Playlist : Stay with me - punch feat pcy OST Goblin
Pernahkah kalian berada di titik kehidupan paling rendah? Di saat semua harapan telah hilang, dan tidak ada yang mampu kalian lakukan? Di saat seperti ini, kalian membutuhkan sebuah lilin. Walaupun cahayanya tidak begitu terang, namun setidaknya ia bisa memberikan sedikit sinar. Tapi, jika lilin itu juga ikut redup, masih dapatkah kalian bertahan?
Mungkin nasib kalian akan sama seperti Farrel. Pria itu tidak pernah berhenti untuk berdoa, bahkan ia sudah tidak tidur setelah lima belas jam berlalu, saat Retha--istri yang baru saja Farrel temukan mengalami kecelakaan. Kondisinya benar-benar sedang berada di titik terbawah kehidupan, bahkan Retha masih dapat hidup hanya karena bantuan alat.
Dokter menjelaskan, bahwa harapannya sangat kecil. Mengingat sebelumnya Retha sudah pernah mengalami kecelakaan yang sama parahnya, dan ia juga koma untuk waktu yang lumayan lama. Kesempatan kedua jarang ada, namun Farrel benar-benar berharap jika Tuhan mau memberikan kesempatan itu pada Retha agar ia bisa kembali sadar.
Jangan lupakan Dave yang juga menjadi korban, saat ini kondisi Dave tidak kalah mengenaskan. Ia kehabisan banyak darah dan segera membutuhkan donor, beruntung darahnya dan Farrel sama. Kini, Farrel juga sedang menunggu Dave melewati masa kritisnya.
Semua ini karena Charles, jika saja pria itu tidak menculik Dave, pasti ini tidak akan terjadi. Atau, semua ini adalah salahnya? Karena, rencana untuk lari ke jalan raya itu adalah rencana Farel. Iya, benar. Ini adalah seratus persen kesalahan Farrel, dan jika salah satu di antara Retha ataupun Dave tidak selamat, maka Farrel tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Samudra yang baru saja tiba sehabis menjenguk anaknya.
"Dave kritis, dan Re lebih parah."
Samudra menepuk bahu Farrel, "Mereka pasti selamat, aku yakin."
"Mereka menderita karena aku, Sam. Aku tidak pantas bersama mereka, apa aku pergi saja?"
"Kau gila?" Samudra menampar keras pipi Farrel, "sadarlah, Bodoh! Jika kau pergi dari mereka, lalu, siapa yang akan menjaga mereka? Kau ingin mereka kembali pada Charles itu?"
Farrel menggelengkan kepalanya, "Tidak."
"Yasudah! Jadilah seorang Farrel Manggala Wdyatmaja, yang tidak memiliki rasa takut di dalam hidupnya! Farrel yang aku kenal, bahkan jauh lebih kuat daripada ini. Aku tahu kau bisa, jika kau lemah seperti ini, dengan siapa anak dan istrimu bisa menggantungkan hidup mereka?"
"Kau benar," ucap Farrel, "mereka membutuhkan aku."
"Kau tahu, ini adalah pertama kalinya aku melihat ada ketakutan di raut wajahmu."
Farrel menganggukkan kepalanya, "Di dalam hidupku, untuk pertama kalinya aku merasakan takut, takut untuk kehilangan."
***
Seminggu telah berlalu, dan kondisi Retha tidak kunjung membaik. Malah, tingkat kesadarannya terus menurun seiring waktu. Ditambah dengan kejang-kejang yang hampir setiap saat menghampiri Retha.
Farrel mulai pasrah, rasanya ia tidak kuat jika harus melihat keadaan Retha yang begini. Semakin hari, ingatan Farrel semakin memulih, semakin sakit juga perasaanny karena berhasil mengingat momen manisnya bersama Retha, dulu. Momen itu tidak bisa diulang kembali, tidak dengan keadaan Retha yang kian hari semakin memburuk.
Bantuan alat di sekujur tubuh Retha yang membuatnya masih bertahan. Jika alat itu dilepas? Maka berakhir juga nafasnya berhembus. Farrel mulai tidak tega melihat kondisi istrinya, rasanya ia terlalu egois jika terus membiarkan Retha tersiksa dengan alat-alat di sekujur tubunya. Tapi, ia juga tidak mau mengambil resiko untuk kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya.
Farrel menatap nanar pada sosok wanita yang kini tengah terbaring berjuang untuk hidup di hadapannya, untuk pertama kalinya Farrel meresakan ketakutan yang luar biasa. Farrel menghela nafasnya, ia kemudian bergerak mencium kening Retha untuk waktu yang lama, bahkan sampai air mata Farrel jatuh tepat di kening Retha.
"Bangun," gumam Farrel yang tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Ayah ... "
Farrel menengok ke belakang dan mendapati Dave yang sedang duduk di kursi roda yang didorong oleh Valerie, Farrel tersenyum tipis seraya berjalan menghampiri bocah itu. Dave sudah sadar sejak lima hari yang lalu, Farrel bersyukur karena Dave berhasil selamat dan kesehatannya terus meningkat. Setidaknya, ia masih memiliki Dave yang harus ia jaga.
"Hey, son. Adaapa?" tanya Farrel seraya berlutut untuk menyamai tingginya dengan Farrel.
"Kapan Ibu akan bangun? Aku rindu padanya. Aku rela ia memahariku setiap hari, asalkan dia bangun sekarang."
"Berdoalah, Dave. Agar Ibumu cepat sadar, dan kita akan pulang."
"Pulang?"
"Ya, pulang. Kau tidak ingin ikut Ayah ke Indonesia?"
Dave mengangukkan kepalanya, "Mau."
"Kalau begitu, kau harus cepat sembuh. Lalu, kita tunggu Ibumu membuka matanya."
"Apakah Ibu akan bangun?" tanya Dave yang menohok hati Farrel, karena, jujur, bahkan Farrel tidak yakin harus menjawab apa.
"Tentu saja, Dave. Kau ini bicara apa? Ibumu adalah wanita kuat, jika ia tahu sampai ada yang meremehkannya, ia tidak akan menyukai itu," bukan Farrel yang menjawab, melainkan Valerie.
"Aunty," panggil Dave pelan, "kau bicara dalam bahasa apa? Aku ... tidak mengerti."
"Astaga, kau tidak mengerti bahasa Indonesia, Dave?" tanya Valerie kaget.
Dave menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kau mengangukkan kepalamu saat aku bertanya kau sudah makam atau belum?"
"Tidak tahu, Ibu mengajariku untuk selalu menjawab dengan sopan jika ada yang bertanya. Kau bertanya padaku menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti, jika aku membalasnya dengan bahasa yang berbeda maka itu tidak sopan, jadi aku mengangguk saja," jelas Dave panjang lebar.
"Astaga, lihat betapa cerdasnya anak ini. Sudah dapat dipastikan bahwa ia memang anakmu dan Re," Valerie mendongak pada Farrel.
Farrel terkekeh, kemudian mengacak puncak kepala Dave, "Nanti kita belajar bahasa Indonesia, okey?"
"Baiklah," Dave mengangguk patuh.
Hening untuk sejenak, sampai mesin EKG yang menampilkan deretan detak jantung Retha berbunyi nyaring. Farrel yang panik langsung berlari menghampiri Retha yang kembali mengalami kejang-kejang. Farrel segera menekan bel untuk memanggil para dokter agar dapat segera menangani kondisi Retha yang kian memburuk.
Tidak lama dari itu, beberapa orang berpakaian serba putih datang. Farrel yakin itu adalah dokter dan suster, karena salah satu di antara mereka kini menghampiri Farrel dan menyuruhnya untuk menunggu di luar. Farrel menurut dengan mengajak Valerie dan Dave untuk menunggu di luar. Jantung Farrel berdetak cepat, entah mengapa batinnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres.
Dalam pikirannya, terbesit bayangan yang tidak-tidak. Itu membuat Farrel merasakan hal aneh, rasanya yang ia bayangkan saat ini adalah nyata. Ia terus membayangkan hal buruk, walaupun ia sudah menepis jauh-jauh pikiran itu. Semua pikiran Farrel lenyap, saat dokter keluar dari ruangan Retha.
Dokter itu menatap Farrel dengan tatapan tidak bisa dijelaskan, ia menghampiri Farrel dan menepuk pelan bahu Farrel, "Kami turut berduka cita."
To be continued
Jangan teror aku.
Btw, belajar dari Troublemaker boy 1 ya guys