9

982 Kata
Maaf bgt updatenya ngaret, lagi sibuk sm ujian krn aku udh kls 12. Minta votenya ya, itung" buat penyemangat. 500vote deh, spam kom juga! Muah . . . . . . . Lima hari kemudian Jakarta, Indonesia "Kau kenapa, sih?" tanya Sherly seraya menatap wajah Farrel yang sedang menampakkan kegelisahan. Saat ini, mereka sudah sampai di bandara soekarno-hatta. Akibat Farrel yang mengajaknya pulang mendadak, Sherly sampai kesal karena banyak barang yang ia inginkan belum sempat terbeli. Di tambah lagi sepertinya Farrel lupa dengan hari pentingnya, itu menambah kekesalannya berkali-kali lipat. Dan bukannya menghibur, justru Farrel seperti tidak menganggapnya ada. Sherly memutar kedua bola matanya malas, ini sudah yang kesekilan kalinya Farrel tidak menjawab dan malah termenung.  "Kalau dalam dua menit kedepan kau masih mendiamkan aku seperti ini, aku akan mengadu pada kakek." ancam wanita itu. Dan sama seperti sebelum-sebelumnya, perkataan Sherly hanya seperti angin lalu. Farrel masih bergeming seraya menatap lantai, menunggu beberapa anak buahnya yang sudah ia panggil untuk menjemput mereka. Tidak tahan lagi, Sherly bangkit dari duduknya. Wanita itu berjalan cepat meninggalkan Farrel, hingga Sherly tidak terlihat lagi pun, Farrel masih bergeming. Hingga suara dan getaran yang berasal dari saku kemenjanya, menyadarkan Farrel dari lamunannya. Pria itu segera mengangkat telepon dari Samudra. "Kau ada di mana?" ucap Farrel memotong perkataan Samudra. "Di kantor. Ada apa?" sahut Samudra penuh tanda tanya. "Baiklah, kau diam di sana. Aku akan sampai dua puluh menit lagi."  "Kau sudah pulang? Bukannya kau pulang lusa?" "Tidak, aku harus mengerjakan sesuatu. Kau diam di sana, jangan kemana-mana."  "Tapi-" Belum sempat Samudra berkata, Farrel sudah menutup sepihak telfonnya. Cowok itu segera berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah pintu luar bandara. Sebenarnya, Farrel sedari tadi sadar. Ia hanya berpura-pura termenung di depan Sherly, agar gadis itu pergi. Kalau tidak dengan cara seperti ini, Sherly akan menempel terus seharian dengannya. Membuat Farrel kesulitan untuk menjalankan rencananya. Masa bodo dengan Sherly yang akan merajuk, urusan Farrel lebih penting. Farrel segera memasuki taxi yang sedang parkir di hadapannya. Kalau ia menunggu anak buahnya, itu akan sangat memakan waktu yang lama. Atau mungkin mereka sudah sampai dan mengantarkan Sherly? Ah, Farrel tidak perduli. "Alcander Office," ucap Farrel pada supir taksi yang dijawab acungan jempol oleh supir tersebut. *** Dave sedang duduk termenung di atas kasur empuknya. Bocah itu mengelus pipinya yang terasa sakit, mungkin pipinya sekarang semakin terlihat chuby karena bengkak sehabis ditampar oleh Ayahnya.  Biasanya, ia akan ikut bersama Ibunya untuk pergi ke restoran. Namun, kali ini tidak. Tadi Charles sudah menahannya dan mengancam akan menyiksa Ibu kalau Dave masih bersikeras untuk ikut. Jadilah sekarang, ia hanya bisa duduk manis di atas kasur, sendirian di dalam apartemen Ibunya yang tidak terlalu besar. "Jika Ayah sebaik Tuan itu.." gumam Dave. "Pasti aku akan senang." Dave memilih turun dari kasurnya. Berjalan keluar kamar dan masuk ke dalam kamar Ibunya. Entah apa yang ia cari, ia hanya sedang merindukan Ibu. Walaupun mereka baru enam jam tidak bertemu. "Huh, aku lapar.." Dave mengelus perutnya yang datar.  "Di dalam laci kamar Ibu, ada beberapa makanan ringan. Sengaja Ibu simpan di sana agar kau tidak kelaparan saat Ibu tidak ada."  