Burhan bangkit dari sandarannya di tepi meja dan meremas kedua bahu putranya. “Kau ini putra Ayah yang pintar, pasti kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Menangkan kembali hatinya dan berhentilah memberikan harapan pada wanita-wanita yang selama ini kamu temui. Jika sampai saudara Kamini tahu, sudah pasti tamat riwayatmu, kau sama sekali tidak bisa mendekati Kamini.” Burhan menunduk dan mencium puncak kepala putranya. Burhan berjalan ke arah pintu. “Ayah pergi, jangan lupa nanti jemput anak-anak sekolah.” Kamini berdiri di samping mobilnya dengan memberikan beberapa bungkusan kudapan kepada para pekerja sembari bersenda gurau. Ini adalah rumah makan kelima miliknya. Rejeki anak soleh nggak kemana ye kan. Ora et Labora Berdoa dan bekerja. Ia merasa tertarik memandang ke seberang jal

