Part ini didedikasikan untuk kalian yang sudah minta untuk di lanjut. Semoga semakin penasaran, dan bisa menebak setiap clue kecil yang aku berikan.
Vote dulu, boleh:)?
Jangan lupa spam komen wkwk
.
.
.
.
Dua hari semenjak kepulangan Samudra, Farrel terus diam di kamar hotelnya. Mengabaikan permintaan Sherly yang terus minta di ajak jalan-jalan, bahkan selama beberapa hari ini, Farrel tidak dapat menyembunyikan kegelisahan yang selalu berhasil ia tutupi dengan sikapnya.
Farrel meringis saat ia merasakan kepalanya pusing akibat ia kurang tidur, ia tidak begadang, namun mimpi itu tidak pernah membiarkan Farrel untuk terus terlelap. Mimpi itu memaksanya untuk segera keluar, ke dunia nyata, mencari perempuan yang terus hadir di dalam mimpinya itu.
Kilasan putar balik kembali terputar di memori otaknya, Farrel memegangi pelipis kepalanya. Ia teringat pada seorang gadis cantik, dengan rambut coklat yang tergerai panjang sebahu. Sebenarnya, siapa gadis itu? Mengapa ia selalu hadir di dalam mimpi Farrel?
***
Dua hari sebelumnya
Jakarta, Indonesia
01:00 AM
"Benar, dia sudah ingat semuanya?" Tanya Valerie begitu Samudra sampai di rumah mereka.
Samudra mengusap wajahnya gusar, kemudian menghela nafas. Pria itu menggelengkan kepalanya, sembari menunduk lesu. Begitu juga dengan Valerie, ia langsung duduk di samping Samudra seraya mengelus pelan bahu lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
"Kita pasti bisa membantunya," ucapnya lembut.
"Lima tahun bukan waktu yang sebentar, sayang." Samudra menoleh ke samping, menatap nanar ke arah Valerie. "Farrel hilang ingatan, dan Retha? Bahkan aku tidak yakin dia masih hidup."
"Aku yakin, Retha pasti ada di suatu tempat." Valerie balas menatap Samudra dalam. "Selama jasad Retha belum ada di hadapan kita, kita harus tetap mencarinya. Hidup, atau pun mati."
***
London
02: 00 AM
Coffe and chef cafe
"Kenapa, sih. Aku selalu bertemu dengan mu?" Komentar Dave begitu Farrel memanggil dirinya yang sedang bermain di depan restoran milik ayahnya.
Farrel terkekeh pelan, "kau tidak suka bertemu denganku, ya?"
Dave menggelengkan kepalanya. "Saat aku bertemu denganmu, aku selalu mendapatkan masalah."
"Masalah?" Farrel menaikkan sebelah alisnya. "Masalah apa?"
"Pertama kali bertemu, aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke mantel mahalmu. Lalu, Ibu memarahiku sepanjang jalan perjalanan ke rumah. Kemarin, sehabis bertemu dengan kau, lagi-lagi aku dimarahi." Keluhnya pada Farrel. "Dan ku rasa, sehabis kembali dari tempat ini, aku akan kembali mendapatkan masalah."
"Memangnya kau kira aku pembuat masalah?" Tanya Farrel dengan nada tersinggung, bercanda.
"Kau memang bukan pembuat masalah," ucap Dave. "Tapi kau sumber masalah."
Farrel terkekeh, ia memang sengaja datang ke restoran ini karena sedang suntuk dan bosan di kamar hotel. Selain itu, ia juga sedang menjaga jarak dengan Sherly. Makanya, ia bahkan tidak membawa ponsel. Selain menjaga jarak, Farrel juga sedang tidak ingin menatap grafik angka presentase yang di berikan asistennya sebagai pertimbangan proyek dengan Williams Group.
Namun, yang ia temui adalah Dave. Bocah lelaki yang waktu itu menumpahkan kopi ke mantel Farrel. Sebenarnya, bukan itu penyebab Farrel jadi sangat mengingat Dave. Tingkah dan wajah bocah itu, benar-benar mirip dengan dirinya sewaktu kecil. Ia juga tidak mengerti, kenapa ia bisa ingat hal itu sedangkan hal penting yang berusaha ia ingat, malah ia lupakan.
"Untuk apa kau memanggilku, jika kau hanya mendiamkan aku seperti ini." Kata Dave, kesal. Lebih baik aku melanjutkan bermain di sana." Ucapnya sebelum bergegas menuju kembali ke tempat asalnya.
"Hei, hei!" Panggil Farrel. "Aku masih membutuhkan mu!"
Dave menoleh, bocah itu menatap datar ke arah Farrel. Menunggu kelanjutan kalimat pria itu.
"Kemarilah, aku ingin berbagi suatu rahasia." Ucap Farrel, membuat Dave yang memiliki tingkat ingin tahu tinggi bergegas menghampirinya.
"Baiklah, sebenarnya ini agak aneh," Dave menatap heran ke arah Farrel saat ia sudah kembali duduk di samping pria itu.
"Apa yang aneh?"
"Pertama, aku tidak mengenalmu. Begitu juga sebaliknya. Tapi, kau selalu mengajak aku untuk berbicara layaknya seorang teman. Kedua, aku masih berusia lima tahun, dengar itu. Aku tahu, mungkin banyak yang heran mengapa anak seusia ku bisa berkomunikasi selancar ini dengan orang lain, aku juga heran dengan diriku sendiri. Dan yang terakhir, sebuah rahasia tidak akan menjadi rahasia lagi saat kau mengatakannya pada orang lain." Jelas Dave panjang lebar, ia sendiri juga bingung dengan apa yang is ucapkan.
"Itu adalah kalimat yang panjang," ucap Farrel menggantung. "Aku malas mendengarkannya, maaf ya, tadi aku tidak memperhatikan." Lanjutnya menatap Dave tanpa rasa bersalah.
"Oh Tuhan," Dave menepuk jidatnya. "Jangan-jangan, kau memang sengaja mendekatiku, agar kau bisa mendekati Ibu?! Mengaku saja, kau bukan lelaki pertama yang bertingkah seperti ini."
Alis Farrel terangkat satu, "kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Yah, Ibuku adalah wanita cantik dan lumayan terkenal karena Ayahku pengusaha yang cukup sukses disini. Saat beredar berita bahwa sebenarnya mereka tidak menikah, banyak sekali yang ingin mendekatinya." Dave menghela nafasnya. "Tapi, mereka semua hanya menginginkan Ibu. Mereka tidak menginginkan aku."
"Aish, kasihan sekali kau." Farrel menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi, kau salah. Aku bukan salah satu dari mereka." Farrel terkekeh. "Ku akui jika Ibumu adalah wanita yang cukup cantik. Tapi aku tidak tertarik. Lagipula, aku sudah memiliki calon istri."
"Ah, iya. Dimana gadis berbadan besar tapi berhati anak-anak itu?" Tanya Dave penasaran. "Atau dia diculik karena kau membiarkannya menangis di depan minimarket seperti gembel?"
"Tentu saja tidak!" Sanggah Farrel. "Dia ada di hotel tempat kami menginap, aku sedang tidak ingin berada di dekatnya."
"Orang dewasa memang aneh, ya." Gumam Dave. "Mereka sering sekali bertengkar, lalu berdiam-diaman seperti anak kecil. Itu juga yang dilakukan Ayah dan Ibu ketika mereka bertemu."
"Mereka sering bertengkar, ya?" Tanya Farrel.
Dave menganggukkan kepalanya. "Bahkan didepanku."
"Dave," panggil Farrel. Bocah itu menoleh, menatap Farrel dengan mata bulatnya. Gemas, rasanya Farrel ingin menarik pipi gembul itu, kalau saja ia sedang tidak menjaga image sekarang.
"Apa?"
"Bagaimana rasanya menjadi anak kecil?"
"Heh? Memangnya saat lahir, kau langsung sebesar ini?"
"Tentu saja tidak."
"Lalu, untuk apa kau bertanya seperti itu? Aneh."
"Aku hanya ingin tahu," Farrel menghela nafasnya seraya menatap ke langit cerah diatasnya. "Aku kehilangan sebagian ingatanku."
"Maksudmu, kau amnesia?" Tanya Dave.
Farrel menganggukkan kepalanya. "Ya, semacam itulah."
Dave terdiam, dipandanginya raut wajah pria di hadapannya ini. Ia tidak mengenal Farrel, namun ia merasa sangat dekat. Pria di hadapannya ini, sangat berbeda dengan Charles--Ayahnya. Saat ia bersama Charles, Dave akan merasakan ketegangan yang luar biasa. Di tambah tatapan Charles yang selalu melihatnya dengan tatapan tidak suka.
"Itulah rahasiaku," gumam Farrel.
"Kau tahu?" Farrel menoleh dan menatap Dave dengan tatapan penuh tanya. "Ibuku juga memiliki rahasia yang sama seperti dirimu."
"Maksudmu?"
"Ibuku juga menderita amnesia."
To be continued
Farrel sama Dave kaya bapa sama anak, ya :)
Follow instagram
Cantikazhr
Cantikazhrstory
Farrelmw
Sherlywilliamss
Ree.alison
Samudra.alcander
Valerieagtha