10

899 Kata
Farrel Manggala Wdyatmaja  25 years old Selamat membaca! "Aku tidak bisa tenang, Sam. Aku sudah mengetahui segalanya, dan ternyata aku bukan hanya kehilangan ingatanku," Farrel menatap nanar ke arah Samudra. "Aku juga kehilangan istriku.." "Aretha Maharani." *** "Kau..." Samudra menggantung ucapannya. "Ingat padanya?" Farrel mengangguk, "Aku ingat padanya. Tapi wajahnya masih tidak jelas, aku lupa bagaimana rupanya." "Tunggu-tunggu," Samudra mengangkat kedua tangannya. "Kau tidak sedang memancingku 'kan?" "Tidak. Aku mengingat dia, tapi aku lupa wajahnya, ah bukan lupa, hanya tidak ingat." "Sama saja."  "Apa kau memiliki foto atau semacamnya tentang istriki, Sam?"  "Katanya kau menyewa detektif, apa detektif mu itu tidak mendapatkan foto Retha?" "Mereka tidak dibayar untuk itu, aku hanya menyuruh mereka untuk mencari informasi tentangnya, tidak fotonya." Jawab Farrel. "Aku tidak memiliki fotonya," ucap Samudra yang membuat Farrel mendesah kecewa. "Tapi, Valerie ada." Lanjut Samudra yang membuat senyum Farrel mengembang sempurna. "Kalau begitu, apa yang kita tunggu?! Ayo kita temui istrimu!" ajak Farrel bersemangat. "Ku rasa kau harus menunggu sebentar lagi," ucap Samudra yang membuat senyum di bibir Farrel pudar. "Apa?" "Valerie sedang berlibur, bersama para saudaranya. Ia juga membawa Bara, dan aku tidak tahu di mana letak album yang berisi foto itu. Kau harus menunggu sampai istriku kembali." Bahu Farrel seketika melemas, namun ia tidak gentar. Pria itu kembali menatap Samudra, "Kemana dia berlibur?" "Kau tidak sedang berpikiran untuk menyusulnya, bukan?" tanya Samudra curiga. "Katakan saja, di mana Valerie berada." "London, kau-" "Persiapkan dirimu, Sam. Malam ini kita akan bertemu dengan anak dan istrimu, di London." *** R ee berjalan lunglai masuk ke dalam rumahnya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat keadaan rumahnya yang sangat gelap, wanita itu meraba-raba sekelilingnya untuk mencari saklar lampu. "Dave!" teriak Ree.  Biasanya, Dave tidak akan pernah membiarkan rumah dalam keadaan gelap seperti ini. Karena, anak itu memang takut dengan gelap. Namun, ada yang janggal saat ini. Jika Dave ada di rumah, sudah pasti semua lampu akan menyala. Ree berjalan cepat menaikki tangga. Feelingnya sebagai seorang Ibu tidak pernah salah, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Saat ia sampai di lantai dua, ia kembali menemukan kegelapan di sana. Semua lampunya mati, tidak terkecuali. Bahkan lampu di kamar Dave juga mati. Ree berlari kecil menuju kamarnya, kemudian meraba tembok di dekat pintu. "Dave!" teriaknya lagi, namun masih belum mendapatkan jawaban. "Dave, kau di mana?" Ree menekan saklar lampu di kamarnya. Pandangannya meneliti ke setiap sudut di ruangan itu, hingga matanya menangkap tubuh mungil Dave yang sudah terbaring tidak berdaya di lantai. "Dave!" Ree berlari menghampiri bocah yang tidarkan diri itu. Ree menepuk-nepuk pipi gembul Dave, mencoba menyadarkan putra kecilnya. Namun sia-sia, Dave tetap tidak bangun. Hingga Ree menyadari sesuatu yang Dave genggam. Sebuah bungkus coklat, Ree mengambil bungkus itu dan mulai menelitinya.  Seakan belum habis penderitaannya, Ree harus menerima kenyataan bahwa mungkin sekarang Dave sedang sekarat. Karena, di bungkus coklat itu, tertulis masa berlakunya yang sudah habis dua tahun yang lalu. *** "Kalau aku ditanya oleh seluruh dunia, siapa orang tergila, akan ku jawab Farrel Manggala Wdyatmaja."  Samudra menatap sinis ke arah sepupunya itu. Bagaimana tidak? Ada rapat penting yang harus Samudra hadiri, namun terpaksa dibatalkan karena Farrel yang membawa lima bodyguard untuk menyeretnya ke bandara. "Sudah aku katakan padamu," Farrel menoleh, "bahwa aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan." "Ya, dan kau mendapatkannya dengan cara merugikan orang lain. Hebat sekali," cibir Samudra. "Sudahlah, Sam. Lagi pula kau sudah terlalu sibuk bekerja. Kau harusnya mengucapkan terima kasih padaku, berkat diriku, kau bisa berlibur bersama anak dan istrimu." Samudra memutar bola matanya malas, "Terima kasih. Sepupuku yang baik hati." "Sama-sama," sahut Farrel dengan senyum mengembang di bibirnya.  "Oh, ya. Sam!" "Apa?" "Apa rasanya menjadi Ayah?" "A-apa?" Samudra menaikkan kedua alisnya. "Ada apa dengan kau?" "Ya, kita kan sedang dalam misi mencari istriku." "Lalu? Apa hubungannya?"  "Sudahlah, otakmu sepertinya tidak sampai ke sana." Farrel dan Samudra baru saja menginjakkan kaki di hotel. Mereka menghampiri Valerie yang kebetulan juga menginap di sana. Semua ini karena Farrel yang tidak sabar untuk melihat wajah istrinya, karena hanya pada Valerie kunci dari semuanya. "Cepat telepon istrimu, Sam. Tanyakan nomor berapa kamarnya?" desak Farrel. "Aku sudah berusaha untul menelponnya daritadi, nomornya tidak aktif!" gerutu Samudra. "Tunggu, Sam. Berhenti," Farrel menghentikan langkahnya. "Adaapa lagi?" Samudra memutar bola matanya malas. "tadi kau yang mendesakku untuk segera menemui Valerie, sekarang kau menyuruhku berhenti." "Kemarikan ponselmu." "Apa?" "Cepat!" "Ish, kenapa kau jadi galak," Samudra menyerahkan ponselnya. Farrel menerima benda pipih itu dan mulai mengutak atiknya. Tidak sampai beberapa detik kemudian, Farrel tiba-tiba menoyor kepala Samudra. Yang membuat Samudra melayangkan protes padanya. "Apa-apaan, kau?!" Samudra melotot tajam. "Kau bodoh! Coba kau lihat ini," Farrel menunjukkan layar ponsel Samudra yang menunjukkan deretan nomor Valerie. "Ada apa dengan itu?!" "Kau menelpon ke nomor Valerie yang ada di Indonesia, bodoh! Tentu saja daritadi tidak tersambung!"  "Hah, yang benar?" Samudra menyipitkan matanya. "ah, iya! Itu nomornya yang di Indonesia, aku lupa Valerie mengganti nomornya selama di sini." "Bodoh," geram Farrel. "cepat hubungi ke nomor baru istrimu." Samudra mencebikkan bibirnya. Kemudian, ia merebut kembali ponselnya yang ada di tangan Farrel. Beberapa detik kemudian, Samudra menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Hai, Sayang," sapa Samudra. "kau di mana?" Dahi Samudra mengernyit, "Apa? Bara sakit?" "Kirimkan alamat rumah sakit tempat Bara dirawat, aku akan ke sana sekarang."  Samudra memutuskan telponnya, kemudian menoleh pada Farrel yang sedang menatapnya penuh tanda tanya.  "Apa yang terjadi?" tanua Farrel cemas. "Anakku, ia dirawat di rumah sakit. Kita harus ke sana, sekarang." To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN