Aku terbangun dari tidurku, saat aku mendengar dengkuran halus di dekatku. Mataku masih mengerjap-ngerjap menatap sebuah tangan memeluk erat pinggangku. Kakinya menindih kakiku, seakan aku ini gulingnya. Aku tersentak saat baru menyadari siapa yang memelukku.
Brukk...
Kudorong tubuhnya dengan sekuat tenagaku. Tubuhnya tersungkur ke lantai setelah terhantuk meja kecil di samping tempat tidur.
"Aduh..." Atasanku itu bangkit sambil mengelus kepalanya. Menatapku tajam karena telah menganggu tidurnya.
"Tidak sopan. Kamu mau membuat atasanmu lupa ingatan, ya?" Kesalnya.
"Yeee… situ begatal, sih! Pakai peluk-peluk segala. Situ pikir saya guling, hah? Berani sekali sentuh-sentuh saya?" Jawabku tak kalah kesalnya.
"Berani sekali kamu melawan atasanmu. Kamu sudah siap dipecat?" Tangannya melipat di depan d**a. Menatapku dengan sorot tajam.
"Ya, beranilah! Bukan berarti bapak atasan saya, main seenak jidat aja ya sentuh-sentuh saya! Itu tidak sopan! Kan saya sudah siapin tempat tidur buat bapak sofa." Tunjjuku ke arah sofa.
"Saya yang punya hotel. Saya juga pemilik kamar ini. Kenapa saya harus tidur di sofa?" Ihh... manusia satu ini! Pagi-pagi sudah ajak bertengkar. Bawel sekali nih orang!
"Salah sendiri tidak memesan dua kamar. Saya tidak bodoh. Itu alasan saja 'kan? Tentang 'terlalu repot nanti bolak balik', bilang saja bapak mau modusin saya." Aku tersenyum menggoda ke arahnya. Dia masih memasang muka datarnya.
"Terserah, berbenahlah. Orang tua saya ingin bertemu dengan saya. Kita makan siang dan malam disana." Ucapnya lalu beranjak ke kamar mandi.
"Kata bapak ada acara peresmian hotel?" Tanyaku bingung. Ini kenapa rencananya jadi berubah?
"Masih tiga hari lagi. Orangtua saya ingin berjumpa denganmu. 'Pacar pura-pura'. Dandan yang cantik. Saya dengar dari adik saya. Gadis yang akan dijodohkan dengan saya juga akan datang bersama keluarganya." Dia masuk ke kamar mandi. Aku berbalik menyiapkan bajunya. Kesannya aku ini istrinya saja, dih amit-amit Ya Allah... punya suami seperti dia.
***
Aku mengepang rambut blondeku seperti 'Elsa Frozen' agar tampak manis. Aku memakai dress putih selutut dengan model lace top di bagian bahuku. Lalu mengambil flatshoes putih. Kupoleskan lipgloss di bibirku. Aku lebih suka dandanan natural. Tampilanku seperti remaja. Jika berdiri di samping Pak Joan. Aku pasti dikira adiknya.
Aku turun menggandeng tas selempangku. Beberapa pria melihatiku. Apa ada yang aneh?
Pak Joan telah menungguku di bawah. Aku keluar dari lift. Dia tampak sedang berbicara dengan satpam disini. Kuakui, dia orang yang ramah. Tapi jika sikap dingin dan ketusnya muncul? Lambaikan tangan ke kamera, pemirsa.
"Pak..." Tegurku. Dia berbalik begitu menyadari panggilanku. Wajahnya terlihat sebal.
"Kenapa la-" Dia terdiam. Wajah sebalnya terlihat tegang sekarang.
"Kenapa, Pak?" Tanyaku.
"P-Penampilanmu." Ujarnya.
"Jelek, ya, Pak?" Aku merenggut. "Saya ganti baju sebentar ya, Pak?" Ucapku. Berbalik.
"Cantik sekali." gumamnya pelan.
"Apa, Pak?"
"Tidak. Ayo cepat. Ibuku sudah menunggu."
***
Kami sampai di rumah Pak Joan. Rumah yang mewah. Besar. Yah, sama besarnya dengan rumah orang tuaku.
Seorang wanita dan pria paruh baya berdiri di ambang pintu. Wajah mereka memancarkan raut bahagia begitu aku dan Pak Joan turun. Pak Joan menggenggam jemariku. Membuatku, engg... membuat jantungku berdegub kencang.
"Ahhh.. ini kekasihmu? Cantik sekali." Ucap wanita paruh baya itu lalu memelukku bahagia. Di usianya yang sudah tua, dia masih terlihat cantik. Tubuhnya juga masih ramping, sama seperti ibuku. Eh tunggu... bukankah Pak Joan ibunya tengah sakit? Lantas... kok... kelihatannya ibunya terlihat sehat walafiat?
"Ayo, ayo silahkan masuk, Cantik." Ucapnya antusias. Kami duduk di ruang tamu. Menunggu keluarga gadis itu datang.
"Maaf ya, Cantik. Ibu tidak tahu kalau kalian telah menjalin hubungan sudah lama dan saat kamu mengetahui bahwa Joan ibu jodohkan, kamu pasti sedih dan kesal, ya? Sehingga kamu datang kemari?" Ucap Ibu Pak Joan. Dia terlihat merasa bersalah. Mungkin menurutnya, dia hampir saja membuat anaknya kehilangan cintanya karna perjodohan itu. Huh dasar! Apa jadinya jika ibunya tahu bahwa ini sandiwara.
"Tidak apa-apa kok, Tan. Salah kami juga, seharusnya kami tak merahasiakan hubungan kami." Kulirik Pak Joan sekilas. Dia tampak tersenyum mendengar cerita bohongku.
Wanita itu tersenyum lirih. Lalu duduk di dekatku. "Ibu harap, kalian segera menikah. Ibu dan ayah ingin sekali menimang cucu." Kulirik Pak Joan. Dia tersenyum masam mendengar tuturan ibunya.
"Iya, Bu. Secepatnya." Ucapnya malas.
"Mmm.. Tante. Toilet dimana ya?" Ucapku polos disambut senyuman hangat olehnya. Dia memberitahuku. Aku beranjak ke toilet setelah izin.
***
Author Pov
Mobil alphard berwarna hitam berhenti di depan rumah Joan. Sepasang suami istri turun dengan anak gadis mereka di belakangnya. Mereka membunyikan bel. Sesaat Ibu Joan keluar menyambut kedatangan mereka.
"Masuk, Jeng. Ayo!" Ucap Ibu Joan. Menggamit lengan sahabatnya itu. Mereka pergi keruang tamu dimana Joan dan ayahnya duduk.
Mereka bersalaman. Joan mengernyit bingung begitu melihat sosok gadis muda dengan rambut coklatnya menyalaminya. Apa dia yang akan dijodohkan denganku? Dia 'kan masih bocah! Batin Joan.
Gadis muda dengan kemeja nila yang dimasukkan ke dalam rok pink itu tersenyum malu-malu melihat reaksi Joan.
"Joan, ini Tuan dan Nyonya Carpenter. Sahabat ibu yang rencana putrinya akan dijodohkan denganmu." Joan melirik gadis muda itu. Ibunya yang menyadari kebingungan putra sulungnya itu terkekeh.
"Bukan dia, tapi kakaknya. Dia Abigail, masih SMA. Kebetulan kakaknya tak bisa datang. Karena sibuk dengan pekerjaan barunya. Tapi dia baik, kok. Ramah pula." Ucap Ibu Joan.
Nyonya Carpenter tersenyum. "Ah jeng. Jangan begitu. Tidak enak. Joan 'kan sudah memiliki kekasih. Dia ada disini 'kan? Kalau terdengar gimana? Pasti bertengkar." Ibu Joan tersentak. Ia baru mengingat kalau calon menantu cantiknya ada disini.
"Ah iya lupa...," dia celingak celinguk, "-untung saja gak ada." Ujarnya. Seluruh orang di ruang tamu itu pada tertawa begitu melihat wajah pucat ibunya Joan.
Seketika kedatangan Dea membuat keluarga itu terdiam. Termasuk keluarga Carpenter terlihat kaget.
"Tamunya sudah datang, ya? Maaf lama. Tadi habis...," Ucapan gadis itu terpotong begitu melihat keluarga Carpenter, "-Ma? Pa? Abby? Ngapain disini?" Tanya Dea. Yang sukses membuat Ibu Joan dan Joan melotot. Sedangkan ayahnya menggeleng-geleng.
"Me-Mereka orang tua kamu, Cantik?" Tanya Ibu Joan tak percaya.
"Iya , Tante." Ucapnya polos.
"Ka-kamu Deandra Carpenter? Putri keduanya?" Tanyanya lagi. Dibalas anggukan polos darinya.
Joan yang melihat kebenaran ini, langsung komat kamit. Mati aku mati aku.
"Arghhh... dunia ini sempit sekali! Ternyata pacarnya Joan adalah putrimu, Jeng!" Ucap Ibu Joan dengan girangnya. Ibu Dea tersenyum tak percaya. Aduh mati aku. Batin dea.
Tbc.