Semerbak mentari menyapa dunia. Kemilau cahayanya menyinari bumi. Cuaca hangat menyambut pagi Kota London yang cerah. "Pagi, Istriku," sapa Reagan. Mendekati istrinya yang sedang berada di dapur. Menunggu panggangan rotinya selesai. Ia merangkul pinggang wanita itu dari belakang. Mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Wangi sekali," pujinya. "Benarkah? Padahal ini sampo yang biasa kamu gunakan," timpal Selina. "Aku bilang roti buatanmu wangi. Pasti enak." "Huh!" Selina memanyunkan bibirnya karena suaminya mempermainkannya. "Sepertinya kamu benaran sudah sembuh ya. Padahal kemarin kamu bahkan tidak bisa melawanku," ledeknya. Reagan tertawa kecil melihat istrinya yang sedang kesal. "Iya, Sayang. Semua berkat perhatian dan 'service'mu semalam," pujinya. Wajah Selina merona merah. Ia

