Mas Joan melontarkan sebuah kata yang tak pernah ku percaya. Bahkan hati tercelos mendengarnya. "Kami akan bertahan" katanya tegas dan memandang kearahku. Lalu kembali menghadap Papa. Papa tersenyum sekilas. "Dea? Bagaimana denganmu?" Tanyanya. Aku tersentak dari lamunanku yang masih berpikir kalau Mas Joan mau bertahan. Padahal tadi sepertinya dia marah besar saat mengetahui aku ciuman dengan sepupunya. Aku menganggukkan kepalaku. "Joan, hubungin Kania. Akhiri hubunganmu dengan wanita itu sekarang!" Pinta papa. "Baik, pa. Tapi, Kania masih berada di atas pesawat. Kita tunggu dia hingga sampai di NY nanti." kata Mas Joan. Papa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dea! Akhiri hubunganmu dengan Alex." Aku menggaruk-garukkan kepalaku. Tidak ada yang perlu diakhiri sebenarnya. Karena kami m

