Ashraf sangat bahagia saat mengetahui kehamilan istrinya. Senyum di wajahnya terus mengembang. Ashraf mengurai pelukannya, lalu menggendong Rindu dengan tangan kekarnya. Ia terus melangkah, matanya fokus pada ranjang. "Kak, apa-apaan 'sih! Aku udah bisa jalan. Kenapa mesti digendong." Meski protes, Rindu tetap mengalungkan tangannya ke leher Ashraf. Ia takut jatuh dari gendongan Ashraf, apalagi dia sedang berbadan dua. "Ibu hamil itu harus di istimewakan." Bukannya menurunkan Rindu, Ashraf malah tersenyum, lalu mengecup bibir istrinya yang terlalu banyak bicara akhir-akhir ini. "Iiih, nakal." Rindu tertawa seraya menarik hidung mancung suaminya dengan gemas. Ia sangat bahagia melihat Ashraf bahagia. Sudah lama Ashraf menantikan kehamilannya, dan sekarang satu persatu doa-doanya terwuj

