Part 10

1179 Kata
 Meski hari masih petang, nayanika itu kini telah terjaga. Bahkan tak ada kantuk sedikitpun dari sana. Daksa itu nampak begitu tenang dengan atma yang khusu menghadap sang pencipta. Lantunan ayat kursi al quran terdengar begitu merdu dan sayup.            Setelah hampir satu jam wanodya tersebut menghadap sang pencipta, ia menatap jarum jam di atas pintu kamarnya. Ternyata masih pukul setengah empat pagi, masih cukup banyak waktu menjelang subuh. Ia melipat mukenahnya, setelahnya Meesa memilih untuk belajar dan memastikan apa semua tugasnya telah ia selesaikan.            Meesa nampak begitu gelisah, ia mencari kesana kemari buku matematikanya. Ia sangat yakin jika kemarin ia telah menyimpanya di atas buku panduan pelajaran tersebut.            “Dimana ya? Kemarin itu ....”            Meesa nampak berfikir sejenak, “ah ya! Kan kemarin malam di pinjam Gavesha. Astagfirullah, bisa-bisanya aku lupa.”            Meesa mulai memasukan semua peralatan sekolahnya dan bersiap untuk salat subuh. Untuk seminggu ke depan Jayendra dan Elakshi ada urusan ke luar kota. Jadinya Meesa akan di antar jemput oleh supir yang telah di bayar Jayendra khusus untuknya.            Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, seperti saat ini tanpa sadar jarum jam telah menunjukan pukul enam pagi. Meesa harus segera bersiap, mengingat jam bimbingan olimpiadenya pagi ini di jam setengah tujuh pagi.            “Pak Damar! Ayo berangkat,” seru Meesa mencari Damar supir barunya yang baru saja datang tersebut.            “Ini masih jam enam, Non,” tutur Damar yang memang belum mengetahui jika Meesa harus berangkat pagi.            “Iya, tapi bimbingan olimpiade Meesa di mulai jam setengah tujuh, Pak.”            “Oalah. Iya, Non. Mari saya antarkan.”            Baru saja Meesa mau memasuki mobil, namun tanganya di seret oleh Agnia.            “Kamu berangkat naik kendaraan umum aja. Anwa tiba-tiba merasakan kram perut,” sela Agnia saat Meesa ingin berbicara.            “Tapi, Bu. Saya di tugaskan di sini untuk mengantar jemput Nona Meesa,” papar Damar.            “Kamu tidak lihat adek saya kesakitan seperti ini? Lagian ini masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah,” decak Agnia geram membentak Damar.            “Ssshhh, sakit banget. Aduh,” erang Anwa sembari memegang perutnya yang tengah membuncit.            “Tuh dengar! Udahlah, awas kamu! Ayo, Pak.”            Meesa nampak terhuyung karena dorongan kasar dari Agnia. Untung saja ia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Damar menatap Meesa ragu, jujur ia bingung mesti mengantarkan siapa.            “Non-,”            “Udah Pak, antarkan Tante Anwa ke rumah sakit segera. Kasihan Tante Anwa kesakitan seperti itu. Takut ada apa-apa,” potong Meesa kalem.            “Atau gini aja Non, bagaimana Non Meesa saya antarkan ke sekolah setelah saya mengantarkan Bu Anwa ke rumah sakit?”            Meesa menggeleng, “gak keburu, Pak. Lebih baik saya cari angkutan umum aja.”            “Tapi Non, ini masih pagi. Mana ada angkot atau bis.”            “Saya bisa naik taksi online.”            “Ck! Ayo, Pak. Meesa! Kamu tega lihat tante kamu kesakitan kaya gini?” decak Agnia kesal.            “Udah Pak, saya gak papa. Cepat Pak Damar antarkan Tante Anwa ke rumah sakit. Meesa akan pesan taksi online.”            “Ya sudah, Non. Tapi kalau ada apa-apa hubungi saya ya?”            “Iya, Pak. Hati-hati.”            Damar memasuki mobil sedan putih tersebut, mobil yang seharusnya menjadi kendaraan pribadi milik Meesa. Pria berkepala tiga tersebut mulai melajukan mobilnya karena sedari tadi Agnia selalu mengumpatinya karena tidak segera menjalankan mobilnya.            Meesa menghela nafas panjang, ia mulai mengotak-atik ponselnya memesan taksi online. Namun sayangnya sangat sulit mendapatkan driver mengingat saat ini memang masih jam enam pagi.            “Lho Non Meesa, itu tadi Pak Damar sudah berangkat kok Non Meesa masih di sini,” heran Pak Setyo saat melihat Meesa berjalan keluar gerbang.            “Iya Pak, tadi Pak Damar nganterin Tante Anwa sama Tante Agnia ke rumah sakit. Katanya tiba-tiba perut Tante Anwa kram,” terang Meesa.            “Oh, mau saya antarkan saja, Non?” tawar Pak Setyo.            “Terima kasih, tapi gak usah karena Meesa udah pesan taksi online.”            “Ya sudah, Non. Kalau ada apa-apa hubungi saya.”            “Siap, Pak Setyo! Ya udah, Meesa berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum.”            “Wa’alaikumussalam.”            Pak Setyo menatap punggung tegap itu, sebenarnya ia tidak tega. Mengingat memang pagi ini pasti juga sulit mencari taksi online. Namun kedua bola mata belo Meesa meyakinkan, bahwa ia baik-baik saja.            Sudah lima belas menit Meesa menunggu, ia pun mulai gelisah. Sepertinya ia akan terlambat mengikuti bimbingan pagi ini. Sepertinya lebih baik dia menghubungi Bu Wikrama mengabarkan kalau ia akan telat datang bimbingan.            Namun saat baru saja ia ingin mengirimkan pesan, Davendra dengan vespa putihnya berhenti di hadapan Meesa.            “Meesa, kok lo belum berangkat?” tanya Davendra.            “Iya, ini lagi cari taksi online.”            “Daerah sini emang susah cari taksi apalagi masih pagi kaya sekarang. Udah, lo bareng gue aja.”            Meesa nampak berfikir sejenak, memang sih sudah lima belas menit ia belum saja mendapatkan driver.            “Udah, gak usah banyak mikir. Ayo!”            Davendra menarik tangan Meesa agar naik ke motornya, ia memberikan satu helm bogo berwarna lilac ke arah Meesa.            “Pakai, ini helm yang biasa di gunakan Gavesha,” papar Davendra seakan tau isi kepala Meesa.            “Terima kasih.”            “Pegangan, gue mau ngebut.”            “Eh ... eh,”            Benar saja Davendra langsung mengegas vespa putihnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Reflek Meesa mengeratkan kedua tanganya di pinggang milik Davendra. Sepuluh menit kemudian akhirnya mereka telah sampai di pelataran SMP Nabastala.            Davendra memakirkan vespanya di parkiran khusus siswa. Meesa turun dari motor milik Davendra, ia menggosok-gosokan tanganya agar terasa hangat. Angin pagi ini terasa begitu dingin di tambah tadi Davendra mengajaknya negbut menggunakan motor.            “Lo gak papa?”            “Hm? Gak papa,” dehem Meesa.            Davendra menggenggam kedua tangan Meesa, astaga sangat dingin! Ia bahkan baru sadar jika pagi ini Meesa tidak menggunakan jaket. Tapi memang Meesa biasanya tidak menggunakan apapun karena gadis itu biasanya di antarkan ayahnya menggunakan mobil.            “Kenapa lo gak bilang kalau kedinginan? Pakai hoodie gue,” titah Davendra yang dengan segera melepas hoodie berwarna monokromnya.            “Gak perlu Dave, gue gak papa kok. Ayo bimbingan di mulai lima menit lagi.”            “Gue gak menerima penolakan, pakai. Lo bisa masuk angin nanti. Atau gue izinin lo gak ikut bimbingan hari ini?”            Meesa menggeleng lemah. “Olimpiade seminggu lagi. Oke gue pakai,” putus Meesa menerima hoodie milik Davendra.            Sebelum memakai hoodie tersebut, Meesa terlebih dahulu mencopot helm yang ternyata masih menempel di kepalanya. Kenapa susah sekali? Beberapa kali Meesa mencoba melepaskanya namun hasilnya nihil.            Davendra yang melihat itu hanya terkekeh geli. Tangan kekarnya terjulur melepaskan helm lilac tersebut. “Kalau gak bisa, minta tolong,” sindirnya melepaskan kaitan helm tersebut.            “Terima kasih.”            Meesa memberikan helm lilac tersebut kepada Davendra, kemudian dia mulai memakai hoodie monokrom milik Davendra. Hoodie tersebut nampak pas di tubuhnya karena tinggi badanya yang hanya berbeda lima senti meter dari Davendra.            “Hoodie itu pas ya sama lo. Kalau Gavesha yang make udah kaya daster, hahaha.”            “Huss ... gak boleh kaya gitu,” peringat Meesa.            Davendra hanya terkekeh, tinggi badan Meesa dan Gavesha memang berpatut cukup jauh. Bahkan saat kedua gadis itu jalan beriringan Gavesha hanya sedagu gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN