Joan Pov PLAKKK... Jantungku berdetak kencang saat melihat tubuh mungil itu jatuh terduduk di sofa putih di belakangnya. Tubuhnya bergetar sambil memegang pipi kanannya, yang kutampar. Bodoh! Sungguh aku tak berniat untuk melakukannya. Aku duduk di sebelahnya. Tanganku meraih tubuhnya kedalam dekapanku. Dia meronta-ronta minta dilepaskan. "LEPAS!!! DASAR b******k!!!" Kuelus punggungnya untuk menenangkannya. Dia masih berteriak, memintaku untuk melepasnya. Sumpah serapah dia lontarkan padaku. "Maafin aku.... maafin aku... aku ga berniat untuk nampar kamu." kataku pelan. Teriakannya mulai berhenti, hanya isakan kecil keluar dari mulutnya. Pipinya masih memerah, bahkan bercak tanganku membekas di pipi putih itu. "Ehmmm.... aku kompres ya? Pipinya?" Kataku. Ku pikir dia akan menolak tap

