18

1121 Kata
Wajib vote sebelum baca dan komen setelahnya Farrel berjalan mengekor di belakang dokter dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Pikirannya masih bergelut dengan tingkah Retha tadi, mengapa gadis itu saat terbangun berubah menjadi seperti orang lain? Maksud Farrel, Retha sebelum ini sangat canggung, berbeda dengan Retha yang tadi, yang tidak ragu menatap matanya, yang menatapnya tidak seperti orang asing. "Silahkan duduk, Pak," Dokter menunjuk kursi yang ada di depan meja kerjanya. Farrel mengangguk, kemudian duduk, "Jadi, ada apa?" "Begini, sebelumnya aku ingin bertanya padamu, apakah Istrimu pernah mengalami kecelakaan serupa sebelum ini?" "Iya, kami berdua pernah kecelakaan pesawat. Dan kalau tidak salah, dia juga menderita amnesia disosiatif, sama sepertiku." "Seperti itu," Dokter mengangukkan kepalanya, "aku memiliki dua kabar untukmu. Satu kabar baik, dan satu kabar buruk. Kau ingin mendengar yang mana dulu?" "Terserah." "Baiklah, aku akan memberitahumu kabar baik terlebih dahulu. Jadi, Amnesia disosiatif yang dialami istrimu sudah sembuh," Dokter itu menatap Farrel, "kabar buruknya, ia sekarang menderita Amnesia Retrograde." "Apakah itu penyakit serius?" "Semua penyakit itu serius, Tuan." "Apa dampaknya?" "Istrimu tidak dapat mengingat peristiwa yang terjadi setelah kecelakaan pesawat yang kalian alami." "Bagus," ucap Farrel yang membuat kening Dokter itu berkerut. "Apa yang bagus?" "Dengan begitu, ia tidak akan mengingat peristiwa menyakitkan yang dia alami tanpa aku. Diingatannya hanya akan ada aku, berarti dia juga tidak akan ingat kalau dia pernah tinggal di sini, kan?" tanya Farrel dengan senyum mengembang di bibirnya. "Ya, segala ingatan yang dia dapat setelah kecelakaan itu akan hilang. Tapi, kenapa kau senang?"  "Senang saja. Memangnya kau tidak senang jika di pikiran istrimu hanya ada kau?" Dokter itu berdehem, "Tadi istri anda juga sempat menanyakan apakah bayinya selamat atau tidak. Itu berarti, saat kecelakaan itu terjadi, Istri anda sedang mengandung." "Iya, dan sekarang anak kami sudah lahir. Ia tampan, sepertiku," Farrel terkekeh. "Itu masalahnya, Tuan." Farrel menaikkan sebelah alisnya, "Apa?" "Kemungkinan besar, Istrimu tidak akan mengingat keberadaan anakmu. Karena anakmu lahir sesudah kecelakaan itu." "Astaga, lalu, bagaimana? Kapan Istriku bisa mengingatnya?" "Amnesia retrograde itu ada dua jenis. Pertama, ingatanmu akan terhapus secara permanen. Dan yang kedua, ingatanmu hanya akan terhapus sementara, walaupun ingatan yang akan diingat tidak akan semuanya. Mungkin, hanya hal yang penting saja." "Bagaimana kita tahu apakah Istriku menderita amnesia permanen atau sementara?" tanya Farrel. "Dari hasil pemeriksaan sementara, sepertinya Istrimu terkena Amnesia Retrograde jenis yang kedua, sementara. Namun, kami akan mencoba memeriksanya sekali lagi." "Kalau ternyata ia menderita Amnesia permanen?" "Dia tidak akan pernah mengingat anakmu," jawab Dokter itu seraya menatap mata Farrel dengan serius. *** "Vale, apakah bayiku selamat?" tanya Retha entah sudah untuk yang ke berapa kalinya. "Re, aku tidak mengerti. Kau sedang hamil?" Valerie mengerutkan keningnya. "Astaga, Valerie. Sejak kapan kau jadi pikun begini? Baru beberapa hari yang lalu aku memberitahumu bahwa aku sedang hamil, masa kau lupa?" "Re, itu sudah lima tahun yang lalu. Anakmu sudah lahir, dan dia sedang tidur di kamar sebelah, namanya Dave. Kau tidak ingat?" "Valerie, ini sungguh tidak lucu. Apa maksudmu bahwa anakku telah lahir? Bahkan usianya baru tiga bulan, kau pasti bercanda," Retha terkekeh pelan. "Re, apa kau merasakan ada kehidupan di sana?" Valerie menunjuk perut Retha yang datar, "apa kau merasakannya?" Retha menunduk, menatap perutnya. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Valerie dan menggeleng. "Itu karena anakmu sudah lahir, Re," ucap Valerie gemas, "astaga, jangan bilang kalau kau terkena amnesia retrograde? Aku tidak bisa membayangkannya." "Kau akan bisa membayangkannya, Vale," suara berat Farrel membuat Valerie dan Retha menoleh bersamaan ke arahnya. "Maksudmu? Ia benar-benar menderita penyakit itu?"  Farrel mengangguk, "Ya, dan berdoa saja semoga itu tidak permanen." "Astaga!" Valerie menggeram, "ini semua ulah Charles! Lihat saja, pria itu akan mendapatkan balasannya." "Aku akan membuatnya menyesal karena telah berani membuat keadaan istriku jadi begini," sahut Farrel dengan suara dingin. "Hey, kalian membicarakan tentang siapa?" celetuk Retha seraya menatap curiga ke arah Farrel dan Valerie. Farrel tersenyum tipis, kemudian berjalan memperhatikan Retha. Ia mengelus lembut puncak kepala gadis itu, lalu mencium keningnya lama. Setelah itu, Farrel menggerakka tangannya, mengelus lembut pipi mulus Retha.  "Kau ingat padaku?"  Alis Retha terangkat satu, "Tentu saja. Bagaimana bisa aku melupakan suamiku sendiri?" "Lalu, bagaimana bisa kau lupa dengan anakmu?" "Anak?" "Kau adalah seorang Ibu, dan kau tidak lagi berusia dua puluh tahun. Kau sudah dua puluh lima, sayang," Farrel berucap pelan seraya menatap mata Retha. Seperti yang dokter katakan, ia harus memberitahukan semuanya, pelan-pelan. "Aku tidak mengerti, bagaimana bisa?" tanya Retha bingung. "Kau dan aku, kita pergi liburan ke London. Kita berdua mengalami kecelakaam pesawat, dan kita terpisah selama lima tahun," Farrel menghela nafasnya, "kita sama-sama mengalami amnesia, dan saling lupa dengan satu sama lain. Kita hidup masing-masing, tanpa saling mengingat bahwa kita saling memiliki." "Lalu, kenapa kita bisa bertemu lagi?" "Ceritanya panjang, sayang. Yang jelas, kau mengalami kecelakaan lagi, dan baiknya ingatan lamamu telah kembali. Buruknya, ingatanmu setelah kecelakaan pesawat itu malah terhapus. Itu membuatmu melupakan anak kita, Dave?" "Dave?" mata Retha membulat, "apakah dia nyata?" "Maksudmu?" "Di dalam mimpiku, ada seorang anak laki-laki bernama Dave, dan dia memanggilku Ibu." Farrel tersenyum tipis, "Ku rasa itu bukan mimpi, melainkan sebagian ingatanmu." "Sekarang, di mana Dave?" tanya Retha, "aku ingin bertemu dengannya!" "Dia ada di ruangan sebelah, Re. Sam sedang menjaganya, kau ingin aku membawanya ke sini?" tawar Valerie yang langsung dijawab anggukan oleh Retha. "Baiklah, tunggu sebentar," Valerie berjalan keluar kamar Retha, menyisakan Farrel dan Retha berdua. Lima menit kemudian, Valerie kembali seraya menggendong Bara, serta Samudra yang mendorong Dave di atas kursi roda. Mata Retha membulat saat melihat Dave, sama persis dengan sosok anak kecil di mimpinya. Tanpa sadar, airmata Retha menetes. Dengan dibantu Farrel, Retha turun dari kasurnya dan langsung menghamburkan pelukannya pada Dave. "Ibu ... " lirih Dave di dalam pelukan hangat Retha, "jangan tidur lagi, aku tidak suka jika Ibu tidur lama-lama. Aku rindu Ibu memarahiku, aku rindu pada Ibu ... " Retha tidak mampu berkata-kata karena ia tidak mengingat apapun tentangnya dan Dave. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya, setidaknya membuat bocah itu senang. "Astaga, Vale. Mulai sekarang kita tidak usah berlibur menggunakan pesawat lagi," celetuk Samudra. Valerie mengernyitkan alisnya, "Kenapa?" "Aku tidak ingin kita seperti mereka, kau lihat itu. Suami Istri hilang ingatan bersamaan, aku tidak ingin mengalami kejadian seperti mereka," Samudra bergidik ngeri. "Sam," ucap Valerie dengan nada memperingati. "Hey, Farrel," panggil Samudra yang membuat Farrel mendongakkan kepalanya. "Ada apa?" "Kau tahu? Seseorang kemarin memberitahuku bahwa ia sangat ingin menjedukkan kepalamu ke tembok, agar ingatanmu segera pulih," Samudra terkekeh. "Tidak perlu mengatakan orang lain, Sam. Aku tahu bahwa itu adalah idemu," balas Farrel, membuat tawa Samudra pecah. "Jadi, bagaimana? Kau sudah menemukan Istri dan anakmu, kapan kita akan kembali ke Indonesia?" "Ku rasa kita akan kembali dua minggu lagi, setidaknya saat Re dan Dave benar-benar pulih," jawab Farrel yang diangguki setuju oleh Samudra. To be continued Sherly udah boleh keluar belum???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN