"Omong-omong, dimana anak kecil tadi?" tanya Sherly begitu Farrel telah selesai mengganti jaketnya dengan mantel baru yang Sherly berikan.
"Sudah di jemput Ibunya." jawab Farrel.
"Kenapa kau biarkan mereka lolos begitu saja?" Sherly menatap tajam ke arah Farrel. "Harusnya, kau marahi dulu mereka berdua. Terutama Ibunya, mendidik anak saja tidak becus."
Pandangan Farrel yang semula terfokus pada tabletnya, kini teralih pada wajah Sherly. Pria itu mematikan tabletnya, dan menatap tajam ke arah wanita di hadapannya itu.
"Mendidik seorang anak bukan hal yang mudah. Bukan orang tuanya yang tidak becus, bisa saja memang anaknya yang susah untuk di atur." Farrel menatap Sherly tajam dengan mata elangnya. "Orang tuamu juga tidak bisa di katakan becus, lihat saja sikapmu. Berbanding terbalik dengan umur." sindir Farrel.
Rasanya ada petir yang menyambar tubuh Sherly. Entah mengapa, rasanya sakit sekali mendengarkan pujaan hatinya berkata demikian pedasnya. Lagipula, apasalahnya jika sifatnya seperti ini?
"Kenapa kau jadi membela mereka, sih.." Sherly menundukkan kepalanya, matanya mulai di lapisi cairan bening yang sudah mulai menumpuk di pelupuk mata.
Farrel benar-benar merutuki kebodohannya. Ia lupa ia sedang berbicara dengan siapa sekarang, dihadapannya ini adalah Sherly Williams, gadis berumur dua puluh dua tahun yang memiliki dua sifat dan salah satunya adalah sifat anak kecil berumur dua tahun.
"Aku tidak bermaksud untuk memarahi mu." ucap Farrel dengan nada lembut, yang di hadapannya ini adalah sosok wanita dewasa dengan jiwa gadis kecil cengeng. "Coba kau berada di posisi Dave, dan Ibumu di katai orang tidak becus merawat anak. Apa yang kau rasakan?"
"Tentu saja kesal!" sahut Sherly dengan nada merajuk.
"Nah, kalau kau tahu rasanya, berhentilah menilai urusan orang lain." ucap Farrel kemudian. "Diri kita belum sempurna, jangan mencoba mengomentari kelemahan orang lain di saat kita sendiri masih memiliki kelemahan."
"Begitu, kah?" tanya Sherly dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Tentu saja." Farrel menganggukkan kepalanya.
"Kau tahu? Hari ini aku sangat. senang." Sherly tersenyum manis.
"Benarkah? Kenapa?"
"Hari ini, kau sangat banyak berbicara denganku. Tidak seperti biasanya, kau cenderung diam, menggeleng atau mengangguk." Sherly tertawa pelan. "Apa aku harus berbuat salah setiap hari agar kau bisa terus berbicara sebanyak ini padaku?"
Mendengar itu, Farrel menjadi sadar akan satu hal. Ternyata, selama ini ia memang jarang berbicara. Bahkan, pada Sherly yang jelas-jelas statusnya adalah calon istrinya. Pria itu tersenyum tipis ke arah Sherly, tanpa membalas perkataan wanita itu.
***
"Ibu," panggil Dave dengan ragu.
"Ya?" sahut Ree singkat, ia sedang fokus menyetir hingga membuatnya tidak menoleh saat putranya memanggil.
"Kenapa, Ayah tidak bersikap baik seperti orang tadi?" tanya bocah itu heran.
"Apa maksud mu, Dave?" tanya Ree bingung.
"Orang yang aku temui tadi..." Dave menjeda kalimatnya, "dia sangat baik."
Ree memejamkan matanya, kemudian ia menghela nafas. "Dave, jangan cepat menilai sesuatu hanya karena kau baru mengetahui separuh cerita."
"Tapi, dia sangat baik. Dia bahkan tidak marah saat aku tidak sengaja menumpahkan coffe ke jaketnya, ia malah membela ku di depan Ibu,"
"Jadi, tadi itu benar-benar ulahmu Troublemaker boy?"
Dave menepuk jidatnya sendiri. Sudah bagus pria tadi menyelamatkannya dari amukan Ibunya, kini ia harus menderita karena ulahnya sendiri.
"A-aku tidak sengaja, Ibu..." cicit Dave.
"Alexander Davidson Charles, apa yang Ibu katakan tentang jika kau membuat masalah lagi dalam kurun dua hari berturut-turut?" tanya Ree dengan nada datar, namun terdengar bagai harmoni kematian di telinga Dave.
"Ibu, maafkan aku, aku berjanji tidak akan membuat masalah lagi! Ini yang terakhir, Ibu aku berjanji!" Dave memohon pada Ibunya, walau ia tak yakin akan terwujud
"Kau memang Troublemaker boy." komentar Ree singkat, tanpa merespon permintaan anaknya itu.
"Kenapa, sih, Ibu selalu menjuluki aku seperti itu?" Dave mencebikkan bibirnya kesal.
Ree tersenyum tipis, sembari menghendikkan bahunya. "Bahkan sampai sekarang Ibu tidak tau, kenapa kata-kata itu terus berputar di kepala Ibu, saat Ibu melihatmu."
***
"Ya, Sam. Aku sudah di London."
Farrel tengah berdiri di balkon hotel, yang langsung menghidangkannya pemandangan seluruh kota London dari ketinggian 10.000 kaki. Tangan kirinya memegangi secangkir coffe, dan tangan kanannya sedang memegangi ponsel yang ia tempelkan di telinga kanannya.
"Sudah ku bilang, tunggu aku!" terdengar di sebrang sana Samudra menggerutu padanya. "Kau tidak akan mendapatkan apa-apa jika kau pergi bersama gadis bocah itu!"
Farrel terkekeh pelan. "Aku tidak akan membiarkan mu meninggalkan jagoan kecil yang baru saja lahir."
"Valerie sudah mengizinkan aku, kau saja yang tidak sabar!" gerutu Samudra lagi. "Hanya aku yang bisa membantumu!"
"Kenapa kau sangat yakin?" Farrel menaikkan sebelah alisnya walaupun Samudra tidak dapat melihatnya. "Aku hanya penasaran, dengan mimpi yang selalu mengangguku."
"Maka dari itu, harusnya kau menunggu aku!"
"Tidak perlu, Sam." ucap Farrel datar. "Aku hanya ingin tahu siapa gadis itu, seberapa penting dia di dalam hidupku sampai di dalam mimpiku, ia menangis saat aku di nyatakan meninggal."
"Aku bisa membantumu, aku, aku, akuu!" Samudra benar-benar kesal, Farrel sangat keras kepala.
"Aku sudah bilang, tidak perlu." Farrel berucap tegas. "Aku yakin, aku bisa menemukan Wanita itu di sini."
Samudra berdecak, "kenapa kau sangat yakin? Apa yang akan kau lakukan saat menemukannya?"
"Feeling ku sangat kuat, ku rasa ia berada di sekitar ku semenjak aku menginjakkan kaki di negara ini." Mata Farrel memilah suruh kota di depannya. "Jika aku bertemu dengannya, aku akan bertanya siapa dahulu dia di dalam hidupku. Akan ku ceritakan juga mimpiku tentang dirinya."
"Lalu?"
"Lalu, aku akan memberi tahunya bahwa kini aku telah memiliki seseorang."
"Jangan bilang seseorang itu, adalah Sherly Williams si manja?" tebak Samudra dengan nada malas.
"Tentu saja dia," Farrel terkekeh.
"Terserah kau saja," ucap Samudra. "Carilah wanita itu, sampai ke bawah tanah."
"Maksudmu?"
"Ya, jika wanita di dalam mimpimu itu tidak ada di atas tanah, cari di bawahnya. Kau akan menemukannya."
To be continued
Hallo sayang-sayang kuh :). Buat yang masih BINGUNG sama cerita ini, mending terus tungguin :). Teka-tekinya nggak sulit kok, aku yakin kalian akan mudah nebaknya. Karena aku nggak pandai bikin cerita yang sulit di tebak wkwk.
Buat yang bingung nanya di mana Retha, kayaknya clue clue sudah aku tebar luas deh di part 1-3 ini wkwk
Tapi, sejauh ini kayaknya aku berhasil bikin kalian pusing, ya?
Follow ig
Cantikazhr
Cantikazhrstory
Farrelmw
Ree.alison
Sherlywilliamss
Gabung grupchat? Chat ke : cantikazh (pilih satu)