Jackson memejamkan matanya sejenak. Menarik napasnya panjang, lalu berucap, "Apa kamu tidak bisa menghapus dendam di hatimu, Reagan?" "Kenapa? Apa sekarang Daddy tidak bisa menyangkalnya lagi?" Reagan menatap ayah angkatnya dengan tajam. "Daddy mengakui kalau Daddy terlibat dengan kejadian itu? Apa jangan-jangan Daddy juga mengenal sosok pembunuh itu?" Jackson menghela napas pelan. Pertanyaan bertubi-tubi dari bibir Reagan seolah menyudutkannya sebagai pelopor dari aksi pembunuhan Gerald dan istrinya. "Bukan Daddy yang mengutus pembunuh untuk menghabisi nyawa mereka," tampiknya. Reagan mendengkus sinis. Ia masih tidak mempercayai ucapan ayah angkatnya. Pria paruh baya itu sudah membohonginya terlalu lama.Tidak alasan baginya untuk percaya sepenuhnya dengan perkataannya. Jackson menghel

