Selina berdiri mematung di tempatnya. Ia cukup syok menghadapi pria yang tengah berdiri di hadapannya dengan senyuman menggantung di kedua sudut bibirnya. "Jus-Justin … Kenapa malah kamu yang di sini?" tanya Selina dengan pikirannya yang masih kusut. Ada rasa kecewa yang merayap di dalam hatinya. Padahal tadi ia yakin Reagan yang sedang mempermainkannya, tetapi siapa yang mengira kalau tebakannya salah besar. "Memangnya kalau bukan aku, ada orang lain yang mau menemuimu?" Ekspresi wajah Justin telah berubah nanar. Ia memandangi Selina dengan tatapan menyelidik. Mencari jawaban di wajah wanita itu. Selina menunduk. Tidak berani menatap langsung mata pria itu. Setelah menenangkan pikirannya sejenak, ia kembali mengangkat wajahnya, lalu menghela napas pelan. Mencoba menarik kedua sudut bib

