Saat ini Rhaegar berada di ruang kerjanya sedang membakar kertas yang berisi pesan dari Raja Sameer. Raja Sameer menolak permintaannya untuk bekerja sama dan tidak menyetujui niatnya yang ingin menikahi putri Gianetta.
Saat itu juga Kaisar terbesar, Rhaegar memerintahkan seluruh prajuritnya untuk bersiap menyerang kerajaan Rhys. Strategi yang sudah dibentuk sebelumnya sangat mempermudah mereka dalam menyerang. Rhaegar mengerahkan seluruh panglima dan prajurit terkuatnya. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah berangkat menuju kerajaan Rhys untuk melakukan penyerangan.
***
-Kerajaan Rhys
Seorang prajurit penjaga perbatasan wilayah kerajaan datang dengan tergesa-gesa kedalam ruang kerja Raja Sameer tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terlihat dari raut wajahnya yang sangat panik.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Pasukan Kaisar Rhaegar datang menyerang kita dan saat ini mereka sudah memasuki wilayah kerajaan."
Raja Sameer terkejut dan dengan segera ia memerintahkan seluruh prajuritnya untuk menyerang pasukan Rhaegar.
Keluarga kerajaan terkejut dan sangat panik. Sebelum keberangkatan raja Sameer dan para pasukannya, keluarga kerajaan berdoa bersama untuk keselamatan dan kemenangan mereka.
Putri Gianetta sangat khawatir. Ia tidak bisa membayangkan jika nantinya Ayahnya akan kalah atau bahkan akan mati ditangan Kaisar kejam itu. Yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa.
"Ibu... Aku takut. Bagaimana jika nanti kita kalah dan Ayah ..."
"Sstt! Tidak. Ayahmu akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu, kita hanya harus berdoa untuk keselamatan mereka," ujar Ratu Miraya menenangkan putrinya. Sebenarnya ia juga sangat khawatir, tetapi ia menutupi itu semua untuk menenangkan putrinya. Untuk sementara, saat ini Ratu Mirayalah yang bertugas menjaga dan memantau keadaan kerajaan Rhys. Harus selalu siaga jika sewaktu-waktu musuh datang menyerang. Jumlah prajurit yang tinggal di kerajaan hanya sedikit, karena sebagian besar prajurit sudah pergi ke medan perang.
Ditempat lain, perang besar pun terjadi. Tidak butuh waktu lama, pasukan kerajaan Rhys semakin berkurang dan melemah. Entah sudah berapa banyak jasad yang tergeletak di tanah. Pasukan kerajaan Rhys yang kalah jumlah semakin mudah dikalahkan oleh pasukan kerajaan Tsarka. Pasukan kerajaan Rhys yang hanya berjumlah sekitar seribu prajurit sangat mudah dikalahkan oleh pasukan kerjaan Tsarka yang berjumlah dua ribu prajurit. Penyerangan yang tidak diduga membuat kerajaan Rhys tidak sempat meminta bantuan pada kerajaan lain.
Sebenarnya Kaisar Rhaegar dapat dengan mudah mengalahkan mereka. Namun, sifatnya yang selalu ingin menyiksa membuatnya bermain cukup lama. Hingga akhirnya ia mulai bosan dan menyerang Raja Sameer secara membabi buta. Raja Sameer yang tidak bisa mengimbangi kekuatan Rhaegar tidak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak tumbang. Ia tersungkur ditanah dengan luka parah disekujur tubuhnya. Saat ingin bangkit, pedang Rhaegar yang sangat tajam sudah mengarah tepat pada wajahnya. Panglima Theur yang merupakan putra sulung Raja Sameer yang melihat itu panik dan segera menghampiri mereka dan langsung menyerang kaisar Rhaegar namun Rhaegar dengan cepat menghindar.
"Kalian Mati atau Mengaku Kalah !?"
Raja Sameer yang sudah tersungkur ditanah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menahan rasa sakit yang teramat sangat. Lengan, wajah, kaki dan perut yang sudah tergores oleh pedang yang tajam selalu mengeluarkan darah segar. Panglima Theur, putra sulung raja Sameer juga tergeletak tak berdaya disamping ayahnya itu.
"Menyerahlah! Kalian akan tetap melawan atau...
Putri dan Istrimu akan ... ahh. Kurasa kalian mengerti maksudku!"
Seketika mata Raja Sameer dan Panglima Theur membola. Nyawa mereka menjadi taruhan atas perang ini. Benar-benar licik!!
"Kurang ajar!! Apa yang kau lakukan pada mereka!" Raja Sameer berusaha bangkit namun tidak bisa. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal menahan amarah.
"Dasar licik! Kami tidak akan menyerah!" Panglima Theur bangkit berdiri namun saat ingin melayangkan pedangnya kearah Rhaegar tiba-tiba tubuhnya tidak bisa dia gerakkan.
"Apa yang kau lakukan Sialan!!" Panglima Theur berusaha bergerak namun tetap tidak bisa.
Rhaegar terlihat tetap santai. Ia mengunci pergerakan Ayah dan Anak itu menggunakan kekuatannya.
"Hahahah. Kalian tahu!? Aku bisa memerintahkan prajuritku untuk membunuh semua orang kerajaanmu SAAT INI JUGA!" ujar Rhaegar dengan menekankan kata terakhirnya.
"Jadi, sebaiknya menyeralah sebelum aku membunuh kalian semua terutama Istrimu dan .... putri kesayanganmu itu!!. Seharusnya kau sudah tahu apa yang terjadi di kerajaanmu saat ini!"
"Ahhkkk!!" pekik Panglima Theur saat dia merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Sakit seperti disengat listrik.
Rhaegar tersenyum miring dan menoleh ke arah raja Sameer.
"Bagaimana RAJA SAMEER!?"
"Jangan Ayah!! Ja- Ahkkk.!!"
Perkataan Panglima Theur terpotong saat merakasakan sakit diseluruh tubuhnya namun masih tetap dalam kondisi kaku.
"Pikirkan Anak dan Istrimu! Kerajaanmu! Dan juga Pendudukmu! Kau ingin mereka semua lenyap? Padahal usahamu melawanku akan sia-sia!"
Raja Sameer terdiam sejenak seraya memegang dadanya yang sakit namun kembali bersuara.
"Ba-baiklah. A-aku Raja Sameer a-akan mematuhimu dan tunduk pa-padamu."
Saat perkataan Raja Sameer keluar dari mulutnya sendiri, saat itu juga kekuatan yang mengunci mereka lenyap.
"Ayahh!! Apa yang kau lakukan!. Tarik kembali ucapanmu!" Panglima Theur menatap nanar Ayahnya yang sedang terkujur lemah.
"Hahahaha. Tindakanmu memang sudah benar, Raja Sameer!"
Rhaegar memberikan perintah pada prajuritnya untuk mengibarkan bendera kerajaan Tsarka pertanda bahwa kemenangan sudah ada pada mereka. Perangpun akhirnya berhenti sebelum matahari tenggelam.
Dan kini seluruh wilayah kerajaan Rhys sudah jatuh ke tangan Kaisar Rhaegar.
Rhaegar merasa senang dan puas. Sangat Puas !
***
(Dikerajaan Rhys pada waktu yang bersamaan)
Seorang prajurit datang menemui Ratu Miraya dengan wajah yang sangat panik.
"Ratu! Ratu! Ada pasukan lain yang menyerang kita Ratu! Mereka sudah masuk kedalam kerajaan. Sekarang Ratu dan Putri Gianetta harus berlindung. Ratu dan Putri harus pergi ke ruang bawah tanah Istana."
"Apa!! Bagaimana bisa !?"
Sebelum menjawab pertanyaan Ratu Miraya, pintu ruang kerja Raja Sameer sudah dibuka paksa sampai pintu itu hancur.
Sebelum melakukan pergerakan, pedang tajam dan panjang itu sudah mengarah pada leher mereka berdua.
Tiga orang dengan pakaian yang serba hitam dengan penutup wajah sudah mengepung mereka.
Ratu Miraya yang hendak berontak langsung diikat tangannya oleh salah satu penjahat yang mengepung mereka.
"Siapa kalian!? Apa yang kalian lakukan!? Lepaskan!!" bentak Ratu Miraya meronta-ronta.
"Diamlah!!" Salah satu diantara penjahat itu membentak Ratu Miraya dan mengarahkan pedangnya keleher Ratu Miraya. Tak lama setelah itu mereka menutup mulut Ratu Miraya menggunakan kain yang diikatkan kebelakang kepalanya.
Penjahat itu membawa paksa mereka menuju aula kerajaan dan menghempaskan Ratu Miraya ditengah tengah ruangan besar itu. Semua orang penghuni istana dan warga kerajaan sudah ada disana dengan kondisi yang sama seperti dirinya.
Dan berapa terkejutnya ia melihat Putrinya yang tak sadarkan diri dikursi yang ada disana dengan tangan yang terikat. Sama seperti dirinya, namun mereka tidak menutup mulut putri Gianetta. Ia hanya bisa menangis menunggu suaminya pulang.