8

1091 Kata
A/n : Maaf, buat yang protes soal anak dua tahun udah pinter kayak Dave. But, I think my imagination is to far from reality. But, aku emang mengenal seorang bocah yang ngomongnya udah lancar, kayak Dave sekarang. Dave nggak ngomong selaancar kita, kok. Ada cadel-cadelnya, cuma belum nemu dialog yang pas :).   Dan, kalau kalian emang bener-bener merhatiin Troublemaker Boy 1, pasti taukan kenapa Dave bisa pinter :) Ups, I give u clue Note di atas adalah note sblm cerita ini di revisi✌ . . . . "Sam, katakan padaku." Ucap Farrel memohon. "Siapa Aretha Maharani?" Di sebrang sana, Samudra menghela nafasnya berat. "Kau sudah selangkah lebih dekat dengan tujuanmu, terus berusahalah. Kuncinya ada pada dirimu." "Sampai kapan, Sam?" Suara Farrel meninggi. "Itu jika aku dapat mengingat lagi. Kalau tidak? Sampai mati, aku tidak akan pernah tahu siapa gadis itu." "Aku yakin, kau pasti berhasil mengingat siapa dia. Kau berhasil mengingat namanya saja, itu adalah sebuah keajaiban."  "Sudah, lah!" Kesal Farrel. "Aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada ku lima tahun lalu." "Jangan macam-macam!" Peringat Samudra dengan suara meninggi. "Kau tidak boleh meminta bantuan siapapun, kau harus mengingatnya sendiri!" "Aku tidak peduli. Cepat atau lambat, aku akan mengetahui apa yang selama ini kalian sembunyikan."  "Percuma, kau tidak akan menemukannya."  "Benarkah?" Farrel tersenyum miring. "Lalu, jika kau yakin aku tidak akan menemukannya, kenapa kau begitu gugup?" "Terserah kau saja!" Bentak Samudra kesal, pria itu memutus sepihak teleponnya. Farrel tersenyum penuh arti, kalau sudah begini, tidak akan ada yang bisa menghalangi usahanya. Salahkan mereka, yang katanya keluarga namun malah menutupi semuanya. Tidak memberi akses pada Farrel untuk mengingat masalalunya, mereka menyuruh dirinya untuk mengingat sendiri tanpa mau membantu. Memangnya, mereka kira Farrel itu Google? Bisa tau segalanya, tidak! Farrel menghela nafas, kemudian berjalan menuju jendela yang memantulkan hamparan kota London sore itu. Ia menatap sekelilingnya, tempat ini rasanya tidak asing. Padahal, ia baru pertama kali ke sini sepertinya. Bukan pekerjaan yang menuntunnya untuk ke sini, namun sebuah firasat kecil yang berhubungan dengan mimpinya.  "Aretha Maharani," gumam Farrel pelan. "Siapa dirimu?" *** Mengantuk, itu yang sejak tadi Dave rasakan. Matanya sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka, namun tetap saja ia tidak bisa tertidur walau ia sudah memejamkan mata daritadi. Bocah itu sudah berebah di atas kasurnya, menarik selimut karena cuaca yang mulai dingin, dan memejamkan mata bersiap ingin tidur. Namun, ia tidak bisa tertidur. Ini semua karena kedatangan Charles,  Ayahnya. Huh, kalau saja pria itu bukan Ayahnya, sudah pasti Dave akan marah besar pada pria itu. Yang Dave pelajari di sekolahnya, seorang Ayah adalah lelaki bertanggung jawab dan yang harus membimbing keluarga. Bukan pria tidak jelas yang hobynya marah-marah, memukul dan  pulang tengah malam. Ayah macam apa itu? Dave menutup telinganya dengan kedua tangan, rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya. Kepulangan Ayah adalah malapetaka, bukannya hal yang baik. Kalau teman-temannya di sekolah, sering bercerita bahwa mereka selalu menantikan Ayah mereka pulang kerja untuk makan malam bersama. Berbeda dengan dirinya, yang lebih mengharapkan bahwa Ayahnya itu tidak usah pulang sama sekali.  "Wanita macam apa, kau?! Tidak becus!" Umpatan dan omelan Charles, sudah menjadi makanan Ree dan Dave sehari-hari. Rumah ini akan terasa seperti neraka saat Charles pulang, akan terasa mencekam saat ia ada di sini. Dan itu semua membuat Dave takut, ia takut jika harus dipukul oleh Ayahnya karena kesalahan yang ia tidak tau apa sebabnya. "Di mana anak sialan itu?!"  Dave mencengkram erat sprey yang melapisi kasurnya, air matanya mulai mengalir. Ia mulai menangis. Suara hentakkan kaki Charles sudah mulai terdengar menaiki tangga, dan sebentar lagi pria itu akan masuk ke dalam kamarnya dan mulai memukulinya. Dave tidak tau apa salahnya, sehingga setiap Charles pulang, ia harus menerima pukulan dari pria yang katanya Ayah itu. "Kau ingin apa?!" Terdengar suara Ree, Ibunya yang menangis menahan Charles untuk masuk ke dalam kamarnya.  "Aku ingin memberinya pelajaran!" Teriak Charles pada Ree, Dave semakin mengeratkan cengkramannya. "Pelajaran apa?!" Balas Ree tak kalah nyaring. "Berhenti memukulinya tanpa sebab! Ia sudah sangat menderita karena memiliki Ayah seperti dirimu!" "Diam!" Charles menampar pipi Ree hingga wanita itu terjatuh ke lantai, dapat Ree rasakan sesuatu mengalir dari bibirnya. Bibirnya mungkin sobek karena ia merasakan perih. "Dave!" Teriak Charles seraya menggedor pintu kamar bocah itu, kamarnya tidak ia kunci yang ia yakini sebentar lagi Charles akan masuk dengan mudah. Bertepatan dengan pintu kamarnya yang didobrak dengan kerasnya, Dave dapat merasakan tubuhnya terangkat. Dan wajahnya langsung merasakan panasnya tamparan Ayahnya yang mendarat tepat di pipi gembulnya. "Kau bertemu dengan siapa?" Tanya Charles dengan wajah marahnya. "Ti-tidak ada," jawab Dave terbata-bata. "Pembohong!" Charles kembali menampar pipi Dave dengan keras. Dave menangis sejadi-jadinya, menahan rasa perih yang ia rasakan di kedua pipinya. Bocah itu berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Ayahnya terlalu kuat. "Lepaskan anakku!" Teriak Ree dari belakang, berusaha merebut Dave dari tangan Charles. Charles geram, ia menghempaskan tubuh kecil Dave ke kasur. Kemudian, ia berbalik dan kembali menampar Ree untuk membuat wanita itu diam. "Kau diam, atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini padanya!" Ucap Charles seraya menunjuk ke arah Dave. "Jangan sakiti Dave, ku mohon.." lirih Ree menahan perihnya. "Dia anakku, anakmu juga. Apa kau tega menyakiti anakmu sendiri?" "Kau diam di sini!" Ucap Charles tanpa memperdulikan omongan Ree, ia kembali berbalik menemui Dave yang masih menangis di atas kasur. "Jawab aku, siapa pria yang kau temui?" Tanya Charles dengan suara rendah. Tangannya mencengkram erat bahu Dave, membuat bocah itu meringis kesakitan. "A-aku juga tidak mengenalnya, Ayah.." lirih Dave. "Untuk pertama dan terakhir." Charles menatap Ree dan Dave bergantian. "Jangan pernah berkomunikasi dengan orang luar!" Ia menghempaskan tubuh Dave. "Kalau kalian tidak ingin hal ini kembali terulang." Charles melengos pergi dari kamar Dave, menyisakan Ibu dan Anak yang kini tengah menangis bersama. Ree memeluk erat putranya, kemudian mengelus pelan pipi Dave yang terlihat membiru.  "Sudah Ibu bilang, kan?" Ree menatap dalam mata Dave. "Jangan pernah berkomunikasi dengan orang yang tidak kita kenal." "Tapi, Ibu. Kenapa? Apa yang salah?" Tanya bocah itu heran. "Dan kenapa Ayah bisa tau? Bukankah ia tidak melihatnya?" "Dave, dengarkan Ibu." Ree memegang kedua bahu Dave. "Ibu juga tidak mengerti apa yang salah di sini. Tapi, kita tidak bisa berbuat banyak. Ayahmu memiliki banyak mata-mata untuk mengawasi kita." "Tapi, kenapa kita harus di awasi?" Tanyanya heran. "Kita bukan penjahat, Ibu." "Turuti saja apa keinginan Ayahmu, kita tidak bisa melawannya." "Kalau aku sudah besar dan bisa melawan Ayah, aku akan membawa Ibu pergi dari sini." Ucap Dave. Ree tersenyum. "Untuk saat ini, kita hanya bisa menuruti segala keinginan Ayahmu. Jadi, Dave, jauhi pria itu. Untuk Ibu." Dave mengangguk, "baiklah, Ibu.: To be continued KOMENNYA DONG.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN