UGHHH... SIAL
Bagaimana bisa orang tuaku disini?
Jadi pria yang akan dijodohkan denganku itu Pak Joan? Arghhh. Yang benar saja?
Demi apa punya suami seperi Pak Joan? Astaga!
Kini aku sedang menikmati makan siang di kediaman Anderson. Beserta keluargaku tentunya. Ibu Pak joan tak henti-hentinya mengembangkan senyuman. Pak Joan sejak tadi diam di sampingku. Memasangkan wajah datarnya.
"Jadi, di Batam kalian menginap dimana?" Tanya Om Andra, Ayah Pak Joan.
"Di hotel kita, Pa. Biar lebih gampang pas peresmian nanti." Ucap Pak Joan, kembali menyuap makanannya.
"Lalu? Kamarnya? Kalian tidak sekamar 'kan?"
"Sekamar. Pak Joan bilang, agar tidak bolak balik. Padahal modusnya saja, buktinya tadi pagi peluk-peluk." ujarku polos, tanpa sadar. "AWWW!!! Sakit, Loh!" Ringisku saat aku menerima pijakan di kakiku dari Pak Joan. Pak Joan melototiku.
"Jadi kalian sekamar? Seranjang?" Tanya Tante Clara. Pak Joan mengangguk kaku.
"Sebaiknya kalian segera bertunangan." Ucap Papaku tegas. Semua yang di meja mengangguk ria. Setuju akan saran Papaku.
"Mmm... maaf, Om. Tapi kami baru menjalin hubungan baru 3 bulan. Apa tidak terlalu cepat?" Ucap atasanku gugup.
"Tidak masalah. Jika kamu serius pada putri saya. Pasti kamu tidak akan keberatan, bukan?" Tanya ayahku. Kulirik atasanku itu. Dia terdiam memikirkan sesuatu. Dia pasti tidak mau. Ini hanya sandiwara. Mana mungkin dia akan setuju menikahiku. Aku juga tak mau. Hell No!
"Baiklah." Aku menoleh. Menatapnya bingung.
"Baik, apa?" Tanya papaku.
Pak Joan menatapku sekilas. "Saya akan menikah dengan putri anda." Mataku terbelalak. Holly s**t.
Papaku tersenyum simpul.
"Saya senang dengan keseriusanmu. Saya anjurkan untuk tunangan terlebih dahulu. Untuk pernikahan dilaksanakan tiga bulan ke depan"
"Tiga bulan? Apa tak terlalu lama?" Ayah atasanku itu angkat bicara.
"Tidak. Tiga bulan waktu yang singkat. Mereka mungkin belum mengenal satu sama lain lebih dalam." Ucap ayahku. Semua di ruang mengangguk membenarkan.
***
Seusai makan siang, kami pergi ke salah satu mall di Batam. Aku dan papa satu mobil, hanya kami berdua.
"Dea." Aku menoleh menyadari panggilan papaku. "Papa tahu apa yang kamu sembunyikan." Ucapnya serius.
Aku mengernyit bingung. "Maksud papa?" Tanyaku.
"Papa tahu itu hanya sandiwara. Hubunganmu dengan Joan." Aku tersentak. Papa tahu? batinku.
"Mmm... papa tahu dari mana?" Tanyaku. Papaku itu terus menatap ke depan. Tersenyum simpul tanpa menoleh.
"Kamu putri papa," ucapnya lembut, "-dari kecil kamu dekat dengan papa. Papa tahu persis karaktermu. Gerak-gerikmu saat makan siang tadi, membuktikan bahwa ada sesuatu yang kamu sembunyikan." Ucapnya lagi sambil mengelus kepalaku sayang.
"Maaf, Pa. Awalnya Dea cuma mau bantuin Pak Joan. Setelah tahu kalau dia yang mau dijodohin sana Dea. Dea pasrah saja. Jodohin atau tidaknya, ujungnya sama aja. Kami disuruh nikah."
"Papa tahu. Makanya itu papa kasih waktu tiga bulan untuk kalian. Kalau ada apa-apa. Cerita sama papa. Mengerti?"
Aku mengangguk.
"Mengerti, Pa."
Kami tiba di mall. Mama dan Tante Clara pergi ke butik. Papa, Om Andra, dan Pak Joan memutuskan untuk duduk di restoran. Membahas urusan kantor.
Aku dan adikku pergi ke bioskop. Kami memilih untuk menonton Insurgent. Sekuel ke dua divergent. Film favorit. Theo Jamesnya cakep sih. Ughhh....
Filmnya akan diputar sepuluh menit lagi. Adikku itu sedang memesan minum dan popcorn. Aku duduk di bangku tunggu sambil memainkan ponselku. Seorang pria duduk di sampingku. Bau maskulinnya tercium familiar di hidungku. Aku menoleh karena penasaran. Benar saja dugaanku, Pak Joan.
"Kok bapak disini? Engga bisa jauh-jauh dari saya, ya?" Ujarku usil. Dia meilirikku malas.
"Jangan mimpi! Saya dipaksa ayah saya!" Ketusnya. Aku mengangguk. Dia merampas tiket yang kupegang. Belum sempat mengomelinya. Dia beranjak menuju tempat pembelian tiket.
"Itu Kak Joan, bukan?" Aku tersentak. Tanpa sadar adikku ini sudah berdiri di hadapanku sambil membawa pesanan tadi. Aku mengangguk.
Perhatian, pintu enam telah di buka. Bagi para penonton silakan memasuki Pintu enam.
Pak joan berjalan mendekat. Menyuruh kami untuk masuk. Pak Joan memberikan tiket itu pada seorang wanita cantik yang berdiri di ambang pintu. Wanita cantik itu tersenyum malu-malu menatap atasanku itu. Tapi yang ditatap tidak menggubrisnya sama sekali.
"Engga cemburu, Kak?" Bisik adikku saat kami sudah duduk di kursi.
"Udah biarin aja." Kataku pelan. Mengingat atasanku itu duduk di sampingku kini.
Posisi kami bertiga di belakang paling pojok kanan. Posisi favorit. Atasanku itu ternyata juga menyukai posisi duduk seperti ini. Dia duduk paling pojok, aku, dan adikku duduk di sampingnya.
Film pun akhirnya diputar. Aku tersenyum malu saat menonton. Duh pengen teriak, deh.
"Kenapa senyum-senyum? Gila, ya?" Tanya atasankuu. Perhatiin aku rupanya dia.
"Enggak, sih. Si Four-nya ganteng banget. Pengen deh nikah sama dia." Ucapku. Dia hanya terdiam.
Aku tersenyum kecut saat ada adegan gitu-gitunya. Penonton pun tampak terbahak-bahak. Aku melirik sekilas ke arah atasanku. Dia sibuk berkasak-kusuk di bangkunya. Merasa tak nyaman.
"Kenapa, Pak? Kursinya keras?" Tanyaku. Dia menatapku.
Badannya dicondongkan ke arahku. Aku mengernyit bingung. Dia menarik tengkukku dan CUP. Mataku terbelalak saat dia melumat bibirku dengan lembut. Lalu, menggigit bibir bawahku yang sukses terbuka. Memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku mulai menikmati cumbuannya dan merespon gerakan bibirnya.
Dia sangat lincah memainkan bibirnya.
Kupu-kupu bertebangan di perutku.
Geli...
Manis...
Dan...
"Ehm!!!" Suara adikku menyadarkanku akan sensasi gila itu. Buru-buru kulepas panggutannya. Dia tak rela. Wajahnya menunjukkan kegairahan. Tapi aku menikmatinya.
"Maaf, kelepasan."
Tbc.