Tiga bulan kemudian, saat Nenek demam tinggi dan kejang-kejang, Abby menelepon Om Irwan dan Tante Yuli bergantian. Deringan telepon yang tak pernah diangkat menjadi soundtrack kepanikannya. Di kantor, surat peringatan sudah menumpuk di mejanya. Wajah atasan HRD setiap kali memanggilnya semakin kehilangan kesabaran. "Ini tidak bisa terus menerus, Abby. Perusahaan butuh konsistensi." Hingga suatu sore, dengan mata berkaca-kaca dan tangan gemetar, ia menandatangani surat pengunduran dirinya. Sisa tabungannya, uang yang seharusnya untuk membeli laptop baru atau liburan sederhana, pelan-pelan mencair, untuk obat, untuk dokter, untuk s**u formula khusus, untuk listrik yang nyaris diputus. Beberapa lowongan kerja di sekitar rumah ia coba. Satu wawancara di toko kelontong menawarkan gaji di bawah UMR dengan jam kerja dua belas jam. Ia menunduk, berkata, "Saya pertimbangkan dulu" lalu pulang dengan langkah lunglai. Pekerjaan itu akhirnya ia tolak. Kesehatan Nenek adalah prioritas satu-satunya yang masih bisa ia pegang. Satu tahun berlalu. Sebuah kalender tua di dapur masih terbuka di bulan yang salah. Tabungannya benar-benar kosong. Dalam keputusasaan, ia sekali lagi menelepon Om Irwan. Suara Tante Desi yang melengking langsung memotong permohonannya, "Kami sudah bayar ini-itu waktu itu, Abby! Jangan serakah! Sekarang kan urusanmu!" Ponsel itu jatuh dari genggamannya. Ia memandang Nenek yang tertidur lelap di sofa, napasnya tersedu-sedu dalam keheningan ruangan yang semakin usang. Kemudian, seperti cahaya di lorong yang sangat gelap, telepon dari Erica, sahabatnya, datang menyambarnya. "Aku ada proyek kecil-kecilan, By. Butuh admin yang urusin email dan data, kamu hanya cukup kerja dari rumah. Gajinya nggak besar, tapi … cukup untuk napas." "Aku ambil," jawab Abby secepatnya, suaranya serak oleh harapan dan kelegaan yang tiba-tiba. Jari-jarinya menggenggam erat ponsel itu, seolah takut tawaran itu akan menghilang jika ia lengah. *** Malam itu, di ruang kelas tiga rumah sakit yang sunyi, hanya terdengar suara desis oksigen dan detak monitor dari tempat tidur lain. Abby duduk di kursi plastik keras di samping ranjang neneknya, yang sudah menghabiskan satu pekan di sini. Tubuh nenek terlihat semakin kecil di antara selimut rumah sakit yang kusut. Abby sengaja tidak mengangkat telepon untuk menelepon siapa pun di keluarga besar itu. Setiap kali ingatan akan suara ketus mereka menyelinap, dadanya langsung sesak, lebih menyakitkan daripada kelelahan jaga semalaman. Dia memilih menanggungnya sendiri. Setelah menyuapi neneknya beberapa sendok bubur dengan sabar, Abby membersihkan sudut-sudut bibirnya yang kering dengan hati-hati. Ia lalu merapikan selimut, melipat ujungnya dengan teliti. Saat ia bersiap berdiri, sebuah sentuhan ringan dan gemetar menghentikannya. Tangan neneknya, kulitnya seperti kertas tipis yang dihiasi peta keriput, meraih dan menutupi tangan Abby. Cengkeramannya lemah tapi terasa hangat. "Nenek butuh apa?" bisik Abby, mendekatkan wajahnya. Wajah neneknya, yang biasanya menyiratkan kesakitan, tiba-tiba terlihat jernih dan tenang. Sebuah senyuman tipis, seperti sinar bulan temaram, muncul di bibirnya. "Terima kasih, sayang … sudah mau merawat nenek." "Ini memang tugasku, Nek." Ucapan Abby tersendat, tenggorokannya terasa sempit. Tangan keriput itu tak juga melepaskan genggamannya. "Tuhan … pasti akan membalas semua kebaikan hati kamu." Abby hanya bisa mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Nenek minta … kamu diberikan kehidupan yang layak. Yang pantas." Nafas neneknya terdengar berat di antara kata-kata, namun tekad dalam suaranya jelas. "Kalau nanti ada kesempatan datang … jangan kamu sia-siakan. Tangkap, Abby. Untuk dirimu sendiri." "Terima kasih, Nek," gumam Abby, suaranya bergetar halus. Ia membalikkan tangannya sehingga sekarang dialah yang menggenggam tangan neneknya. "Sekarang istirahat dulu, ya. Sudah malam." Neneknya mengangguk pelan, senyuman itu masih tersisa, sebelum kelopak matanya yang tipis terkatup perlahan. Abby tetap duduk, memperhatikan naik turunnya selimut yang lemah sesuai tarikan napas neneknya, hingga akhirnya ia sendiri tertidur di kursi yang tidak nyaman itu. ~ Fajar menyingsing, menyiram cahaya pucat melalui jendela kaca ruangan. Abby terbangun karena kaku di lehernya. Ia langsung melihat ke arah ranjang. Neneknya masih terbaring dalam posisi yang sama, tampak tenang. Tapi ada keheningan yang berbeda. Tidak ada desahan napas yang terdengar. Tidak ada gerakan sekecil apa pun di bawah selimut. Abby bangkit, mendekat dengan langkah pelan. Matanya menatap wajah neneknya yang damai, lalu turun ke d**a yang tak lagi bergerak. Dunia di sekelilingnya seakan menghilang, bersama dengan suara mesin dan aktivitas rumah sakit. Tidak ada teriakan, tidak ada lari panik mencari dokter. Hanya ada dirinya, dan keheningan yang sangat besar. Dia meraih tangan neneknya yang sudah dingin. Air mata mengalir deras di pipinya tanpa suara. Dalam hening yang memilukan itu, yang tersisa hanyalah satu kesadaran: penderitaan neneknya telah berakhir. Dan meskipun kelegaan itu hadir, ia tenggelam dalam lautan kesedihan yang sunyi, ditinggal oleh satu-satunya orang yang sangat menyayanginya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook