04.30 pagi!
Buru-buru aku melaksanakan ibadah dulu dan melanjutkan dengan ritual mandi pagiku. Setelah itu, aku berjalan keluar kamar mandi menuju walk in closet-ku.
Aku mengambil kemeja formal berwarna putih, warna favoritku. Serta rok pensil selutut berwarna putih dan blazer biru yang kusamakan dengan tas Gucci biruku yang kupadukan dengan heels putih polos. Rambut kusanggul menyisakan anak rambut di sekitar leherku.
Aku menatapi penampilanku di depan cerminku sekejap.
Aku hanya memakan roti selai strawberry saja. Lalu turun ke lobi dan berangkat ke kantor sekitar pukul lima pagi. Kepagian memang, tapi begitulah seperti yang diperintahkan sekretaris satu lagi yang semalam kuhubungi.
***
Ting tongg...
Pintu lift terbuka di lantai 22 kantor ini. Masih sepi, mengingat sekarang pukul 05.30. Hanya ada OB yang terlihat membersihkan lantai ini. Aku berjalan kedalam dan mendapati seorang pria dengan kemeja formal merah darah dengan dasi putih polos dan celana jins Hitam. Gayanya lumayan. Mungkin tinggiku hanya sebahunya, tampan pula. Lumayan, cuci mata pagi-pagi. Umurnya sekitar 30an atau kurang sedikit? Dia bos? Atau apa? Dia mengamatiku dari jauh.
"Ms. Carpenter? Sekretaris pertama?" Tanya pria itu dengan tatapan bingung menggunakan bahasa inggris.
"Ya? Saya Dea, Deandra Carpenter." Aku mengulurkan tangan menjabat tangannya.
"Saya Leo, Leoxander Anderson. Saya sepupu, sekaligus sekretaris kedua Pak Joan."
"Oh oke. Hmmm... apa yang harus saya kerjakan sebagai sekretaris pertama?" Tanyaku.
"Baiklah. Pertama, meja kamu disana, di depan meja saya. Kedua, Pak Joan datang pukul setengah 7, kamu sebagai sekretaris pertama, kamu siapkan berkas-berkas yang akan dibaca Pak Joan di mejanya. Saya akan memberikan jadwal Pak Joan hari ini, nanti saya kirim melalui email. Lali kedepannya, kamu yang menyusun jadwal pertemuan Pak Joan dengan rekan kerjanya. Kamu juga yang akan menemaninya baik itu rapat atau pertemuan di lapangan." Ujarnya.
"Baiklah." Aku duduk di kursiku. Pak Leo meninggalkanku dengan dalih ia akan menunggu Pak Joan di bawah sana.
Tak lama, pintu lift terbuka. Menampilkan sosok Pak Leo dengan seorang pria memakai setelan jas keluar dari lift dan berjalan menuju ruang direktur. Sontak aku berdiri dan menundukkan kepalaku. Saat aku sadar lelaki yang bersama Pak Leo adalah Atasanku.
"Siapa dia?" Tanyanya pada Pak Leo saat berdiri di ambang pintu.
"Emm.. dia sekretaris pertama barumu, Pak." Ucap Pak Leo melirikku sekilas. Aku berjalan mendekat dan mengulurkan tangan.
"Selamat pagi, Pak. Saya Dea, sekretaris bapak." Dia hanya melihat tanganku. Dia tersenyum angkuh dan berjalan masuk keruangannya tanpa membalas jabat tanganku. Manusia kurang ajar! Astagfirullah.... Namun, aku tetap memaksakan tersenyum.
Aku mendengus kesal, "Sial, tidak memiliki sopan santun!" Umpatku pelan.
***
Jam makan siang tiba. Aku baru saja akan beranjak ke kantin ketika dering telepon di mejaku menuntut untuk diangkat.
"Halo, Anderson's Group speaking. Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucapku.
"Ya. Saya minta kamu belikan saya Pizza, untuk makan siang!" Ucap seorang pria dengan suara bazz-nya yang terdengar indah.
"Maaf, Tuan. Anderson's grup bukan Restoran. Mungkin anda salah nomor." Ucapku. Dia pikir perusahaan ini restoran apa? Terdengar dengusan berat di sebrang sana.
"Saya atasanmu. Belikan saya makan siang! Saya gak bisa beranjak keluar!" Dengan terkejut, aku mulai panik.
"Eh.. ma.. maaf, Pak. Saya tidak tahu." Ucapku megap-megap. Dea bodoh! Seharusnya kau tanya dulu siapa penelepon ini.
"Ya. Cepat! Saya lapar!"
"Baik, Pak." Aku beranjak menuju Restoran Pizza yang berada di depan kantor.
***
"Masuk!"
Aku mendorong pintu kayu ruangan Pak Joan dan melangkah masuk membawa sekotak pizza.
"Letakkan disini!" Ujarnya menunjuk meja kerjanya yang menyisahkan sisi yang kosong. Mejanya dipenuhi setumpuk kertas. Aku meletakkan Pizza dan berjalan keluar. Perutku... cacing diperutku sudah berdemo untuk makan.
"Dea." Panggilnya saat aku sudah memegang gagang pintu.
"Ada lagi, Pak?" Tanyaku. Dia memajukan setumpuk kertas-kertas itu.
"Bantu saya menyelesaikannya. Saya minta jam 9 malam sudah selesai."
"Baik, Pak." Aku mengambil setumpuk kertas itu. Itu berarti tak ada makan siang dan malam. Astaga.
Aku beranjak keluar dan mulai mengerjakan setumpuk kertas itu.
***
Aku terbaring lelah di tempat tidurku. Seharian aku mengerjakan setumpuk kertas-kertas yang begitu rumit. Beberapa kali aku meminta bantuan Pak Leo, tapi yang dimintai tolong hanya diam. Sial! Perut ku keroncongan dari tadi. Menjadi sekretaris atasan yang satu itu memang tak mudah. Lelah.
Drttt...
Aku mengambil handphoneku yang berlogo apple dari dalam tasku. Dengan cepat kuangkat begitu aku melihat id phonenya, "Mama".
"Halo? Ya, Ma?" Sapaku.
"Gini, De... minggu depan mama sama papa mau bertemu sama keluarga yang mau kami jodohkan denganmu. Di Batam, kamu bisa datang, 'kan? Gak sibuk, 'kan?" Tanya mamaku.
Aku berpikir sejenak mengingat apa ada urusan minggu depan. "Hmmm... gak tahu juga, Ma. Nanti Dea coba izin sama atasan Dea, Deh. Insyaallah bisa datang." Ucapku.
"Ohh ya sudah. Mama tunggu kabarnya lagi oke? Bye." Telepon diputus secara sepihak. Aku memilih untuk melanjutkan tidurku.
***
"Dea!!!" Teriak atasanku dari ruangannya. Buru- buru aku memakai heels-ku dan beranjak ke ruangannya.
"Iya, Pak? Ada apa?" Tanyaku sudah berdiri di depan mejanya.
"Lusa, pembukaan hotel baru keluarga saya. Di Indonesia. Kamu cancel semua meeting selama dua minggu ke depan. Kamu harus ikut sama saya. Saya tetap akan mengontrol perusahaan dari sana. Leo akan membantu saya disini dan kamu akan membantu saya disana." Ucapnya.
"Baik, Pak. Ada lagi, Pak?" Tanyaku.
Dia memundurkan badannya, bersandar ke kursi. Dia mengacak-acak rambutnya, dan melonggarkan dasinya.
"Saya ingin minta tolong sama kamu? Mau bantu saya?" Ucapnya sendu.
"Pasti, Pak. Saya sekretaris bapak. Sudah tugas saya membantu." Terdengar helaan nafas yang berat darinya.
"Saya akan bertemu ibu saya juga disana. Dia sedang sakit dan dia ingin sekali melihat saya menikah."
"Jadi maksud bapak? Bapak suruh saya nikah sama bapak?" Aku berdecak pinggang memasang raut muka seriusku.
Dia melihatku tidak suka. "Jangan ambil kesimpulan sendiri, saya belum selesai bicara!" Ucapnya tajam.
"Maaf, Pak. Silahkan dilanjutkan." Dia memalingkan wajahnya ke arah gedung-gedung pencakar langit yang di batasi jendela ruangannya.
"Ibu saya sudah punya kandidat. Saya tidak ingin menikah dulu." Cetusnya. Aku mengerutkan keningku dan berdecak pinggang lagi.
"Menikah itu hukum alam, Pak, menikah itu ibadah. Apa susahnya bahagiain orang tua? Kenapa tidak mau?" Ucapku. Menceramahinya.
"Tidak tertarik."
"Gay? Bapak gay?" Ucapku polos. Dia berdiri dan berjalan ke arahku. Lalu menjitakku.
"Aduh!!! Sakit..." Gumamku sembari mengusap kepalaku.
"Gak sopan bilang seperti itu! Saya atasan kamu!"
"Eh iya ma.... maaf, Pak." Aku menunduk. Lantang sekali mulutku ini. "Terus, bapak kenapa curhat ke saya?" Tanyaku pelan. Dia kembali menghela nafas.
"Orang tua saya akan mempertemukan kami nanti. Tak ada alasan untuk menolak selagi saya tak punya kandidat sendiri. Jadi..."
"Jadi?" Laki laki itu menunduk menatapku.
"Jadi... saya mau kamu jadi pacar saya!" Ucapnya tegas. Seakan tidak boleh ditolak.
"Oh oke." Ucapku manggut-manggut.
Satu detikk....
Dua detikkk....
Tiga detikkkkk....
TINGGG....
"Hahhhhh???!!! Jadi pacar bapak!!!!???" Ucapku histeris.
=====