Playlist : Stay with me - Sam Smith
Bacanya sambil nafas, ya.
Dokter itu menatap Farrel dengan tatapan tidak bisa dijelaskan, ia menghampiri Farrel dan menepuk pelan bahu Farrel, "Kami turut berduka cita."
Mata Farrel membuat sempurna, ia segera menerobos masuk ke dalam ruangan Retha. Langkah panjangnya terhenti, saat melihat para suster sedang melepaskan alat-alat yang tadinya dipergunakan untuk membantu Retha hidup. Kini, hampir dari separuh alat itu telah dilepaskan dan tinggal tersisa sebuah alat bantu nafas yang menempel pada hidung Retha. Saat salah satu dari suster itu mulai hendak melepaskannya, Farrel berteriak, membuat gerakan suster itu terhenti.
"Kau akan mati jika berani melepaskan alat itu dari tubuhnya," suara dingin Farrel membuat kedua suster di hadapannya menghentikan aktivitas mereka.
"Maaf, Tuan. Istrimu telah tiada, kau harus merelakannya."
"Tidak!" sentak Farrel, "istriku masih hidup! Pasang kembali alat-alat itu, kalian membuatnya kesakitan, cepat pasang!"
Dua suster itu saling menoleh, kemudian mereka keluar dari ruangan mencekam itu tanpa mengindahkan semua panggilan Farrel untuk menyuruh mereka kembali dan memasangkan alat-alat itu kembali.
"Tidak, tidak, tidak!" Farrel berlari menuju brankar Retha.
Dengan tangan bergetar, Farrel mengambil satu persatu alat-alat yang tadinya dipasangkan di tubuh Retha. Namun, rasanya sia-sia saja karena Farrel tidak mengetahui fungsi dan harus di letakkan di mana alat-alat itu.
Farrel menatap nanar ke arah Retha yang sudah terbaring tidak bernyawa. Di hadapan Farrel kini hanyalah raga dari wanita yang sangat dicintainya, tanpa adanya lagi kehidupan pada wanita itu. Kini, semuanya telah selesai. Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan bersama, mungkin memang jodoh mereka telah habis sampai di sini.
"Kalau suatu saat aku pergi, dan ga bakal balik lagi, kamu gimana?"
Pertanyaan itu sontak membuat mata Farrel yang tertutup rapat menjadi membuka lebar. Saat ini, ia dan Retha sedang bersantai di gazebo dengan posisi Farrel tidur di atas paha istrinya itu.
"Gimana apanya? Ya kalo kamu pergi, aku pergi juga." jawab Farrel santai namun bernada sarkas, tentu saja ia tidak suka dengan pertanyaan istrinya itu.
"Kalau aku meninggal, kamu nikah lagi nggak?" tanya Retha lagi.
"Enggak." jawab Farrel cepat. "Kalau kamu meninggal, aku juga."
Retha tersenyum tipis. Di usapnya kembali puncak kepala Farrel seperti yang ia lakukan beberapa menit terakhir dengan penuh kasih sayang, setelahnya, wanita itu menghela nafasnya berat.
"Farrel," panggilnya pelan.
Farrel hanya menggumam sebagai respon, matanya terlalu berat untuk terbuka karena belaian di kepalanya benar-benar pengantar tidur yang sangat kuat.
"Kalau nanti aku pergi, dan nggak akan kembali lagi. Tolong kamu jangan ikut, ya? Kamu harus lanjutin hidup."
Farrel kembali menggumam, mengiyakan perkataan Retha yang samar-samar terdengar. Setelahnya, Farrel benar-benar jatuh ke alam sadarnya, dan ia mulai tertidur.
Ingatan Farrel kembali pada beberapa tahun lalu, saat ia dan Retha tengah bersantai di gazebo rumah mereka. Farrel merutuki dirinya sendiri, mengapa ia bisa sebodoh ini? Jika ia tidak menyuruh Retha untuk berlari ke jalan raya, maka hal ini tidak akan terjadi. Dan jika ada yang harus disalahkan atas kejadian ini sebenarnya adalah dirinya sendiri.
"Ibu ... " suara Dave membuat perhatian Farrel teralihkan.
Bocah itu sedang menangis di atas kursi rodanya yang didorong oleh Valerie, melihat Dave seperti ini, membuat hati Farrel semakin hancur. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Dave apa yang telah terjadi?
"Dave," panggil Farrel pelan, "Ibumu sudah pergi."
"Ibu pergi ke mana? Kenapa dia tidak mengajakku? Dia bilang dia tidak akan pernah meninggalkan aku! Ayah, ke mana Ibu? Aku ingin ikut!"
"Ibu sudah pergi ke tempat yang jauh, dan indah. Dave, kau tidak bisa ikut, kehidupanmu masih panjang. Kita berdua saling memiliki," ucap Farrel menenangkan bocah itu.
"Tidak, aku tidak mau. Aku hanya ingin bersama Ibu, aku tidak ingin bersama Ayah jika Ibu tidak ada. Di mana tempat yang jauh itu? Katakan, aku ingin menyusul Ibu!" Dave mulai memukul-mukul bahu Farrel, air matanya sudah membanjiri pipinya yang tembem.
"Dave ... " lirih Farrel, pasrah.
"Farrel, hey, Farrel!" tepukan keras di pipi Farrel membuat pria itu terbangun dari tidurnya.
"Adaapa, Sam?" tanya Farrel dengan suara seraknya. Tanpa sadar, ternyata Farrel tertidur di sofa yang ada di ruangan Retha, ini akibat ia yang kelelahan karena selama seminggu ini tidak dapat tertidur.
Parahnya lagi, Farrel bermimpi kalau Retha meninggal.
"Re menggerakkan tangannya, cepat kau lihat dia!" seru Samudra yang membuat mata sayu Farrel langsung segar.
Farrel segera bangkit dan berjalan menuju brankar Retha, dan benar kata Samudra, jari-jari Retha bergerak. Ini adalah keajaiban, mengingat kondisi wanita itu terus menurun. Hal yang paling membuat Farrel senang adalah ketika mata Retha terbuka secara perlahan.
"Re, kau sudah sadar?" tanya Farrel seraya mengelus puncak kepala wanita itu, "Sam, panggil dokter!"
"Kau tinggal menekan bel di sampingmu itu, bodoh. Tidak perlu menyuruhku berlari ke bawah sana," sewot Samudra.
"Hey, tidak bisakah kalian tidak bertengkar sebentar saja?!" selak Valerie, "Re baru saja sadar."
"Aku di-di mana?" gumam Retha pelan.
"Kau di rumah sakit, sayang."
"Ru-rumah sakit?" ulang Retha kaget, wanita itu kemudian menyentuh perutnya yang rata, "Farrel, anak kita bagaimana?! A-aku sedang hamil, apa aku keguguran?"
Dahi Farrel mengernyit, "Kau sedang hamil?"
"Iya, Farrel. Aku sedang hamil, aku merahasiakannya dan akan memberitahumu saat kita sampai di London nanti ... " Retha terisak, "apakah dia tidak selamat?"
"Re, maksudmu apa?" tanya Farrel bingung.
"Permisi, biarkan aku memeriksa keadaan pasien," seorang dokter berjalan menghampiri Retha dan mulai memeriksa keadaannya.
"Siapa namamu?" tanya Dokter itu pada Retha.
"Aretha Mahrani."
"Kau kenal padanya?" Dokter itu menunjuk Farrel.
Retha menganggukkan kepalanya, "Ya, dia suamiku. Farrel Manggala Wdyatmaja, ada apa?"
"Berapa umurmu?"
"Dua puluh tahun," jawab Retha dengan sedikit bingung.
Dokter itu mengalihkan pandangannya pada Farrel, "Tuan, aku ingin kau ke ruanganku sekarang."
Farrel mengangukkan kepalanya, "Baiklah."
"Dokter! Bagaimana kondisi bayiku?!" teriak Retha begitu dokter itu keluar dari ruangannya.
"Re, tenanglah. Aku akan segera kembali," Farrel mengecup cepat kening Re, kemudian berlari pelan menghampiri Dokter.
To be continued
200 komen untuk next