Aku berjalan ke meja kerjaku. Segala sumpah serapah kukeluarkan dari mulutku. Aku baru seminggu bekerja disini. Lalu, atasan sialan itu menyuruhku menjadi pacarnya. Ehm, lebih tepatnya pacar pura-pura.
"Saya tidak ingin menikah dulu. Saat ini perusahaan lebih penting dari pada pernikahan." Ucapnya kala itu dengan angkuh.
Terpaksa aku iya-kan, sebelum dia melakukan ancamannya. Memecatku dengan tidak terhormat dan dapat dipastikan tidak ada satupun perusahaan yang akan menerimaku. Apalagi aku di pecat di perusahaan ini.
Aku meraih ponselku. Mencari kontak yang ingin kutelpon, orang yang aku rindukan selama ini, Mama.
"Halo, Ma?" Ucapku.
"Iya, De? Ada apa?" Terdengar suara mama di sebrang sana. Suara sekitarnya cukup riuh.
"Mama ada dimana? Kok ramai banget?" Tanyaku penasaran.
"Oh ini... mama sama Tante Clara dan rombongan lagi di mall. Biasa ibu-ibu arisan." Ucap mama setengah teriak.
"Enggg... gini, Ma. Dua minggu ke depan. Dea gak bisa hadir di pertemuan itu. Ada pembukaan hotel. Dea harus ikut. Buat bantu-bantu atasan Dea." Ucapku berjaga-jaga.
"Yahhh... sayang sekali. Padahal laki-laki itu menyempatkan waktu untuk bertemu denganmu. Ya sudah, deh." Ucap mama sendu.
"Maaf, Ma. Habis mendadak atasan Dea itu memberi kabar. Dea gak tahu. Gak apa-apa 'kan, Ma?"
"Iya, gak apa-apa. Nanti kapan kamu bisa cuti saja ketemunya. Ya sudah mama mau pergi dulu. Jaga diri disana, ya. Bye!" Telpon terputus. Rasa lega menghampiriku. Untung saja ada ini acara. Mama tak kuberitahu dimana acaranya. Bisa-bisa dia memaksaku untuk sempat datang lagi.
***
Aku menunggu Pak Joan di bandara. Pesawat akan lepas landas sekitar pukul 2 dan dia belum datang. Sudah dua jam aku menunggunya. Seharusnya dia datang pukul 12 tadi. Untuk boarding pass dulu.
Terlihat dari jauh. Sebuah sedan putih mendekat. Pak Joan keluar dari mobil itu menggunakan pakaian yang lebih santai. Kemeja hijau tua bercorak dan celana jins hitam. Dia memakai kacamata hitamnya. Menyeret koper putihnya yang besar ke arahku.
"Ayo!" Aku terbangun dari imajinasiku. Dia tampan. Sangat tampan.
Aku duduk di kursiku. Pak Joan duduk di sampingku, dekat jendela tepatnya. Pesawat bergerak akan lepas landas. Sesaat , Pak Joan mengaitkan jari-jarinya di sela jariku. Dia terlihat tegang saat pesawat sudah lepas landas. Dia masih belum melepasnya. Kaca jendela ditutupnya dan dia masih mengaitkan jariku, kadang meremasnya pelan.
"Bapak takut ketinggian, ya." Tebakku tersadar akan sikapnya. Dia masih belum menggubris pertanyaanku. Bulir-bulir keringat mengucur di wajahnya. Aku terkekeh melihatnya.
"Kalau takut, mending tadi naik kapal saja." kekehku.
Dia menatapku tajam. "Kalau naik kapal, lama!" Ucapnya gemetaran.
Aku tersenyum. "Bapak gak usah panik, Pak. Nanti kalau bapak pingsan nyusahin, Pak. Bapak 'kan berat." Delikan matanya langsung membungkam mulutku.
Mataku mengerjap. Kantuk mendatangiku. Aku tak tidur semalaman. Sibuk memilah baju untuk kumasukan dalam koper dan beberapa keperluanku. Kegelapan datang, kepalaku terjatuh di atas... entahlah. Sangat keras. Dan...
***
Aku sibuk membenarkan letak kepalaku di bantalan keras ini. Sambil meremas guling yang keras. Tapi, kenapa semuanya pada keras?
Mataku mengerjap, perlahan kuangkat kepalaku dari bantalan keras itu. Kusandarkan kepalaku ke bangku pesawat. Penerbanganku tinggal lima jam lagi. Berarti sudah lama aku terlelap.
Aku menstabilkan pikiranku yang masih mengantuk. Kepalaku tersandar kembali di bantalan keras tadi. Tanganku mengelus-elus guling kerasku itu.
Suara deheman tak kugubris sama sekali. Hingga seorang ibu paruh baya menyapa ramah padaku.
"Di Indonesia, mau bulan madu, ya?" Tanya ibu itu.
Aku tersentak "Hah??" Ibu itu kembali tersenyum ramah.
"Pengantin baru, ya? Dari tadi lengket terus di lengan suaminya." Sontak aku terbelalak. Aku menoleh ke arah pria yang disebut suamiku itu, Pak Joan. Whatt??
Dia memasang muka datar lalu melihat tangannya yang sedang kuelusi. Sontak aku melepasnya. Cekatan tangannya tak bisa melepas genggaman tanganku.
Aku melotot. Dia hanya tersenyum.
"Iya, Bu. Kami baru saja menikah dan mau bulan madu." Ucap pria itu dengan PD-nya. Aku meremas kuat-kuat tangannya. Bukannya meringis kesakitan. Dia malah mencium keningku. Aku terdiam dengan perilakunya itu. Sial. Dia melecehkanku. Ya, walaupun ciuman di kening. tapi sama saja! ITU PE-LE-CE-HAN!!
"Wahhh... kalian tampak serasi, ya. Ibu doakan semoga pernikahan kalian abadi. Semoga kalian jodoh dunia dan akhirat. Aminnn." Ucap ibu itu tulus. Pak Joan tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada ibu itu.
***
Kami tiba di Batam, Indonesia. Tepat pada pukul 9 malam. Kami tiba di Hotel Golden Central, hotel milik Pak Joan. Hotel Golden Central, hotel dengan desain minimalis ini terlihat sempurna.
Seorang pria dengan paras tampan dengan tubuh jangkungnya berjalan dengan penuh wibawa ke arah kami. Pria itu kira-kira seusia Pak Joan. Wajahnya terlihat seperti keturunan Turki. Astaga dia Tampan!!!
"Selamat datang di hotel kita, Brother! " Ucap pria Turki itu seraya memeluk sekilas Pak Joan. Brother?
"Ya, sudah lama tak berjumpa. Bagaimana kabar istrimu?" Jawabnya.
"Hey, seharusnya kau menanyakan kabarku dulu!" Dia meninju kecil perut Pak Joan, "Baik dan semakin cantik, dia sedang hamil. Yaaa... baru tiga minggu." Cengirnya.
"Woahhh... selamat. Aku turut bahagia." Senyumnya kaku. Aku rasa atasanku ini sangat dekat dengan Pria Turki itu. Sehingga mereka tak sadar kalau ada gadis cantik yang sedang memperhatikan mereka seperti obat nyamuk. Huh...
Pria Turki ini melirikku. Dia tampak bingung.
"Dia siapa?" Tanyanya. Seakan baru menyadari kehadiranku. Dia tersentak kaget. Dia pikir aku setan, hah?
"Oh, dia... Kenalkan, dia Dea, kekasihku sekaligus sekretaris baruku. Dea, perkenalkan, dia Andrew Hardiwijaya, sepupuku." Pria Turki yang bernama Andrew itu menjabat tanganku.
"Aku tak percaya kau sudah memiliki kekasih." Jawabnya tersumringah. Sedangkan yang diajak bicara hanya tersenyum miring. Ya iyalah, pacar pura-pura juga.
"Andrew ini yang membantuku membangun hotel ini. Bisa dibilang hotel ini milik kami berdua. Karena aku sibuk di New York jadinya dia yang mengambil alih hotel. Karena kebetulan dia tidak memiliki 'pekerjaan'." yang disindir hanya cengengesan.
Andrew menuntun kami menuju kamar yang telah di booking untuk kami. Ya... kami!
"Agar saya tidak perlu repot-repot bolak balik ke kamar kamu. Jadinya, kita sekamar." Tutur Pak Joan saat aku hendak protes dan kuyakini itu hanya ALASAN saja, pemirsa.
Aku membersihkan badanku yang terasa lengket. Aku mengenakan baju tidurku yang menutupi seluruh badanku. Kebetulan hari sudah merangkak tengah malam dan aku juga sudah kenyang. Aku memutuskan untuk tidur. Setelah berlama-lama di dalam pesawat sialan itu.
Aku beranjak keluar kamar mandi. Mengambil selimut, guling dan bantal. Lalu meletakkannya di sofa putih yang berada di depan tv.
Decitan pintu dibuka terdengar. Pak Joan yang baru datang setelah acara makan malam dengan beberapa kolega bisnisnya. Dia sempat mengajakku, menawar lebih tepatnya. Tapi aku menolak, karena terlalu capek.
"Sedang menyiapkan tempat tidurmu di sofa, ya?" Sindirnya sembari melepas dasinya.
"Iya, nih. Buat bapak tidur. Selamat Malam, Bos!" Aku beranjak dengan cepat menaiki tempat tidur. Atasanku itu berdecak kesal. Aku tersenyum kecil sebelum kantuk membawaku ke planet yang bernama 'mimpi'.
Tbc.