Aku tau, cerita ini memang sulit dipahami. But, coba baca lagi deskripsi cerita ini. Insyaallah, kalian akan paham.
Selamat membaca
------------------------------------
"Sam, bisakah kau berjalan lebih lambat? Aku lelah," keluh Farrel.
Saat ini, mereka berdua telah sampai di rumah sakit tempat Bara--anak Samudra dirawat. Samudra berjalan seperti orang kesetanan, langkah panjangnya hampir membuat Farrel tertinggal jika ia tidak bisa mengimbangi. Sungguh, untuk pertama kalinya di dalam hidup Farrel, ia melihat raut kepanikan Samudra.
"Diam saja, dan ikuti aku." Samudra menatap tajam Farrel.
"Kenapa sekarang kau yang jadi galak," cibir Farrel.
"Nah, ini dia ruangannya!" seru Samudra yang segera masuk ke dalam ruangan bernomor 402.
Farrel mengikuti Samudra, dan ia menemukan Valerie sedang menjaga Bara yang sedang tertidur di atas brankar.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Samudra panik.
"Ia hanya kelelahan, tubuhnya belum bisa menyesuaikan dengan suhu di sini," jawab Valerie seraya menatap Bara.
"Apa panasnya sudah turun?" celetuk Farrel yang berjalan mendekat.
Valerie mengangguk, "Ya, dokter bilang, lusa Bara sudah bisa keluar."
"Syukurlah."
"Eum, Vale. Apa kau bisa ke sini sebentar?" panggil Farrel.
Valerie menatap ragu, kemudian menoleh pada Samudra. Setelah mendapatkan anggukan, Valerie bangkit dan berjalan ke luar ruangan Bara diikuti Farrel di belakangnya.
"Ada apa?" tanya Valerie saat ia dan Farrel sudah berada di luar.
"Begini, bisa kah kau menunjukkan foto istriku?"
Farrel dapat melihat jelas raut wajah keterkejutan Valerie, sebelum wanita di hadapannya ini menjawab, Farrel kembali bersuara.
"Aku sudah hampir mengingatnya, Vale. Dengan menunjukkan wajahnya, aku yakin aku bisa mengingatnya. Tolong," ucap Farrel memelas.
Valerie menghela nafasnya, "Sebelumnya, ada yang harus aku ceritakan padamu."
Valerie berjalan menuju kursi yang terletak tepat di depan ruangan di mana Bara dirawat, diikuti Farrel yang berjalan mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
"Ku rasa, ini sudah waktunya. Untuk menceritakan segalanya," Valerie menoleh, "kau siap?"
"Lebih dari siap."
"Baiklah," Valerie menghela nafasnya, "dengarkan baik-baik. Jangan memotong saat aku sedang bercerita."
Farrel mengangguk.
"Lima tahun yang lalu, kau menikah dengan sahabatku, Aretha Maharani. Setelah melewati jalan berlika-liku, akhirnya kalian bisa bersatu," Valerie menengok ke arah Farrel yang tengah serius menatapnya.
"Tiga bulan setelah menikah, kalian berencana untuk liburan ke London. Kebetulan Retha dan kau sedang cuti bekerja, dan kalian sempat mengajak aku dan Sam. Kami menolak, karena waktu itu Sam sangat sibuk," Valerie menghela nafasnya.
"Yang kami dapatkan setelah kalian berangkat adalah, bahwa pesawat yang kalian tumpangi hilang. Saat itu juga aku dan Sam terbang ke London untuk mencarimu dan Retha. Kau ditemukan seminggu kemudian, dengan kondisi yang sangat parah. Bahkan kami takjub, kenapa kau masih bisa hidup. Dengan banyaknya luka, apalagi kau beberapa tahun sebelumnya juga pernah mengalami kecelakaan yang juga lumayan parah.
Saat kau tersadar dari koma, hal yang membuat kami terkejut adalah kenyataan bahwa kau tidak ingat apa-apa. Termasuk, siapa dirimu, apalagi istrimu. Kami sudah berusaha untuk memberi tahumu, namun dokter melarang.
Kau tahu alasannya? Dokter bilang, kalau kami terus menceritakan masalalumu, otakmu akan terus berusaha mengingat dan itu tidak akan baik untuk kesehatanmu.
Itu alasan kami selama ini menyembunyikannya. Percayalah, selama lima tahun ini, aku dan Sam sudah berusaha untuk membantumu.
Kami berusaha menjauhkan Sherly darimu, kami berusaha mencari Retha yang sampai sekarang bahkan kita tidak tau dia masih hidup ... atau tidak. Kami tidak tahu."
"Jadi, dia hilang?" tanya Farrel.
"Kami sedang berusaha mencarinya sampai saat ini."
"Aku butuh melihat wajahnya, Vale. Tunjukan padaku!"
"Sebentar, Farrel. Sebelum memberikannya, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Aku melihat seorang wanita, yang mirip dengan Retha. Aku tidak yakin apakah penglihatanku benar, tapi aku yakin, mereka benar-benar mirip ... "
"Berikan fotonya sekarang,"
"Sebentar," Valerie merogoh celananya. Mengeluarkan benda pipih dari sana, kemudian mengutak-atiknya sebentar.
"Ini, foto Retha." Valerie menyerahkan ponselnya pada Farrel.
Farrel menerima benda pipih itu, seraya menatap wajah seorang wanita yang sedang tersenyum di sana. Ada rasa lega, dan ada rasa bingung. Namun, rasa senang lebih dominan.
"Benar, ini istriku?" tanya Farrel.
"Ya, ini foto terakhirnya yang kami ambil seminggu sebelum peristiwa itu terjadi. Mungkin, jika Retha masih hidup, wajahnya tidak banyak berubah."
"Ia masih hidup, Vale. Ia ada di sini," Farrel menatap Valerie dengan senyum mengembang.
"A-apa maksudmu?"
"Kau yang mengatakan padaku, bahwa kau melihat orang yang mirip dengannya ada di sini, kan?"
"Iya, tapi belum tentu itu, dia."
"Itu pasti dia."
***
"Dave, bangun Sayang ... " lirih Ree seraya berlari mendorong brankar.
Ia berlari seperti orang kesetanan, juga menangis tiada henti. Bagaimana tidak? Ibu kandung mana yang tidak histeris, melihat anaknya dalam kondisi hidup dan mati?
"I'm sorry, Miss. But, you can came to this room, let the doctor do their job. Your son will get better," ucap seorang perawat yang menghentikan Ree saat ia mencoba masuk bersama Dave ke dalam UGD.
"I must be with my son, please. Let me come in ... " lirih Ree.
"I'm sorry, Miss. I can't."
Ree terduduk dan menangis tersedu-sedu, pikirannya tidak karuan. Saat ini, harusnya ada seorang suami yang bisa menenangkannya. Charles? Bahkan Ree bingung, apa statusnya dengan pria itu. Ia tidak memiliki siapapun, selain Dave.
"Aku tidak memiliki siapapun, selain anakku ... "
"Tidak,"
Suara berat itu membuat Ree membalikkan tubuhnya ke belakang, wajahnya menegang kala seorang Pria yang baru saja ia kenali beberapa waktu lalu.
"Tu-Tuan Wdyatmaja?" lirih Ree.
"Bangun," Farrel menarik Ree agar berdiri, "derajat seorang wanita itu tinggi. Tidak pantas untuk duduk di lantak seraya menangis seperti ini."
Ree berdiri seraya tertatih, kemudian menyeka air matanya.
"Berhentilah menangis," ucap Farrel.
"Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan, Tuan. Aku tidak memiliki siapapun, selain Dave."
"Kau memiliki aku," Farrel berjalan mendekat dan mendekap erat tubuh Ree, "istriku."
To be continued
Satu kata untuk part ini :)?