David telah memikirkan rencana ini sepanjang hari. Memasang kamera pengintai di setiap sudut ruangan apartemennya.
Bukan karena mengincar pencuri melainkan untuk mendapatkan bukti perselingkuhan Alanis agar ia dapat segera menceraikan wanita itu. Terlepas dari benar atau tidaknya perselingkuhan itu David tidak perduli, toh Alanis akan sulit menyangkal dengan keterbatasannya yang sulit bicara. Ia harus memiliki bukti karena tidak mungkin tiba-tiba mau menceraikan Alanis tanpa alasan yang logis. Orangtuanya pasti tidak akan setuju.
Setelah semua kamera terpasang, David akan pura-pura pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis beberapa hari. Jika Alanis memiliki hubungan dengan laki-laki kemarin tentu kesempatan yang David berikan akan sangat menguntungkan.
------------------------------------------------------
Alanis terbangun dengan rasa mual yang amat sangat. Tidak jelas sejak kapan, yang pasti tiap pagi ia akan terbangun karena rasa mual.
Tanpa melirik David yang masih tertidur, Alanis masuk ke kamar mandi menuntaskan rasa mual dan sekaligus membersihkan diri.
David telah duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah pintu kamar mandi saat Alanis keluar dengan kaos biru dan rok sebatas lutut berwarna hitam. Sejak kemarahan David begitu mengetahui kehamilannya, Alanis selalu mengganti baju di dalam kamar mandi. Bukan apa-apa. Alanis hanya merasa kini hubungannya dan David tidak bisa seperti dulu lagi. Ia bagaikan pelayan yang tinggal di apartemen David sampai laki-laki itu memutuskan untuk memecatnya. Menyingkirkan Alanis dari apapun yang berhubungan dengannya.
Setelah kejadian di The Balti House, David tidak pernah memberikan penjelasan apapun pada Alanis. Alanis pun tidak pernah mencoba untuk meminta penjelasan karena merasa tidak siap mendengar penjelasan David yang pasti akan membuatnya sakit hati. Bukan karena takut hidup susah setelah diceraikan, karena gaji yang tiap bulan ia dapatkan dari menjadi penerjemah sudah cukup besar untuk menghidupi dia dan calon anaknya. Alanis hanya belum siap kehilangan orangtua sebaik Kathrine dan Daniel. Mereka menyayanginya seperti anak kandung. Alanis sudah putuskan, selama David belum menceraikannya, Alanis akan tetap bertahan. Setidaknya Alanis ingin saat melahirkan nanti ia tak berjuang melaluinya seorang diri. Ia berharap Kathrine mau menemaninya ketika ia bertaruh nyawa melahirkan keturunan Matthew. Memberikan kekuatan layaknya seorang ibu pada putrinya.
Biarlah David tidak perduli, Alanis tidak akan memaksa. Ia cukup sadar diri untuk tidak berharap bahwa laki-laki yang telah ia cintai itu mau mempertahankan pernikahan mereka. Dirinya tidak seistimewa itu untuk dipertahankan.
Alanis berubah menjadi kikuk saat David berjalan kearah kamar mandi. Kini setiap pagi, David akan bangun dengan sendirinya karena terganggu dengan suara muntah Alanis. Tanpa kata David melewati Alanis dan masuk ke kamar mandi.
Suasana akan makin canggung saat Alanis dan David sarapan. Meskipun sadar jika ia tidak diinginkan, namun Alanis tetap berusaha menjalani perannya sebagai seorang istri.
"Ada yang harus kita bicarakan."
Alanis mendongak, mengalihkan tatapan dari piring makanannya ke wajah David yang terlihat serius.
Mengangguk sebagai persetujuan, Alanis biarkan David meneruskan pembicaraannya.
"Aku rasa kau sudah sangat paham bagaimana perasaanku padamu," Jeda sejenak, "aku tidak yakin bisa melanjutkan pernikahan ini."
Alanis menahan nafas mendengar pengakuan David. Secepat inikah batas David hidup bersama dirinya. Tidak perduli bahwa saat ini ia sedang mengandung darah dagingnya, anak mereka. David rupanya tidak sabar untuk berpisah.
Tidak ada jawaban dari Alanis, rasa-rasanya ia tidak sanggup untuk menulis apa yang ada dipikirannya.
"Apa kau mendengarku?"
Alanis mengangguk lemah sebagai jawaban tanpa menatap mata David.
David menyudahi sarapannya lalu kembali berkata, "aku akan pergi untuk urusan bisnis selama seminggu. Aku ingin pembicaraan kita ini tidak terdengar oleh kedua orangtuaku."
David lalu pergi meninggalkan Alanis yang hanya bisa tertunduk dalam tanpa memberikan penjelasan berarti akan hubungan mereka. Apa maksud David sebenarnya? Sejak awal menikah laki-laki itu berperan layaknya seorang suami sungguhan. Tidak ada kepura-puraan dalam menjalani hidup berdua dengan dirinya. Lalu, kenapa sekarang berbeda?
------------------------------------------------------
Bel apartemen berbunyi, saat Alanis sedang berkutat dengan laptopnya. Dan ketika pintu dibuka Alanis langsung disuguhkan cengiran lebar dari seorang laki-laki jangkung yang merupakan sahabat lamanya.
Setelah berbasa-basi sedikit, Alanis mengajak laki-laki jangkung itu masuk ke ruang tamunya.
David terus memperhatikan layar yang terhubung dengan kamera yang telah ia pasang di setiap sudut ruangan. Matanya tak lepas dari Alanis dan seorang laki-laki yang ia curigai sebagai selingkuhan istrinya. Laki-laki yang dua hari lalu datang ke apartemennya.
Selama seminggu kedepan, David menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari kantornya guna memata-matai Alanis.
Satu jam berlalu tetapi tidak ada hal mencurigakan dari pasangan yang sedang David intai hingga akhirnya ia memilih meninggalkan layar datar tersebut dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Jadi, pekerjaan apa yang kau dapat Nick?"
Laki-laki yang dipanggil Nick itu tersenyum, "tidak terlalu bagus, namun gajinya cukup untuk menghidupi aku dan adikku."
"Dan, pekerjaan apa itu?"
"Mencuci piring di salah satu restoran."
"Restoran apa?"
"The Balti House. Kau tau, di sana terkenal sebagai restoran yang sangat cocok untuk makan malam romantis bersama pasangan. Aku sarankan jika suamimu punya waktu luang, ajaklah ia untuk makan malam disana."
Alanis tersenyum tipis, dia takkan mau, kata Alanis dalam hati.
"Ngomong-ngomong, apa suamimu tidak pernah pulang lebih cepat? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Beberapa kali aku hanya bisa melihat wajahnya di majalah bisnis. Aku penasaran bagaimana rupa aslinya, mengingat pernikahanmu yang terkesan rahasia."
"Pernikahanku tidak rahasia Nick, hanya di selenggarakan dengan sederhana."
pernikahannya dengan David memang tidak semewah pernikahan Meghan Markle dan Pangeran Harry karena ia sendiri yang meminta untuk di rayakan secara sederhana saja. Namun saat itu Nick tidak dapat menghadiri pernikahannya karena memiliki kepentingan lain yang mendesak.
Malam menjelang, Alanis memutuskan untuk membersihkan sisa kekacauan yang sahabatnya buat di dapur. laki-laki jangkung itu telah pamit pulang saat jam telah menunjukan pukul enam sore.
Calon ibu itu tidak menyadari bahwa segala aktivitasnya di pantau oleh seseorang.
David memperhatikan Alanis yang sedang membuat segelas s**u. Jika dilihat dari kotaknya, s**u itu diperuntukan untuk wanita hamil. Alanis menuangkan setengah air panas dan setengah air biasa supaya susunya dapat langsung diminum.
Raut wajah bahagia nampak saat s**u yang Alanis buat habis. calon ibu tersebut tersenyum sembari mengelus perut ratanya. Dan David menyadari bahwa Alanis benar-benar menyayangi janin yang ia kandung dengan tulus. Janin yang terbentuk akibat dirinya juga, namun tidak ia harapkan kehadirannya. Setidaknya untuk saat ini ia belum menginginkan janin itu untuk dirinya sendiri, tapi yang jelas David mengharapkan kelahiran janin itu untuk kebahagiaan kedua orangtuanya.
David kembali memberikan atensinya pada layar datar di depannya. Sesekali tangannya memasukan cemilan kedalam mulut.
Alanis terlihat masuk kedalam kamar mereka dan tak lama berusaha membuka bajunya. David harus menahan nafas saat melihat kaos dan rok yang Alanis kenakan tergeletak di lantai sedangkan pemiliknya hanya memakai pakaian dalam berwarna merah. Kebiasaan Alanis yang sebenarnya David sukai, hanya saja sejak berita kehamilan perempuan itu terungkap kebiasaan melepas dan memakai pakaian yang Alanis lakukan di depan lemari pakaian mereka berhenti. David tidak tau apa penyebabnya. Atau mungkin karena sejak tau Alanis mengandung, David tidak pernah lagi menyentuh perempuan berambut pirang tersebut? Membuat Alanis jadi canggung padanya.
Harus David akui, ada saat-saat dimana ia ingin bercinta dengan Alanis seperti dulu namun harus ia tahan. Ia tidak ingin membuat Alanis merasa di butuhkan.
Dan ketika membayangkan apa yang Alanis lakukan di dalam kamar mandi membuat nafas David memburu. Katakanlah ia b******n, berpura-pura tidak perduli namun tetap menjadikan wanita tersebut sebagai fantasinya karena sampai saat ini ia belum pernah lepas kendali hingga meniduri wanita manapun untuk mencari kepuasan.
Ia lebih menginginkan Alanis ketimbang wanita di luar sana yang belum jelas kebersihannya.
Selesai dengan mandi dan memakai piyama, Alanis merebahkan diri diatas kasur bersiap untuk tidur. Tak lama setelah terlihat berdoa -salah satu kebiasaan yang lagi-lagi David sukai- Alanis menarik selimut hingga sebatas d**a dan memejamkan mata. Beberapa detik berlalu, Alanis memiringkn tubuhnya menghadap bagian yang biasa David tiduri. Mengulurkan tangan untuk mengelus permukaan bantal yang David pakai lalu kembali memejamkan matanya dengan tangan seakan memeluk bagian David tidur.
David terdiam. Mengapa Alanis melakukan hal layaknya seseorang yang tengah dilanda rindu? Pada dirinyakah rindu itu ditujukan?
Setelah yakin Alanis terlelap, David lalu mematikan layar datar di depannya. Kemudian merebahkan diri di atas ranjang hotel yang dingin. Seperti Alanis, kini ia hanya seorang diri melewati malam sebelum pagi datang membawa hari baru untuk mereka.
------------------------------------------------------
Tbc~