Kata-kata Ree terngiang di kepala Dave. Bocah dengan pipi gembul itu segera berjalan ke arah satu-satunya lemari kecil yang memiliki laci di kamar Ibunya. Dave menarik pegangan laci itu, kemudian muncul beberapa makanan ringan yang sepertinya akan cukup untuk mengganjal perutnya. "Pastikan kalau kau memakan sesuatu, cek dulu tanggal kadaluarsanya." Nasehat Ree kembali terngiang, dan Dave mulai mengecek stempel tangggal yang tertera di bungkusan snack itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ini maksudnya apa? "Ini artinya apa?" gumam Dave bingung.  Dave ragu ingin membuka bungkus makanan ringan itu. Namun, perutnya yang bergemuruh memaksanya untuk segera membuka dan memindahkan makanan itu ke dalam perutnya. "Semoga saja ini aman." ucap Dave sebelum ia mulai memakan makanan itu. *** Farrel berjalan cepat memasuki kantor Samudra. Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan receptionist yang menyuruhnya untuk menunggu. Farrel sudah terlalu lama menunggu. Setelah menaiki lift yang membawanya ke lantai 6, tepatnya ruangan Samudra berada, Farrel memasuki ruangan bertuliskan Chief Executive Office di depan pintunya.  "Sam!" panggil Farrel. Membuat Samudra yang tengah fokus dengan laptopnya mendongakkan kepala. "Kau sudah sampai?" Samudra menaikkan sebelah alisnya. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, penting." Farrel menatap tajam ke arah Samudra. "Apa yang terjadi sebelum aku koma, lima tahun lalu?" "Kau kecelakaan. Sudah berapa kali aku memberitahumu?" "Ya, kau hanya memberi tahu sebatas itu. Kau tidak menjelaskan kenapa, bagaimana, dan di mana kejadian itu berlangsung. Aku ingin tahu semuanya." "Apa yang terjadi padamu?" tanya Samudra mengalihkan pembicaraan. "Kau terlihat lelah, istirahat lah." "Aku tidak butuh istirahat!" teriak Farrel.  Samudra memijit pangkal hidungnya, "Tenanglah Farrel, duduk. Kau sedang lelah," "Ya, aku lelah. Mengetahui bahwa selama ini aku telah dibohongi." ucap Farrel sinis. "Apa maksudmu?" Farrel tersenyum miring, kemudian mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat dan melemparkannya tepat do atas meja kerja Samudra.  Samudra menatap amplop itu dan Farrel bergantian. Kemudian, Samudra meraih benda itu dan mulai membuka isinya. Matanya terbelalak ketika melihat isi dari amplop besar itu. "Kau..menyewa detektif?" "Ya, dan mereka memberikan apa yang aku mau." "Kau sudah gila!" geram Samudra yang langsung bangkit seraya menatap tajam ke arah Farrel. "Kalian yang gila!" balas Farrel tidak kalah sengit. "Menutupi hal yang sangat penting dariku!" "Kami melakukan itu semua untuk melindungimu! Kau pikir kami mudah menerima permintaan Dokter untuk menyembunyikan masalalu mu? Kau harus bisa mengingat itu sendiri! Dengan kami yang terus membuat kau mengingat, otak mu akan terus mengingat memori lama hingga bisa membuatmu meninggal!" "Aku sudah tahu semuanya, dan aku baik-baik saja!"  Samudra menggelengkan kepalanya heran, "Kau hanya tau, bukan mengingat!" "Ah, sudahlah! Kau hanya semakin mempersulit aku." "Aku hanya mencoba menolongmu. Mengertilah, dan bersikaplah dewasa." ucap Samudra dengan suara melemah. "Aku tidak bisa tenang, Sam. Aku sudah mengetahui segalanya, dan ternyata aku bukan hanya kehilangan ingatanku," Farrel menatap nanar ke arah Samudra. "Aku juga kehilangan istriku.." "Aretha Maharani." To be continued Follow intagram Cantkazhr Farrelmw
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN