15

1425 Kata
Cie double update cie Farrel mengelus kepala Ree yang sedang terlelap, wanita itu baru saja bisa tenang saat para personil yang diutus untuk mencari Dave telah memberikan kabar yang cukup baik. Mereka berhasil mendeteksi di mana keberadaan Charles, dan sekarang mereka harus berharap Dave ada bersama dengan pria itu.  "Kau tidak ingin turun tangan?" suara berat Samudra memecah keheningan. Tadi, Valerie pamit untuk kembali ke ruangan Bara agar Samudra bisa datang ke sini. "Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri, Sam," sahut Farrel seraya menghela nafasnya berat. "Ada Valerie. Dan jika kau mau, aku bisa menyuruh Vanesha untuk ke sini. Bagaimanapun juga, mereka harus tau bahwa Retha masih hidup dan sudah bersama dengan kita sekarang." "Tunggu situasinya aman dulu, Sam. Dave masih belum ditemukan, dan aku tidak ingin kehilangan mereka untuk yang kedua kalinya. Lagipula, berada di dekatnya membuat aku sedikit demi sedikit mengingat kenangan kami dulu." "Yasudah, terserah kau," Samudra menganggukkan kepalanya. "Tapi, Sam. Menurutmu apa faktor pria itu menculik Dave?" "Banyak, ia bisa mengancam kalian berdua dengan anak itu. Misalnya ia meminta barter, ia akan memberikan Dave jika kau memberikan Re padanya." "Untuk apa dia menginginkan istriku jika ia hanya ingin menyiksanya?" geram Farrel. "Mana aku tahu," Samudra menghendikkan bahunya, "tidak ada alasan lain untuk pria itu menculik Dave selain meminta Re kembali padanya, uang? Ia orang yang cukup berada, kurasa ia tidak terlalu mementingkan uang." "Tapi, aku merasa-" ucapan Farrel terpotong bertepatan dengan ponselnya yang bergetar. Farrel merogoh saku mantel tebalnya, kemudian menggeser icon hijau yang tertera di layar benda pipih di genggamannya. Dahinya mengernyit saat mekihat deretan angka yang begitu asing di kontaknya, akhirnya Farrel menempelkan benda itu di telinganya. "Ya?" sahut Farrel. "Tolong aku ... " "Dave?!" teriak Farrel, membuat Samudra segera bangkit dari duduknya, "di mana kau?" "Aku tidak tahu ... a-aku bersama Ayah," sahut Dave dengan suara bergetar. "Tidak, dia bukan Ayahmu. Akulah Ayahmu, jangan menyebutnya Ayah! Sekarang katakan padaku, apa yang telah ia lakukan padamu?"  "Dia membawaku ke suatu tempat yang tidak aku kenal ... di sini gelap, dan bau. Tolong aku ... " "Dave, di mana Charles?" "Dia di sini, di sebelahku," sahut Dave, "sedang menodongkan pistol di kepalaku." "Charles!" teriak Farrel, "lepaskan anakku!" "Charles, lepaskan anakku," balas Charles mengikuti gaya bicara Farrel dengan nada mengejek, "kembalikan wanita sialan itu padaku, dan akan ku berikan anak tidak berguna ini padamu." "Kau gila, huh? Untuk apa kau memintanya jika kau hanya ingin menyiksanya?!" "Ya, dia berhutang banyak padaku. Lebih tepatnya, dia berhutang nyawa." "Jangan pernah bermimpi, Charles. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu!" "Silahkan saja jika kau memaksa, tinggal aku tarik pelatuk pistol ini, dan anak tidak berguna ini akan hilang dari muka bumi," Charles tertawa jahat yang diiringi suara tamparan dan teriakan Dave. "Apa yang kau lakukan padanya, Sialan?!" geram Farrel. "Hanya sebuah tamparan kecil," Charles kembali tertawa. "Kau pegang ucapanku, jika sekali lagi kau berani menyentuhnya, maka aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan!" "Wow, kau mengancamku, ya?" lagi dan lagi Charles tertawa, "baiklah, kalau begitu kau juga harus memegang kata-kataku ini, Farrel Manggala Wdyatmaja. Jika besok, kau tidak datang ke tempat yang aku inginkan dengan membawa wanita itu, akan ku pastikan bahwa jenazah anak tidak berguna ini akan sampai di rumahmu." "Jangan berani macam-macam, atau kau akan menerima akibatnya!" "Ya, terserah kau." ucap Charles sebelum pria itu menutup sepihak teleponnya "Sialan!" gumam Farrel. "Dia bilang apa?" tanya Samudra seraya memasang raut wajah khawatir. "Dia akan menghabisi Dave, jika besok aku tidak membawa Retha ke tempat yang ia inginkan," ucap Farrel pasrah, "kau benar, Sam. Dia menginginkan Retha." "Lalu, kau mau?"  "Tentu saja-" "Iya!"  Bukan Farrel yang bersuara, melainkan Ree yang terbangun dari tidurnya dengan mata sembab. Wanita itu kembali menangis. Farrel segera menghampiri Ree, dan kembali memeluk erat wanita itu. "Tidak, aku tidak akan pernah menyerahkanmu padanya." "Jika kau tidak menyerahkan aku, Dave akan dibunuh. Aku tahu siapa itu Charles, dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Dave tidak selamat," lirih Ree. "Tidak, aku tetap tidak akan menyerahkanmu."  "Kau egois!" Ree melepaskan dirinya dari rengkuhan Farrel, "kau tidak memikirkan Dave! Dia anakmu, kau dengar?! Dia. Anakmu. Darah dagingmu! Untuk apa aku hidup jika anakku tidak ada? Itu lebih menyakitkan dari neraka!" "Tapi aku tidak ingin kehilanganmu, lagi!" balas Farrel dengan suara tinggi, membuat Ree terdiam untuk beberapa saat, "aku tidak ingin kehilangan kau, lagi. Di saat aku baru saja menemukanmu, tidak .. " "Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, selain menuruti keinginan pria itu," Ree memejamkan matanya, kemudian menatap Farrel dengan tajam, "jika kau tidak ingin menyerahkan aku, aku yang akan pergi sendirian menemuinya." "Tidak, kau tidak akan pernah pergi dari sini. Aku akan membawa Dave kembali, tanpa harus menyerahkanmu pada pria itu." *** Tubuh Dave bergetar hebat, bukan karena ia ketakutan, tapi karena ia belum makan. Rasanya lututnya lemas, tidak sanggup untuk berdiri. Belum lagi ia harus menahan rasa sakit di kepala dan perutnya. Charles terus memaksa Dave berjalan ke suatu tempat yang tidak ia ketahui, dari tadi ia terus menuruti keinginan pria itu karena takut Charles akan melakukan hal yang lebih mengerikan. Dalam beberapa jam terakhir saja, Dave sudah mendapatkan pukulan dan tamparan bertubi-tubi tanpa sebab, yang membuat tubuhnya semakin kehilangan energi. "Berdoa saja, supaya Ayahmu membawa Ibumu. Jika tidak, ini hari terakhirmu melihat dunia," ucap Charles yang berjalan di depannya.  Sungguh, Dave diperlakukan seperti binatang. Setelah disiksa, dipukul dan ditampar tanpa ia tahu penyebabnya, Charles mengikat lehernya dengan tali tambang dan menariknya kemanapun pria itu mau. Rasanya, Dave memilih untuk mati saja. Ia tidak kuat, rasa sakit ini melebihi apapun. "Diam di sini, kita tunggu Ayahmu datang," Charles menyuruh Dave duduk. Samar-samar, Dave dapat melihat posisi mereka saat ini sangat jauh dari perkotaan. Yang ada hanya hutan dan hutan, saat ini saja mereka sedang berada di dalam hutan, namun di depan ada sebuah jalan raya. Jika Dave berhasil berlari ke sana, ia dapat kabur dan meminta pertolongan pada orang-orang yang berlalu lalang di sana. Sayang, ikatan di lehernya terlalu kuat. Dan jika ia berlari dengan kondisi seperti ini, yang ada ia akan mati karena jeratan di lehernya. "Kembalikan anakku,"  Dave menengok dan matanya menangkap sosok laki-laki yang baru ia kenal beberapa minggu. Sungguh, benarkah pria itu adalah Ayahnya? Jika iya, Dave akan sangat bersyukur. Karena, di awal perkenalan saja ia sudah merasa nyaman dengan pria itu dan sempat berharap bahwa Ayahnya bisa bersikap seperti itu. "Di mana, Ree Alison?" tanya Charles. "Dia Aretha Maharani, istriku. Bukan Ree Alison," balas Farrel dingin. "Aku di sini, Charles," Ree berjalan mendekati Farrel, "serahkan Dave, dan aku akan ikut denganmu." "Kemarilah, sayang. Nanti aku akan menyerahkan anak ini," Charles melambaikan tangannya. Ree menatap Dave yang juga sedang menatapnya, dan air mata Ree hampir saja tumpah melihat kondisi putranya. Luka lebam, dan bahkan ada ikatan di lehernya. Dave diperlakukan seperti binatang. Ree segera berlari menuju Dave, ia memeluk bocah itu. Tangisnya pecah, begitu juga Dave yang berada di pelukannya, Ree segera melepaskan ikatan di leher Dave. Kemudian, ia mengelus pipi gembul Dave. "Kau merasakan sakit, sayang?" tanya Ree. Dave menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku senang bertemu dengan Ibu." "Dave," ucap Ree seraya berbisik, "apa kau kuat untuk berlari?" "Aku kuat," "Baiklah. Ibu akan menghitung satu sampai tiga, kemudian Ibu akan menarikmu dan kita harus berlari sekencang-kencangnya ke jalan raya di sana," ucap Ree seraya berbisik, "kau mengerti?" Dave menganggukkan kepalanya. "Satu," "Dua," "Tiga!" Ree menarik Dave berlari ke arah jalan raya. Charles yang tersadar segera menyusul, namun ia tersentak ke belakang karena Farrel segera menarik tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Farrel menindih tubuh Charles dan memberinya tinjuan bertubi-tubi. Bugh! "Itu untuk kau yang sudah menyiksa mereka," Farrel terus melayangkan tinju pada Charles. Charles tidak mempu melawan, karena ia memang sudah kalah telak. Farrel terus memukulinya membabi buta, sampai Samudra datang bersama beberapa polisi untuk memisahkan.  "Farrel, cukup!" Samudra berusaha keras untuk menarik Farrel, namun gagal karena pria itu lebih kuat. "Aku tidak akan membiarkannya hidup!"  "Farrel, berhenti!"  Terikan demi teriakan Samudra tidak Farrel hiraukan. Samudra mengacak rambutnya frustasi sekaligus bingung, Farrel tidak bisa dihentikan. Dan satu-satunya yang bisa menghentikan Farrel hanyalah Retha. Mata Samudra menjelajah sekeliling mencari keberadaan Retha, dan matanya menangkap Retha dan Dave yang sedang berusaha menyebrang di jalan yang keadannya begitu padat. Baru saja Samudra hendak berteriak memanggil Retha, namun bibirnya ternganga lebar karena pemandangan yang baru saja ia saksikan. Samudra segera menarik tubuh Farrel yang masih menyiksa Charles walaupun polisi sudah menyuruhnya untuk berhenti. "Farrel, Retha tertabrak!" Bertepatan dengan itu, tinjuan Farrel untuk Charles terhenti. To be continued Btw, kalo komen jangan next next mulu, dong. :( Kalian team,  #sadending #happyending Eh, sad ending bagus ga :)?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN