Hari ke dua menjalankan misi, masih tersisa lima hari lagi untuk kembali ke apartemen dan bertemu Alanis.
David masih berambisi bahwa ia akan mendapatkan rekaman perselingkuhan Alanis dan teman laki-lakinya. Tidak perduli mereka pasangan selingkuh sungguhan atau bukan.
Ketukan di pintu kamar hotel yang ia tempati mengusik David. Berdiri dan bergegas membuka pintu, pria yang saat ini mengenakan pakaian santainya menemukan sekertaris kantornya tersenyum dan menyapa sopan.
David memang sengaja menugaskan asistennya untuk mengantarkan segala macam berkas penting yang harus ia pelajari atau ia tanda tangani selama ia melakukan misinya. Sesekali David akan menerima pekerjaannya lewat email.
David mengajak asistennya untuk masuk dan sedikit membicarakan masalah tentang kapal-kapal tanker minyak milik perusahaannya.
Meskipun terlihat cekatan dan dapat diandalkan seperti biasa, David dapat melihat guratan lelah di wajah James. Tanpa basa-basi David lalu bertanya, "Ada apa James. Kau nampak sangat lelah. Apa ketidakhadiranku di kantor menambah bebanmu?" Bukan apa-apa, usia James terpaut lima tahun lebih tua dari David. Dan karena selama ini ia menghargai James sebagai mitra kerja serta kakak ia tidak bisa mengabaikan kondisi James.
"Tidak, David. Aku hanya ada sedikit masalah dengan istriku."
David memang memyuruh James untuk memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan saat mereka hanya berdua.
"Kau bisa menceritakannya jika bisa membuatmu lebih lega." David dan james memang selalu bertukar banyak cerita kehidupan mereka, kecuali rencana untuk menceraikan Alanis dan hubungannya dengan Cecilie, David tentu tidak akan menceritakannya pada siapapun.
"Beberpa hari ini istriku selalu marah-marah. Aku pulang dari kantor dalam keadaan lelah dan mendengar segala protesannya ketika sampai di rumah membuatku menjadi kesal. Aku mencoba memakluminya karena saat ini ia sedang hamil. Dokter kandungannya bilang bahwa saat hamil hormon wanita tidak terkontrol. Terkadang marah, senang, sedih. Awalnya kami bertengkar kecil namun semalam adalah puncaknya, aku membentaknya hingga ia menangis lalu masuk ke dalam kamar lain dan mengunci dirinya semalaman."
"Sampai tadi pagi?" David bertanya prihatin. James mengangguk.
"Aku menyesal. Sepanjang perjalanan tadi aku sadar. Ia hanya ingin aku meluangkan waktu untuknya. Pasti sangat berat untuknya mengurus rumah dan anak pertama kami seharian tanpa bantuan siapapun, ditambah kondisinya yang mengandung. Tapi aku malah tidak pernah perduli padanya sedikitpun. Wajar kalau ia protes padaku."
David termenung. Haruskah Ia bersyukur karena selama ini tidak pernah mendengar kemarahan Alanis dan segala bentuk protes dari mulut istrinya?
Alanis juga mengurus apartemen tanpa batuan siapapun ditambah bekerja, walau hanya duduk di depan laptop selama berjam-jam.
Dan saat ini perempuan itu juga sedang mengandung. Wanita itu tidak protes walau David tidak memperdulikan bahkan terkesan tidak mengakui janin yang sedang Alanis kandung. Padahal, Alanis bisa menuliskannya pada buku kecil yang tak pernah lepas dari wanita itu saat harus berkomunikasi dengannya.
Tapi apakah hal itu baik-baik saja?
Alanis menyimpan dukanya seorang diri tanpa bisa melampiaskan kesedihan dan kemarahannya lewat ucapan. Perempuan itu juga tidak punya tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya.
Hah? Kenapa ia malah memikirkan semua itu?
"David?"
"David?Hey?"
"Ya?" David tersadar saat James menepuk bahunya.
"Kau melamun, ada apa?"
David menggeleng," tidak ada apa-apa. Aku hanya berkipir haruskah aku memberimu libur, agar kau bisa menghabiskan waktumu bersama istri dan anakmu?"
James tertawa, "tak perlu David. Aku menceritakan semua itu semata-mata hanya agar hatiku lega dan bisa membuatmu yang mendengar dapat mengambil pelajaran untuk kehidupan rumah tanggamu juga. Aku tau, kau juga memiliki masalah kan denga istrimu?"
"Aku?" David menunjuk dirinya sendiri, "tidak."
Lagi-lagi James tertawa, "kalau kau tidak memiliki masalah kau tidak akan bersembunyi di hotel ini tanpa alasan, David."
------------------------------------------------------
Hari ke tiga, David masih bertahan dengan asumsinya. Walau entah kenapa sekarang ia merasa ada hal yang lebih membuatnya antusias ketimbang mencari bukti perselingkuhan istri bisunya.
Tiga hari memantau aktivitas Alanis di dalam apartemen mereka menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan. Banyak hal yang akhirnya David ketahui dengan melihat Alanis dari rekaman kamera yang ia pasang.
Tanpa David sadari, niat untuk mencari bukti perselingkuhan Alanis terkikis. Apalagi jika David melihat Alanis dengan kondisi seperti saat ini. Perempuan berambut pirang berstatus istrinya sedang mengganti pakaian yang terlihat sudah agak sempit di bagian perut.
David sempat berpikir untuk pulang ke apartemen dengan alasan ada sesuatu yang tertinggal lalu kembali memasang kamera tambahan di dalam kamar mandi mereka. Sungguh pemikiran yang gila. Ia seperti laki-laki c***l yang ingin melihat pemandangan erotis dari perempuan yang ia inginkan.
Karena bagaimana pun, Alanis satu-satunya perempuan yang pernah tidur dengannya. Wajar, sampai saat ini David tidak menginginkan wanita lain. Fisik Alanis terlalu bagus untuk di lewatkan begitu saja. Salah satu kelebihan yang dapat menutupi kekurangan lainnya.
------------------------------------------------------
Hari ke empat ...
David bangun kesiangan dan tidak mendapati Alanis di dalam apartemen mereka. Saat rekaman diputar mudur, David bisa melihat bahwa Alanis pergi dari Apartemen sejak pukul sembilan pagi dan baru kembali saat sore hari.
David berasumsi kalau Alanis pergi untuk berbelanja bulanan. Plastik berisi sayur dan buah-buahan tergeletak di atas meja dapur serta beberapa kantong lain yang entah berisi apa.
David berdecak tidak suka. Ia mati-matian bekerja pagi hingga malam namun hasilnya malah digunakan oleh Alanis sesuka hati. Perempuan itu berbelanja lebih banyak dari biasanya saat ia tak ada. Sangat-sangat cerdik!
Alanis keluar dari dapur menuju kamarnya dan David dengan menjinjing beberapa kantong belanja dengan logo sebuah brand untuk baju wanita. Lagi-lagi David mendengus sinis. Benci melihat Alanis yang di depannya dan orang lain selalu bersikap lugu dan sederhana namun ketika ditinggal sendiri kelakuan perempuan itu terlihat. Menghambur-hamburkan uan--
Tunggu. Menghamburkan uang?
Jantung David tiba-tiba berdetak lebih cepat saat dia teringat akan sesuatu.
David mencoba mengingat kembali namun ternyata tetap tidak menemukan hal yang ingin ia ingat.
Setelah menikahi Alanis, David memang telah meniatkan dirinya untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan ekonomi Alanis. Ia telah menyiapkan sebuah kartu ATM yang tak pernah lupa ia isi dengan nominal lebih dari cukup setiap bulannya, namun... ada kejanggalan yang David rasakan saat ini.
Tanpa kata ia berlari ke dalam kamar. Bergegas mencari dompet kulit miliknya. Dan benar saja saat memeriksa bagian dompet untuk menyelipkan kartu-kartu tipis penyimpan uangnya David menemukan satu kartu yang seharusnya telah berpindah tangan kepada Alanis masih tersimpan di dalam dompetnya.
Mengumpat, David lalu membanting dompetnya ke atas kasur. Merutuki kebodohan yg ia buat berbulan-bulan. Bagaimana bisa, seorang pebisnis sukses hidup dari penghasilan istrinya yang tidak seberapa?
Ia merasa terhina karena selama menikah kebutuhan sehari-hari seperti makan adalah hasil dari gaji wanita tunawicara yang dengan bodohnya tidak pernah meminta haknya sebagai istri yang harus dinafkahi.
Mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. David berencana kembali ke apartemennya, untuk memberikan sedikit pelajaran kepada Alanis atas ke bodohannya sepanjang mereka menikah.
-----------------------------------------------------------
Tbc~~~