Chapter 47

1595 Kata

Terdengar isak tangis dari ujung lain telepon. “Mas kenapa bisa begitu Tan?” “Aku nggak tahu Teh. Aku takut, Mas udah beda banget. Nggak mau kerja, nggak mau tengok anak dan cuma ngurung diri di kamar terus.” “Apa mungkin dia depresi?” “Bisa jadi. Dia sedang patah hati dan dipermalukan.” “Aku tahu, tapi apa boleh buat dia sudah mengusirku. Aku tidak berani menemuinya.” “Aku tahu Teh. Aku Cuma bisa mengabari ini saja. Anak-anak dari tadi sedikit rewel, sekarang saja Kenzo masih di gendong Dira.” “Kasihan anakku.” Kamini segera menutup teleponnya saat mendapati kakak sulungnya bersedekap dan bersandar di kusen pintu kamar Janu, sang putra. “Ingat Ami, Abang tidak mau tahu lagi. Kamu tidak boleh berurusan dengan Diran. Selain urusan putramu yang berada di tangannya.” “Kalau dia berani

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN