“Dalam rangka apa ke sini?” tanya Marcell setelah melepas pelukan teman baiknya di masa putih abu-abu itu, sekaligus salah seorang karyawan terbaik di perusahaannya.
Bukan tanpa alasan Marcell bertanya seperti itu karena Dilla dan sang suami berasal dari kota yang sama dengannya. Dilla yang merupakan karyawan teladan di kantor Marcellino Group, kala itu terpaksa pindah ke kota ini karena mengikuti suaminya yang seorang abdi negara. Kebetulan, Marcellino Group membuka cabang baru di kota ini, lalu Dilla diminta untuk membantu dan dipercaya menjadi manager keuangan.
“Kami mau menghadiri undangan dari salah seorang rekan Mas Tio,” balas Dilla seraya melirik suaminya yang pendiam.
“Oh, ya, Cell. Gue pikir, lu akan datang bersama si Cantik. Lu udah ketemu sama dia, ‘kan? Lu pasti kaget, ya, bertemu dia di kota ini? Satu kantor lagi. pasti seneng, dong?” cecar Dilla kemudian, membuat Marcell mengernyit heran.
“Kamu tahu Briana ada di kota ini dan bekerja di kantor gue?”
“Oh, My God ….” Tiba-tiba, Dilla menepuk bibirnya sendiri.
“Ada apa, Dil? Apa yang lu ketahui tentang Briana?” desak Marcell setelah melihat kegugupan Dilla.
Dilla menggeleng. “Nggak, Cell. Nggak ada.”
“Jangan bohong, Dil! Gue tahu kapan lu bicara jujur dan kapan lu menyembunyikan sesuatu.” Tatapan Marcell begitu menelisik hingga membuat Dilla tak dapat berkutik.
“Sebenarnya, gue udah janji sama Briana untuk tidak menceritakan pada siapa pun tentang kisahnya.” Dilla menghela napas panjang kemudian.
“Briana nggak akan marah jika lu cerita sama gue,” sahut Marcell.
Dilla terdiam, seolah ragu. Tapi sedetik kemudian, wanita yang tengah mengandung itu menceritakan semua apa yang pernah dia dengar dari Bi Siti dan Briana.
***
“Aku janji, Sayang. Aku akan belajar lebih keras agar bisa segera menyelesaikan studiku. Dan setelah wisuda nanti, aku akan segera melamarmu,” kata Marcell ketika malam itu dia menemui Briana sebelum keberangkatannya ke luar negeri untuk melanjutkan studi.
“Jangan bahas pernikahan dulu, Kak. Yakinkan dulu orang tua Kakak. Mereka sepertinya belum bisa menerimaku,” pinta Briana dengan wajah sendu.
“Ya, Bian Sayang. Aku akan terus berusaha untuk meyakinkan mereka jika pilihanku ini tepat,” kata Marcell dengan tatapan dalamnya pada sang pujaan hati yang masih terlihat bersedih.
Bukan tanpa alasan jika wajah Briana saat ini bergelayut mendung kelabu karena dia tahu, kepergian Marcell ke luar negeri atas paksaan orang tuanya yang sepertinya sengaja ingin memisahkan mereka berdua. Briana mengetahui hal itu dari sikap mamanya Marcell yang tak menyukainya setiap kali mereka bertemu. Perubahan sikap mamanya Marcell itu dimulai ketika Iren mengetahui latar belakang keluarga Briana.
“Percayalah padaku, Bi. Kalau pun Papa dan Mama tetap tidak setuju, aku akan tetap menikahimu meski harus terusir dari rumah,” lanjut Marcell meyakinkan, tapi Briana menggeleng.
“Itu bukan jalan keluar terbaik, Kak.”
“Aku tahu, Bi. Tapi aku nggak bisa tanpamu, Sayang.”
Marcell kemudian merengkuh tubuh mungil Briana dan mendekapnya dengan erat. Untuk sesaat, tak ada lagi obrolan di antara mereka berdua.
Dalam dekapan hangat tubuh Marcell, Briana yang sedang dilanda kegamangan mencoba untuk tenang dan percaya dengan kekasihnya. Sementara Marcell sibuk memikirkan cara untuk dapat meluluhkan hati kedua orang tuanya.
“Kamu jangan memikirkan apapun, ya. Biar aku yang memikirkan, bagaimana cara agar kita bisa bersama. Aku nggak mau kamu jadi sakit karena banyak pikiran, Sayang,” kata Marcell mengurai keheningan.
Masih dalam dekapan hangat Marcell, Briana mengangguk pasrah.
“Udah malam, Sayang. Aku pamit, ya. Maaf, aku nggak mengizinkan kamu mengantarku ke bandara karena pesawatku berangkat dini hari nanti. Aku nggak mau kamu kurang tidur.”
Marcell segera melepaskan pelukannya meski dengan hati yang berat. Lalu, dia pandangi wajah cantik sang kekasih sebelum Marcell benar-benar berlalu meninggalkan Briana. Marcell menoleh sekali lagi sebelum motor sport yang dia kendarai melaju, meninggalkan halaman rumah kekasihnya itu.
Sepeninggal Marcell, Briana menjalani hari-hari tak seperti biasanya. Setiap pagi dia datang ke kampus hanya untuk belajar, lalu pulang. Tak seperti dulu kala masih ada Marcell karena kekasihnya itu pasti akan mengajak Briana untuk nongkrong dulu bersama teman-temannya. Barulah ketika hari beranjak sore, Marcell akan mengantarkan Briana pulang dengan motor sportnya yang gagah.
Hari ini pun sama. Mata kuliah terakhir baru saja selesai dan Briana bermaksud segera pulang. Namun, langkah gadis itu terhenti tepat di depan pintu gerbang kala ada yang memanggil namanya.
“Ada apa, Om?” tanya Briana pada laki-laki dewasa yang merupakan tetangganya.
“Ayahmu masuk rumah sakit, Bri. Ayo, Om antar ke sana.” Laki-laki itu segera membukakan pintu mobil untuk Briana yang masih terkejut, mendengar kabar mendadak tersebut.
“Apa yang terjadi dengan Ayah, Om?” tanya Briana dengan kedua netra berkaca-kaca sesaat setelah mobil yang dia tumpangi melaju.
Tentu saja Briana sangat sedih sekaligus terkejut karena tadi pagi ketika dia berpamitan hendak ke kampus, sang ayah baik-baik saja dan pahlawannya itu juga sudah bersiap untuk berangkat ke tokonya.
“Om nggak tahu pasti, Bri. Ayahmu sudah pingsan ketika Om datang karena mendengar jeritan ibumu meminta tolong.”
“Tadi, Om sempat lihat ada yang datang ke rumahmu sesaat setelah ayahmu pulang. Om nggak tahu orang itu siapa karena baru tadi Om melihatnya. Om juga nggak tahu apakah orang itu punya niatan buruk atau tidak. Tapi yang jelas, sesaat setelah dia keluar dari rumah kamu, ibumu berteriak minta tolong,” lanjut laki-laki itu menjelaskan.
“Kamu yang sabar, ya, dan tenangkan hatimu. Ayahmu pasti akan baik-baik saja karena dia sudah ditangani oleh dokter.”
Mendengar nasihat demikian dari tetangganya itu, Briana bukannya menjadi tenang, tapi malah semakin sesenggukan. Dia yang mengetahui jika sang ayah memiliki riwayat penyakit jantung, tentu saja sangat mengkhawatirkan ayahnya. Bahkan, Briana mulai berpikir yang bukan-bukan.
Setibanya di rumah sakit, Briana tak bisa langsung menemui sang ayah karena cinta pertamanya itu dirawat di ruang ICU. Briana hanya bertemu dengan sang ibu yang langsung menangis tergugu setelah melihatnya.
“Bu. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Briana setelah sang ibu sedikit lebih tenang.
“Apa kamu masih berhubungan dengan Marcell?” Bukannya menjawab pertanyaan Briana, sang ibu malah bertanya.
“Masih, Bu. Kenapa?”
“Mulai sekarang, jangan berhubungan lagi dengan dia, Nak,” pinta sang ibu, membuat Briana mengernyit heran.
Pasalnya, sang ibu yang sudah mengetahui hubungannya dengan Marcell sejak mereka berdua masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu, sangat setuju. Sang ibu juga sangat menyayangi Marcell yang sering berkunjung ke rumahnya bahkan tak jarang menginap di sana karena Marcell—di mata sang ibu—adalah seorang pemuda yang baik dan sopan. Tapi kini, sang ibu tiba-tiba memintanya untuk menjauhi Marcell. Ada apa ini?
“Kenapa, Bu?”
Sang ibu kemudian menceritakan jika tadi ibunya Marcell datang ke rumah. Selain menyuruh ayah dan ibunya itu agar menasehati Briana untuk menjauhi Marcell, mamanya Marcell juga mengancam akan memenjarakan ayah Briana atas kasus korupsi di perusahaannya beberapa tahun silam jika Briana masih berhubungan dengan Marcell. Kasus yang katanya melibatkan ayah Briana hingga laki-laki yang kini terbaring tak berdaya di ranjang pasien itu, dipecat dari kantor Marcellino Group beberapa tahun lalu.
“Ibu baru tahu jika Nak Marcell itu putranya Pak Gun. Andai dari awal Ibu tahu, Ibu tentu akan melarangmu menjalin hubungan dengan Nak Marcell,” lanjut sang ibu di akhir ceritanya.
“Aku juga baru tahu, Bu, kalau Kak Marcell itu anak mantan bosnya ayah. Kupikir, dia dari keluarga biasa karena Kak Marcell nggak pernah neko-neko. Aku memang pernah beberapa kali bertemu dengan mamanya Kak Marcell, Bu, dan aku juga tahu dari sikapnya kalau Tante Iren nggak setuju dengan hubungan kami. Tapi, Tante Iren belum pernah bicara secara terang-terangan melarang hubungan kami.”
Tepat di saat Briana baru saja menyelesaikan perkataannya, ponselnya berdering.
“Siapa, Nak?” tanya sang ibu ketika Briana tak kunjung menerima panggilan tersebut dan hanya memandangi layar ponselnya yang terus berkedip.
“Nggak tahu, Bu. Dari nomor asing.”
“Terima saja, Nak. Siapa tahu penting.”
Setelah sang ibu berkata demikian, Briana kemudian pamit untuk menerima panggilan tersebut.
“Briana!”
Baru saja Briana menempelkan ponsel ke telinganya, terdengar suara seseorang yang sangat familiar memanggilnya dengan nada tinggi.
“Tante Iren?”
“Dengar, Briana! Kamu telepon Marcell sekarang dan putuskan dia! Terserah, kamu mau membuat alasan apa! Setelah itu, jangan pernah muncul lagi di hadapan putraku! Kamu harus tahu, Briana! Kamu itu tidak pantas untuk putraku! Kalian beda level!”
bersambung …