Bab 5. Pengunduran Diri Briana

1443 Kata
"Ya, ampun … gimana ceritanya, Bri? Kenapa bisa sampai seperti ini?” seru Nila yang baru saja masuk ke ruang rawat Briana. “Ini pasti karena kamu nggak fokus berkendara. Benar, ‘kan?” timpal Rasti yang datang bersama Nila. “Apa gara-gara ancaman tunangan dan mamanya Pak Marcell tadi, Bri, kamu jadi melamun sepanjang jalan?" imbuh Rasti yang langsung duduk di samping bad pasien. “Sudah. Kalian jangan banyak tanya dan jangan berasumsi dulu. Biar nanti Briana yang cerita,” sahut Surya yang sudah berada di sana sedari tadi. Ya, tadi begitu Briana mengabarkan pada mereka di grup chat jika dia dirawat di rumah sakit karena kecelakaan, Surya yang baru saja sampai rumah langsung meluncur. Laki-laki itu terlihat sangat mengkhawatirkan Briana. Dia juga berpesan pada Nila dan Rasti agar menjemput Moana terlebih dahulu dari day care dan mengantar anak itu pulang, sebelum mereka menyusul ke rumah sakit. Kecelakaan beruntun yang melibatkan banyak kendaraan tadi, termasuk kendaraan Briana, memang memakan banyak korban. Beruntung, Briana hanya mengalami luka-luka meski tak dapat dikatakan ringan. Padahal, jika menilik motornya yang ringsek dan tak berbentuk, sangat kecil kemungkinannya sang pengendara dapat selamat. Briana ikut diangkut ambulans yang datang untuk mengevakuasi para korban, lalu dirawat di rumah sakit terdekat dengan tempat kejadian. Tadinya, dia ngotot pengen langsung pulang, tapi kepalanya yang terasa berdenyut hampir saja membuat Briana terjatuh ketika memaksa untuk berdiri. Terpaksa, Briana mengikuti saran dokter dan bersedia dirawat hingga kondisinya benar-benar pulih. “Moa nggak rewel, ‘kan?” tanya Briana kemudian. Rasti yang duduk di sisi pembaringan menggeleng. “Dia anak yang manis, jangan khawatir.” “Kalian bilang apa tadi sama dia, kalau malam ini aku nggak pulang?” lanjut Briana yang terlihat masih mengkhawatirkan Moana. “Seperti biasa, Bri. Bunda lembur.” Kali ini, Nila yang menjawab sembari mengupas buah pir. Lalu, memberikan buah itu pada Briana. Briana menggeleng, menolak dengan halus buah yang sudah dipotong-potong Nila. Wanita itu menghela napas pelan kemudian. Tiba-tiba matanya terasa memanas. Briana tak tahu kehidupan seperti apa yang akan menantinya di depan sana dengan keputusan yang akan dia ambil sekarang. Apakah ini akan baik untuk Moana? Itulah yang saat ini memenuhi benaknya. Untuk sesaat, keheningan tercipta di ruangan bercat putih bersih itu. Briana masih terdiam. Sementara ketiga sahabatnya hanya saling pandang. “Siapa yang besok bisa datang lebih awal ke kantor?” tanya Briana memecah keheningan. “Untuk?” Surya yang masih setia berdiri di sisi ranjang pasien itu mengerutkan kening. Briana kemudian mengambil ponsel yang tadi dia simpan di samping bantal. “Sebelum kalian datang tadi, aku udah membuat surat pengunduran diri.” “Mereka hanya menggertak, Bri. Lagian, jika memang benar mereka menginginkan kamu dipecat, belum tentu Pak Marcell akan setuju karena kinerjamu bagus dan kamu karyawan lama.” Rasti dan Nila mengangguk setuju dengan perkataan Surya. Namun, Briana menggeleng. “Kalian tidak tahu seperti apa Nyonya Iren. Kalau pun Pak Marcell tidak setuju, Nyonya Iren bisa melakukan apa pun untuk membuatku keluar dari perusahaan bahkan menghilang dari muka bumi ini.” Briana menghela napas berat kemudian. Sementara ketiga sahabatnya kembali saling pandang. “Apa kamu belum ingin menceritakan pada kami?” tanya Rasti yang teringat dengan pertanyaannya di parkiran motor tadi dan belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Briana. Briana mengangguk. “Aku akan cerita. Maaf, jika selama ini aku nggak terbuka untuk yang satu itu. Kupikir, itu hanya masa lalu yang sudah seharusnya kukubur. Tapi ternyata, semesta berkehendak lain. Kami dipertemukan kembali setelah hampir lima tahun berlalu.” Rasti menggenggam tangan Briana. “Nggak perlu minta maaf, Bri. Kami tahu, kamu pasti punya alasan tersendiri kenapa nggak ingin membuka masa lalumu dengan Pak Marcell. Pasti sangat berat, apa yang telah kamu lalui selama ini.” “Ya, Rasti benar. Dan kami bangga padamu, Bri. Kamu wanita tangguh. Kamu mampu melewati semua dan tetap bisa ceria,” timpal Nila dengan tatapannya yang hangat. “Tapi jika kamu merasa nggak nyaman untuk menceritakan masa lalumu itu, kamu nggak perlu cerita, Bri,” kata Surya yang masih setia berdiri di samping Briana. Surya tentu tak ingin membuat Briana merasa tidak nyaman. Briana menggeleng. Wanita itu kemudian menceritakan jika dia dan Marcell menjalin hubungan spesial sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Hubungan mereka terus berlanjut hingga ke bangku perguruan tinggi. Namun, hubungan itu harus kandas setelah orang tua Marcell mengetahui siapa Briana dan dari mana asal-usulnya. Setelah itu, dengan caranya Briana dipaksa Iren untuk pergi jauh meninggalkan Jakarta. “Karena itulah, lebih baik aku mengundurkan diri sebelum dipecat dengan tidak hormat," kata Briana di akhir ceritanya. “Lalu, kamu mau ke mana, Bri?” tanya Rasti yang kini kedua matanya sudah berembun. “Jangan cengeng! Jangan bikin Briana jadi makin sedih karena sifat melomu itu,” sahut Nila. “Bukan seperti itu maksudku, Nil. Aku ‘kan juga pengen tahu, apa rencana dia selanjutnya?” “Kita akan pikirkan sama-sama bagaimana nanti jika Briana sudah sembuh,” sahut Surya yang disetujui kedua sahabatnya. Sementara Briana tersenyum penuh rasa terima kasih pada mereka bertiga yang selalu ada untuknya. *** Di kediaman Marcell, perdebatan sengit pun terdengar. Marcell menolak keras permintaan mamanya yang menginginkan agar Briana dipecat dari perusahaan. “Dia pasti sudah mempengaruhimu sehingga kamu kekeuh mempertahankanya!” seru Iren dengan sorot kekecewaan terhadap sang putra karena permintaanya ditentang. “Dari dulu, dia memang selalu membawa pengaruh buruk buatmu!” lanjutnya, lalu mendengkus. “Pengaruh buruk apa, Ma?” “Melawan Mama!” sahut Iren sambil berpaling, membuang muka ke arah lain. Marcell menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. Bagaimana pun, yang dia hadapi saat ini adalah mamanya. Wanita yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkannya. Karena itulah, sebisa mungkin Marcell berusaha untuk berbicara pelan agar tidak menyakiti hati mamanya. “Ma. Memecat karyawan tanpa alasan jelas, apalagi mengada-ada, bukankah itu tindakan yang tidak etis dan sangat tidak bijaksana, Ma?” “Mengada-ada bagaimana, Sayang? Terang-terangan Ja lang itu menggodamu, apa alasan itu kurang kuat untuk memecatnya?” sahut Giska yang sedari tadi diam menyimak. Giska masih ingin melanjutkan ucapannya, tapi tatapan tajam Marcell berhasil membungkam mulut wanita seksi itu. “Aku lelah, Ma, mau istirahat. Maaf, jika untuk kali ini, aku tidak bisa memenuhi keinginan Mama.” Setelah berkata demikian, Marcell segera berlalu meninggalkan sang mama dan Giska yang masih terlihat kesal wajahnya. “Tan! Kita nggak bisa diam saja seperti ini! Kita harus melakukan sesuatu, Tan! Aku nggak mau kalau sampai Marcell berpaling gara-gara wanita kampungan itu!” “Diamlah, Gis! Tante pusing!” Iren segera berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Giska yang semakin kesal saja. Merasa tak ada yang membelanya, Giska kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Bisa kita bertemu? Ada tugas untukmu!” *** Keesokan harinya, Marcell dibuat terkejut dengan surat pengunduran diri Briana yang baru saja dia terima dari pihak HRD. Tanpa bertanya, Marcell segera berlari keluar dan mengabaikan panggilan Hendri. “Di mana, dia?” gumam Marcell setelah tiba di luar gedung. Tatapannya mengedar ke area parkir kendaraan khusus karyawan. “Pak Marcell, Briana tidak datang ke kantor pagi ini,” kata Hendri yang terpaksa mengejar Marcell untuk meluruskan dugaan bosnya itu. Napas lelaki paruh baya berperut buncit tersebut terdengar memburu karena harus berlari, mengejar langkah panjang dan cepat lelaki muda seperti Marcell. Mendengar perkataan kepala HRD itu, Marcell mengerutkan kening. Lalu, dia mengangkat lembar putih yang masih berada di tangannya. “Mas Surya yang tadi mengantar surat itu ke ruangan saya.” “Surya?” Jelas terlihat sorot kecemburuan di mata Marcell mendengar perkataan Hendri barusan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Marcell segera berlalu meninggalkan Hendri yang masih kebingungan. Satu tujuan Marcell kini, yaitu menemui Surya dan meminta penjelasan dari karyawan yang dia ketahui menyimpan perasaan terhadap Briana. Sambil berjalan, Marcell menelepon Megan dan meminta agar Surya segera menghadapnya. Namun, jawaban yang dia terima dari manager di divisi keuangan itu, berhasil membuat Marcell semakin frustrasi karena ternyata hari ini Surya juga izin tidak masuk bekerja. “Ke mana mereka? Apa Surya saat ini bersama Briana?” Marcell terus menerka-nerka. Kecemburuan, kemarahan, dan kecewaan karena tiba-tiba Briana mengundurkan diri tanpa ada pembicaraan apa-apa sebelumnya padahal setiap hari mereka bersama, membuat pikiran Marcell menjadi buntu dan tak tahu harus ke mana mencari Briana. Marcell bahkan melupakan jika masih ada dua sahabat Briana yang bisa saja dia mintai keterangan. Marcell juga melupakan, kalau dia bisa mendatangi tempat tinggal Briana dari alamat yang bisa didapatkan dari bagian personalia. Atau, menyuruh anak buahnya untuk melacak keberadaan Briana. Benar adanya jika kemarahan dan kecemburuan dapat membuat seseorang menjadi bodoh bahkan terkadang bertindak di luar nalar. Marcell terpaksa mengabaikan sejenak urusan Briana ketika salah seorang sahabat menelepon jika saat ini dia berada di kota tersebut dan ingin bertemu dengannya. “Oke, Dil. Gue meluncur sekarang.” bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN