BAB 19

1114 Kata

Aku terbangun saat merasakan ada sebuah tangan membelai rambutku. Mataku terasa berat untuk terbuka, kepalaku juga masih pusing. "Pagi." sapa Mas Joan menunduk menatapku yang masih sayu. "Pagi" balasku dengan helaan nafas berat. Aku merintih saat berusaha menggerakkan kakiku. Mungkin sakitnya di daerah sensitifku belum hilang semenjak aktivitas kami kemarin siang. Kemarin siang... Entah setan apa yang merasukiku hingga menurut dengan nafsu nya siang tadi. Ingin rasanya untuk marah, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Aku bahkan tidak mampu menghentikan hasratku. Tapi kedepannya, gue bakal ngebentengin diri gue. Titik. "Masih sakit? Maaf ya?" Katanya lagi. "Masih. Maaf untuk?" "Perawanmu. Kukira tinggal di New York kau..." Aku mengusap wajahku dengan malas. "Enggaklah... ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN