Buat kalian yang udah nepatin omongannya buat spam komen, aku cuman bisa bilang terima kasih dan semoga part ini menghibur :)!
.
.
.
.
"Ibuku juga menderita amnesia."
Farrel membulatkan matanya. Ia takjub, anak sekecil ini bisa tahu hal yang seharusnya tidak mereka tahu. Dave berbeda, ia tidak seperti kelihatannya. Anak ini bertopengkan wajah menggemaskan khas seorang bocah seusianya, namun jika orang sudah kenal dengannya, pasti ia akan di ragukan sebagai bocah berumur dua tahun.
"Kau ini..." Farrel menatap takjub ke arah Dave. "Hebat." Lanjutnya.
"Memang," ucap Dave menyombongkan diri. "Oh, iya. Kenapa kai tinggal di hotel? Memangnya, kau tidak punya rumah?"
"Tentu saja aku punya!" Kilah Farrel. "Asal kau tahu, aku pengusaha muda tersukses di negaraku."
"Negaramu?" Dave menaikkam sebelah alisnya. "Memangnya, kau bukan berasal dari sini?"
Farrel menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sedang berlibur di sini." Ucapnya. "Apa kau tidak sadar, kalau wajahku berbeda dengan mereka." Farrel menunjuk sekumpulan penduduk asli disini dengan dagunya.
Dave menoleh, mengikuti arah yang ditunjukkan Farrel. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku kira kau berasal dari sini."
"Ternyata kau tidak sepintar yang aku kira," Farrel terkekeh.
Dave langsung melotot marah, kesal karena ia di katai tidak pintar hanya karena ia mengira Farrel adalah warga sini. "Aku memang pintar!" Teriaknya tak suka.
"Benar, kah?" Farrel menatap Dave menantang. "Coba kau tebak, di mana negara asli ku?"
"Kau kira aku cenayang? Seperti tidak ada kerjaan lain saja, untuk apa menebak negara asalmu?"
"Mungkin suatu hari, kau akan mengunjunginya?"
"Aku tidak mungkin bisa. Bahkan tidak akan pernah bisa." Dave membuang wajahnya ke arah samping.
"Kenapa? Kau tidak punya uang?" Tebak Farrel. "Aih, kau bilang Ayahmu pengusaha sukses di kota ini. Untuk ke Indonesia saja, kau tidak sanggup." Farrel mengibaskan tangannya meremehkan.
"Indonesia?" Dave menolehkan kepalanya cepat. "Kau berasal dari sana?"
"Ya, ada apa?" Tanya Farrel bingung. Bingung karena Dave langsung tertarik saat mendengar ia menyebutkan negara asalnya.
Antusias Dave yang tadinya berapi-api, lantas lenyap. "Tidak apa-apa."
"Dasar aneh," cibir Farrel.
Dua orang itu terdiam, yang satu memikirkan hal yang seharusnya tidak ia pikirkan, dan yang satu lagi sibuk mengais-ngais sisa memori yang dapat ia ingat. Kalau dulu Farrel nampak cuek dan tidak peduli dengan ingatan lamanya hilang, kini ia malah berusaha mati-matian untuk mengingat semuanya. Karena, hanya dengan ia mengingat semuanya, maka semuanya akan berjalan dengan baik.
"Dave!"
Bukan hanya sang pemilik nama yang menoleh, Farrel juga ikut menoleh. Dua lelaki itu sama-sama menatap ke arah Ree yang tengah berjalan ke arah keduanya. Farrel tersenyum sopan, sedangkan Dave sudah menyiapkan jiwa raganya untuk menerima siraman rohani dari Ibunya.
"Pasti habis ini, Ibu akan memarahiku." Gumam Dave pelan, namun terdengar jelas di telinga Farrel.
"Apa yang Ibu ajarkan soal sopan santun mengenai izin, Dave?" Ucap Ree saat ia sampai di hadapan putra kecilnya itu. Ia memandangi Dave dengan tatapan tajam seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku sedang bermain di sana, Ibu." Tunjuk Dave pada halaman restoran mereka. "Kemudian, ia memanggilku." Dave beralih menujuk Farrel. "Aku tidak salah, kan?"
Ree menatap Farrel sekilas, sebelum ia berkacak pinggang seraya melotot pada Dave. Seolah-olah jawaban yang di ucapkan putranya itu adalah salah.
"Baiklah, aku salah." Dave menundukka kepala.
"Nyonya Alison," panggil Farrel. Membuat Ree menoleh, dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. "Dave tidak bersalah." Lanjut Farrel. "Begini, tadi aku sedang duduk di sini saat aku melihat Dave bermain sendirian. Jadi, aku memanggilnya untuk menemaniku."
"Tuan Wdyatmaja, kau mengajak seorang anak berumur lima tahun untuk menemani mu mengobrol?" Tanya Ree dengan alis yang terangkat satu.
Farrel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eum, ya bisa dibilang begitu."
"Dan, apa yang kau dapat dari berbincang dengan putra ku, Tuan Wdyatmaja?"
"Sebuah rahasia," jawab Farrel yang langsung membuat Dave mengangkat kepala. Bocah itu memasang wajah melas, agar Farrel tidak membeberkan apa yang ia ucapkan tadi. Bisa-bisa, ia akan dimarahi Ibunya habis-habisan.
"Kau menyimpan rahasia pada putra ku?" Ree menaikkan sebelah alisnya, curiga.
"Nyonya Alison, bisakah kita tidak usah menggunakan bahasa yang terlalu formal?" Tanya Farrel, mengalihkan pembicaraan. "Aku agak risih dengan sebutan Tuan dan Nyonya jika itu diluar jam kerja."
"Baiklah," Ree menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku ingin membawa anakku pulang, jika kau tidak keberatan."
"Sebenarnya, aku keberatan, sih." Farrel menghendikkan bahu. "Tapi, Dave anakmu. Jadi, kau berhak mengajaknya pulang sesuai keinginan mu. Ya, walaupun itu berarti aku akan sendirian di sini."
"Mana istrimu?"
"Aku belum menikah."
"Ah.." Ree mengangguk-anggukkan kepalanya, paham. "Belum, menikah, ya.."
"Ya, tapi aku akan." Lanjut Farrel kemudian. "Setelah aku menyelesaikan sebuah urusan."
"Kalau begitu.." Ree menatap Farrel seraya tersenyum. "Selamat atas pernikahan mu."
Farrel terdiam, kembali teputar sebuah memori bayangan masalalu, dan wajah gadis itu semakin jelas. Ia memegangi kepalanya yang berputar hebat, rasanya sakit, hampir saja oa menjerit karena merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Tuan, kau baik-baik saja?" Tanya Ree saat ia melihat ada perubahan aneh pada pria di hadapannya itu.
"Ibu, ku rasa ia sedang sakit." Celetuk Dave sembari mengamati pergerakan Farrel yang terus-terusan memegangi kepalanya.
"Farrel!"
Farrel tersadar begitu Ree menyerukan namanya dengan begitu lantang di sertai rasa panik. Kepala masih terasa sakit, namun ia berterima kasih, karena ingatan putar balik di masa lalunya itu, membuat Farrel menemukan sebuah fakta baru.
Bahwa seorang gadis yang selama ini hadir di dalam mimpinya, bernama Aretha Maharani.
To be continued
Minta spam komen lagi, dunds. Wkwk
Follow instagram
Cantikazhr
Farrelmw
Ree.alison
Sherlywilliamss