"Farrel, Farrel!" Sherly berseru gembira seraya menarik-narik lengan tunangannya itu. "Lihat, gaun itu cantik sekali!"
Farrel menoleh, dan matanya menangkap sebuah gaun pengantin berwarna putih yang di tunjuk Sherly. Alisnya terangkat satu, cantik katanya?
"Untuk apa?" tanya Farrel.
"Apanya?" Sherly balik bertanya.
Farrel menghela nafasnya. "Gaun itu, untuk apa?"
"Ohh," Sherly mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tentu saja untuk pernikahan kita, memang untuk apa lagi?"
Farrel menaikkan sebelah alisnya. "Memang kata siapa aku akan menikahi mu?"
Raut wajah Sherly berubah muram seketika. "Kau..tidak ingin menikah, dengan ku?"
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Tidak."
"Yasudah!" Sherly menghentakkan kakinya, wanita itu melepaskan rangkulan Farrel yang begitu hangat, kemudian berjalan menjauh. Ia sedang merajuk.
Sedangkan Farrel, pria itu terkekeh geli. Ia sangat suka menggoda seorang Sherly Williams, karena cara merajuk wanita itu berbeda. Saat merajuk, wanita itu akan berdiam diri seperti patung sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Belum lagi, sepanjang ia merajuk, Sherly akan mencebikkan bibirnya. Menggemaskan.
Tanpa Sherly ketahui, Farrel diam-diam masuk ke dalam toko itu. Dan pria itu membeli gaun yang tadi Sherly inginkan, beginilah Farrel memperlakukan wanitanya, spesial.
Farrel keluar dari toko itu dengan tangan kosong, ia tadi menyuruh kurir untuk mengantarkan gaun itu langsung kepada Sherly saat mereka sampai di hotel nanti.
Farrel menghampiri Sherly yang sedang duduk di depan sebuah restoran, dengan gaya khasnya yang sedang merajuk, Sherly mengacuhkan kedatangan Farrel begitu saja.
"Untuk apa kau duduk sendirian di sini?" tanya Farrel. "Kau tahu, kau terlihat seperti tuna wisma."
Wanita itu masih sama, diam seperti patung. Tidak memedulikan ejekan Farrel yang mengatainya tuna wisma.
"Yasudah, merajuklah sesuka mu." sindir Farrel. "Aku tidak perduli."
"Kau...jahat!" Sherly menitikkan air matanya. "Kau pria yang jahat, jahat sekali!"
"Benarkah?" tanya Farrel datar. "Baiklah." lanjutnya, acuh.
Pria itu berjalan menjauh, meninggkan Sherly yang masih menangis di tempatnya. Sebenarnya, Farrel tidak sejahat itu. Ia tidak benar-benar pergi, buktinya ia masih mengawasi Sherly dari balik tembok pembatas mereka.
"Kau sedang apa?"
"Mengintip." jawab Farrel.
"Benarkah, mengintip siapa?"
"Calon istriku."
"Wanita yang sedang menangis itu?"
Farrel mengangguk.
"Ish, kalian tidak cocok."
Farrel kembali mengangguk. "Aku rasa juga begitu." kemudian, Pria itu menoleh ke bawah. "Dave?"
"Ya?" sahut Dave seraya menatap Farrel dengan mata bulatnya.
"Sejak kapan kau ada di sini?"
"Sejak aku berdiri disini," jawab Dave seraya menatap Farrel dengan mata bulatnya. "Kau sendiri, sedang apa?"
"Bukan kah kau sudah tahu jawabannya?" tanya Farrel. "Kenapa kau sangat suka berkeliaran sendirian, sih?"
"Aku bersama Ibu." ucap Dave seraya menunjuk sebuah restoran cepat saji di belakangnya.
Farrel mengikuti arah yang di tunjuk oleh Dave, kemudian mengangguk paham. "Kalian sedang makan siang, ya?"
Dave menggeleng. "Tidak."
"Lalu?"
"Ibu bekerja di sana." jawabnya seraya mengangkat bahu.
"Oh," Farrel kembali mengangukkan kepalanya. "Ibumu pelayan?"
"Hih, enak saja." Dave menggeleng-gelengkan kepalanya. "Restoran itu milik Ayah, Ibu sedang mengawasi pegawai di sana."
"Itu berarti, Ibu mu tidak bekerja." ucap Farrel. "Ia hanya mengawasi."
"Tidakk," Dave menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju. "Ia bekerja. Ibu juga mendapatkan gajih setiap bulan, Ayah yang memberinya."
Farrel terkekeh. "Itu bukan gajih, itu uang bulanan."
"Uang bulanan?" ulang Dave menatap bingung ke arah Farrel.
"Begini," Farrel menjongkokkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi Dave. "Uang bulanan itu, uang yang di berikan suami pada istrinya. Bagaimana, ya menjelaskannya,"
"Aku paham. Tapi, Ayah dan Ibu tidak menikah." ucap Dave. "Jadi, mereka bukan suami istri."
"Mereka tidak menikah? Lalu, apakah kalian bertiga serumah?" tanya Farrel yang mulai tertarik pada kisah bocah itu.
"Tentu saja! Ibu bilang, sebuah keluarga harus hidup bersama-sama."
"Begitu, ya?" tanya Farrel.
Dave mengangguk. "Tapi, Ayah jarang pulang ke rumah. Di film yang aku tonton, Ayah seharusnya tidur dengan Ibu, tapi Ibu malah tidur denganku."
"Ayah dan Ibumu bertengkar?" tanya Farrel penasaran.
"Tidak tahu," Dave mengangkat bahunya. "Tapi, aku pernah sekali mendengar mereka bertengkar. Ayah mengatakan bahwa Ibu harusnya mati, tapi Ibu selamat karena Ayah."
"Lalu?"
"Lalu, tidak tahu. Aku tertidur setelahnya." lanjut Dave.
"Umur kau berapa, sih?" tanya Farrel heran. "Aku tidak yakin, kau benar-benar berumur lima tahun."
"Tanya saja sendiri pada Ibu."
"Di mana Ibumu?"
Dave menghela nafasnya. "Kan sudah aku katakan tadi, Ibu sedang mengawasi pegawainya di sana." ia kembali menunjuk restoran di belakang.
Farrel terkekeh. "Baiklah, baiklah. Maafkan aku."
"Yasudah, aku ingin kembali pada Ibu. Silahkan kau lanjutkan acara 'mengintip' itu." Dave kemudian berlari kecil, menuju restoran yang ia tunjuk tadi.
Farrel menatap punggung Dave yang kian menjauh, kemudian, ia merogoh saku mantelnya. Pria itu mengeluarkan ponselnya, mendial nomer seseorang dan menempelkan benda pipih itu di telinga.
Terdengar nada sambung, kemudian seseorang mengangkat telfonnya.
"Sam, aku membutuhkan mu."
To be continued
Follow ig
Cantikazhr
Cantikazhrstory
Farrelmw
Sherlywilliams
Ree.alison