5

936 Kata
"Aku langsung memesan tiket saat kau menelfon," ucap Samudra. Ia baru saja sampai di depan hotel yang Farrel tinggali. "Kau memang terbaik, ocean." puji Farrel seraya meninju kecil pundak Samudra. "Ocean, ocean. Jika ada Vale di sini, sudah dapat ku pastikan kalian akan bertengkar hanya karena panggilan itu." Gerutu Samudra. Farrel terkekeh, "omong-omong, bagaimana kabar Vale dan anak kalian?" "Yah, mereka berdua sehat. Kau tahu? Anakku sangat tampan." Samudra menyunggingkan senyum kebanggaannya. "Lalu, siapa yang menjaga mereka di sana?"  "Ada Vanesha yang setiap hari membantu mengurus putra ku."  "Vanesha?" Farrel menaikkan sebelah alisnya. "Mungkin kau lupa, ia sepupu Valerie. Istri Raditya Dharmawangsa." Samudra mengangkat bahu. "Tidak heran jika kau lupa, kau kan pelupa." Farrel terkekeh, "aku jadi tidak sabar ingin bertemu anak mu." "Ia sangat tampan, seperti ku." Samudra terkekeh. "Benarkah? Siapa namanya?" tanya Farrel. "Bara Jason Alcander, Valerie sangat memaksa ingin memberikan nama itu." keluh Samudra. "Nama itu membuat ku membayangkan sosok laki-laki yang tidak baik, Bara." ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada saja, kau." Farrel terkekeh. "Ucapan adalah doa, ucapkan hal yang baik saja pada anakmu." "Yah, begitulah." balas Samudra datar. "Jadi, ada apa kau menyuruh ku kemari?" "Aku sudah mendapatkan ingatan ku kembali, Sam." ucap Farrel yang langsung membuat Samudra berdiri dari duduknya. "Kau bersungguh-sungguh? Kau sudah mengingat semuanya? Termasuk istri mu yang menghilang lima tahun lalu?" Samudra mencengkram erat bahu Farrel. "Katakan padaku, apa saja yang kau ingat?" "Aku...sudah menikah?" Farrel menatap Samudra bingung. "Kau, belum ingat?" tanya Samudra bingung. Kemudian, ia mengusap kasar wajahnya. "Kau menipu aku, sialan." "Katakan padaku, Sam. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Farrel mencengkram erat kedua bahu Samudra. "Siapa wanita yang terus datang pada mimpiku? Siapa dia? Apa dia istriku, yang kau katakan itu? Jelaskan padaku, Sam! Kenapa kalian semua membuat ku seperti orang bodoh, di sini?!" "Aku tidak bisa memberi tahu mu." "Kenapa?!" teriak Farrel frustasi. "Itu akan membahayakan dirimu!" bentak Samudra. "Tidak ada yang boleh memberi tahu apapun tentang masalalu mu, Rel. Tidak ada yang boleh." "Tapi kenapa? Aku berhak tau semuanya!" "Sudah cukup." Samudra melepaskan cengkraman Farrel. "Kau hanya membuang waktu ku." "Membuang waktu mu? Kau tidak ingin membantu ku, Sam?" Farrel tertawa getir. "Aku bukan tidak ingin membantu mu, aku hanya ingin menyelamatkan dirimu." balas Samudra seraya menatap ke arah lain. "Selama ini, aku selalu membantumu tanpa kau sadari." Farrel berdecak, "membantu apa kau?" "Kau tidak perlu tahu." balas Samudra sarkas. "Sam," Farrel menghela nafasnya berat. "Aku hanya ingin tahu, siapa wanita yang selalu menghantuiku di dalam mimpi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku, dan jika aku memiliki istri...aku akan meninggalkan Sherly untuknya. Katakan padaku, Sam. Dimana dia?" "Aku tidak bisa mengatakan apapun. Itu akan membahayakan dirimu sendiri, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Samudra menepuk bahu Farrel. "Aku akan kembali ke Indonesia besok, kau bisa menghubungi ku lagi jika kau benar-benar sudah ingat semuanya." "Bagaimana aku bisa mengingat semuanya, jika tidak ada yang membantu aku untuk mengingat?!" "Aku percaya kau bisa, jika takdir mengatakan kau bisa, maka kau akan bisa. Bagaimana pun caranya."  Samudra menepuk bahu Farrel, setelahnya lelaki itu keluar dari kamar sahabatnya itu. Meninggalkan Farrel yang masih bergeming di tempatnya, berusaha mengingat segalanya yang telah ia lupakan, walaupun tanpa sengaja. Setelah kepergian Samudra, Farrel hanya diam. Pria itu masih berusaha keras memikirkan apa yang Samudra katakan, ia berusaha mengais lagi memori lamanya yang sudah sangat lama ia lupakan.  Semuanya menjadi semakin rumit, semenjak mimpi itu hadir. Mimpi yang terus membuatnya terbuai setiap malam. Tentang kisah masa remaja seorang gadis yang ia tidak ketahui namanya, bahkan Farrel juga bingung mengapa ia bisa menjadi pemeran utama di mimpi itu. Farrel bingung, gadis itu bukanlah Sherly atau salah satu wanita yang pernah dekat dengannya. Lalu, siapa gadis itu? Gadis yang selalu menemani mimpi indahnya, yang selalu hadir dengan senyuman manis dan wajah cantik terlebih saat ia sedang merajuk. Mimpi itu, seakan nyata. Farrel mengacak rambutnya frustasi. Ia hendak bergerak ke kamar mandi, sekiranya dapat menyegarkan tubuh dan fikirannya, namun ketukan pintu membuatnya berhenti. Ia memutar haluan menuju pintu, pria itu segera memutar kenop kunci, dan muncul lah Sherly dengan paper bag besar berisi gaun yang ia inginkan tadi sore. "Aku mencintai mu, aku mencintai mu!" Sherly langsung memeluk Farrel erat, ia sangat bahagia karena keinginannya telah terpenuhi. Bohong kalau Farrel mengucapkan 'aku juga mencintaimu', karena nyatanya, hubungan ini di dasari oleh hubungan bisnis yang terjalin antara Kakek Sherly dan Farrel, dengan syarat Farrel harus mau menikah dan Sherly. "Kau suka?" tanya Farrel lembut, menyembunyikan raut wajah kekesalannya tadi. "Tentu saja," Sherly melepaskan pelukannya. "Aku yang memilihnya, tentu aku sangat menyukainya." "Baguslah kalau begitu." Farrel tersenyum tipis. Pria itu memandangi Sherly, kemudian menghela nafasnya berat. Jika ingatannya kembali, akan ada banyak pihak yang tersakiti. Terutama jika yang Samudra katakan itu benar, tentang dirinya yang sudah memiliki istri.  Farrel memang tidak mencintai Sherly, walaupun gadis itu selama ini sangat mencintainya. Tapi, bukan berarti Farrel bisa menyakiti hatinya. Sherly terlalu rapuh, untuk Farrel sakiti. "Aku sudah curiga, pasti tadi kau sengaja mengabaikan ku." Sherly mencebikkan bibirnya. "Surprise mu kali ini sangat keterlaluan!" Alis Farrel terangkat satu. "Surprise?" Sherly menganggukkan kepalanya. "Ini semua kejutan, kan? Pertama kau menelantarkan aku, berlaku jahat, kemudian kau memberikan hadiah. Ini kan hari ulang tahun ku." Bahkan Farrel lupa jika wanita di hadapannya ini sedang berulang tahun. "Tentu saja, ini semua kejutan." Farrel mengecup kening Sherly. "Selamat ulang tahun." Pipi Sherly merona. "Terima kasih." "Apapun untuk mu."  Sherly kembali memeluk erat pria di hadapannya, ia sangat mencintai Farrel. Lebih dari ia mencintai dirinya sendiri, dan hal yang paling ia takutkan di dunia ini bukanlah jika Farrel meninggalkannya, namun saat Farrel mendapatkan kembali ingatannya. To be continued Follow instagram Cantikazhr Cantikazhrstory Farrelmw Sherlywilliamss Ree.alison Samudra.alcander Valerieagtha
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN