BAB 7

805 Kata
Kejadian di bioskop tadi membuatku enggan berbicara. Bisa-bisanya bos gila itu mengambil kesempatan menciumku di ruang bioskop yang gelap itu. Bosku itu bersikap biasa-biasa saja saat film selesai. Adik tengilku semenjak tadi sibuk menggodaku, membuatku malu sendiri. Waktu masih menunjukkan pukul 4. Aku dan adikku sedang melihat-lihat aksesoris di sebuah toko. Sedangkan pak joan, masih setia mengekoriku. Agak risih. "Bapak kenapa masih ngikut kami? Balik aja lagi ke restoran" kataku jengkel. "Entar diomeli lagi" jawabnya singkat. "Engga papa kali, kak. Gengsi amat sama pacar sendiri. Dia kan mau jagain kakak" goda adikku. "Diam kamu" dia tampak acuh dengan pelototanku. Kuabaikan saja bosku itu. Aku melihat-melihat deretan kalung-kalung. Kalung berbentuk hati, menjadi pilihanku. Kalungnya bisa dibuka. Ada tempat foto dan cermin di dua sisi dalamnya. Saat akan membayar di kasir. Kulirik bosku yang sedang mengambil kalung sepertiku. Hanya saja bentuknya lonjong. Untuk gebetannya kali. "Udah selesai? Masih ada yang mau di beli lagi?" Tanya bosku pada kami saat di sudah selesai membayar kalungnya. "Masih, Abby mau beli baju" ucap adikku. Yang kuiyakan. "Iyah. Aku juga mau beli baju kerja" "Yasudah kalau gitu, kutemani" jawab bosku itu santai. Karna capek nanggepin, kuiyakan saja. Sudah 2 jam aku masih memilih-milih pakaian kerja. Sebenarnya sudah banyak kupilih. Tapi bos gila itu melarangku memakainya untuk kerja. Dan bodohnya aku turuti. "Ishhh... bapak bawel banget sih. Kan yang make baju saya, bukan bapak" kesalku. "Tapi setiap pakaian yang kamu pilih. Pendek-pendek semua. Ga risih yah?" "Engga. Di new york kan udah biasa pakai pendek-pendek" ketusku. "Kalau saya bilang tidak ya tidak. Ngerti engga sih? Ikuti perintah bos ga bisa apa?" Bentaknya setengah keras, terpancing emosinya. Menyadari bentakannya membuat beberapa pengunjung yang tak jauh, dia mulai tenang. Kulirik sekilas adikku. Dia tampak terkejut, matanya sampai melotot gitu, alay kali... "yang ini saja" bosku itu menyodorkan pantsuit hitam padaku. "Engga mau. Kayak ibu..." ku bungkam mulutku saat dia melototiku. Ngeri juga ni bos. Dengan kesal ku ambil saja. Dan membayar ke kasir yang sedang sepi. Adikku juga telah selesai membayar. Setelahnya, kami pergi ke restoran yang sudah di janjikan. Ibuku dan ibu pak joan sudah duduk manis di restoran. Aku duduk di samping Abby, Pak Joan duduk di samping ayahnya. "Kok jauhan sih duduknya?" Tanya ibuku. "Engg..." "Lagi berantem mah..." potong adikku. Huh... adik sialan. Biarin deh. Ga penting juga. Emang dia siapa? "Berantem kenapa?" Tanyanya lagi. "Itu, tadi pas beli baju kerja, pakaian kerja yang di pilih kak Dea pendek-pendek semua. Terus di omelin deh sama Kak Joan. Kak dea balik ngomelin. Terus kak Joan...Aaaww. sakit kakk" kupijak kakinya keras-keras. Kalau dia bilang bosku itu ngebentak aku. Matilah. Pasti ni orang tua pada marahin pak joan. Terus bosku itu nyalahin aku. Nah terus aku kan di pecat... "Engga papa kok, mah. Biasa lah, namanya juga pacaran. Pasti ada aja di ributin." Jawabku. Ibuku hanya ber'o' ria. Pesanan makanan kami telah datang. Lalu kami melahapnya. Ayahku, dan pak joan, beserta ayahnya, tengah sibuk membicarakan bisnis sambil makan. Sedangkan para ibu, yah menggosip kali. Adikku, abby. Sibuk dengan handphone baru canggihnya. Yah karena telah naik kelas dengan nilai terbaik. Heran padahal dia yah... malas belajar. Mungkin dia nyontek kali? Sesekali adikku tertawa kecil saat menatap layar hpnya. Lalu mulai mengetik. Penasaran, kurebut hpnya. "Chat-an ama siapa si?" Gumamku. Adikku merengek meminta di kembalikan hpnya. "Ishhh... kak dea.. siniin hp abby" rengeknya. Berusaha menjangkau hpnya yang ku pegang. "Ishhh... mahh... abby ngechat cowok. Pake sayang-sayang lagi" aduku. Ibuku menatap abby kaget. "Abby! Kamu pacaran?" Tanya ibuku. Abby. Menunduk ketakutan. Duh, kasian juga nih bocah. Pulang dari mall. Abby terus diomeli ibuku. Di balas senyuman kecut olehnya. Mama melarang Abby pacaran sebelum dia lulus SMA. Agar fokus belajar. Peraturan itu dulu juga kena padaku dan Lilian, kakakku. Meskipun begitu, adikku adalah anak kesayangan di keluarga ini. Aku tak pernah sedikit pun cemburu padanya. Justru aku sangat menyayanginya, meskipun kadang tingkahnya seperti setan. Hmm.... sedikit cerita pemirsah. Dulu adikku saat baru lahir paru-parunya tak berfungsi dengan baik. Ibuku sangat khawatir dengannya. 3 bulan di bawah perawatan dokter, keajaiban belum datang. Malamnya, adikku detak jantungnya berhenti. Ibuku berteriak histeris. Selang 5 menit, jantungnya berdetak, normal. Paru-paru nya sudah sembuh. Semenjak itu kami semua jadi takut kehilangannya lagi. Takut kalau paru-parunya ga berfungsi lagi. Meski waktu itu aku masih kecil. Aku masih ingat dengan baik kejadian itu. Kasihan ibuku kalau itu terjadi. Huh... "Kamu engga boleh kayak gitu. Kasihan adikmu." ucap bosku saat kami baru masuk di kamar hotel. "Iya, iseng aja."Kkuhempaskan tubuhku ke sofa. Pak Joan langsung beranjak tidur tanpa mengganti baju, masih pake sepatu malah. "Keliatan banget bocahnya." gumamku pelan. Ku lepas sepatu dan kaus kakinya. Lalu ku lepas jam tangannya. Dan menyelimutinya. Ironis, aku bagaikan istrinya. Ku perhatikan wajahnya yang tertidur. Saat tidur dia terlihat tampan dan manis. Kalau bangun... ah mimpi buruk deh. Aku terpaku pada bibirnya. Bibirnya masih berwarna pink. Dia bukan pria perokok, batinku. Tanpa sadar aku mendekat pada wajahnya. CUP. Cukup lama aku mengecupnya. Bibirnya lembut. "Yang tadi belum puas ya?" Mata ku terbelalak. Gila dia belum tidur. Oke aku malu. Bodohnya. Kutarik wajahku. Bosku itu menyerigaiku. Arghhh sial... Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN