Dea pov Badanku terasa pegal. Ku renggangkan otot-otot tubuhku saat keluar dari pesawat. Aku berjalan di belakang kak alex. Di batam masih pagi sekali. Dan cuacanya juga dingin, kurapatkan jaket buatan yang dulu Abby buat untukku dari sisa baju-bajunya yang sudah tak muat lagi. Lucu memang, warna jaketnya juga sangat feminim dan kekanakan. Pak Joan dan Kak Alex menunggu barang kami dengan trolly. Kania menelfon orang tuanya. Aku celingak-celinguk ke pintu kaca otomatis yang membatasi dengan area luar. Sosok adik mungilku itu tidak terlihat. Sebuah tangan melambai dengan kalung burung hantu di tangannya. Meski tak melihat wajahnya aku tau itu siapa. Dengan semangat aku mendekatinya. "ABBY!!!!" Tubuh mungil itu terkejut saat aku memeluknya erat. "Ih kakak nih!" Keluhannya tapi dia memelu

