14

1017 Kata
But you never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby I'm right here Farrel berjalan tergesa-gesa menuju ruangan tempat Dave di rawat. Feelingnya mengatakan ada yang tidak beres saat ia bertengkar dengan Charles tadi. Padahal, jika ini bukan menyangkut tentang Dave, Farrel tidak ingin meninggalkan istri yang baru saja ia temukan. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, dan banyak yang ingin ia lakukan. "Di mana anak kecil yang tadi berada di sini?" tanya Farrel heran, karena brankar yang tadinya berisikan Dave di atasnya, kini telah rapi dan tidak ada siapapun di sana.  "Dia sudah dipindahkan ke ruangan lain," jawab suster yang berada di ruangan itu. "Ruangan mana?"  "Ke kamar pasien, nomor 404." *** "Benarkah dia seperti itu?" tanya Ree diiringi tawanya. Saat ini Valerie sedang menceritakan kisah mereka saat sedang remaja dulu. Walaupun merasa sedikit asing, Ree mendengarkan cerita Valerie dengan baik. Terutama cerita perkenalannya dengan Farrel yang ternyata berbeda. Hell, bisa-bisanya ia menjadi wanita pertama yang berani tidur di 'kerajaan' Farrel saat itu? "Ya, dan kau belum tau hal gila lain yang dulu dia lakukan," Valerie terkekeh, "ku akui, kisah kalian berdua memang yang paling ... Ah, susah dijabarkan dengan kata-kata." Ree terkekeh geli, "Lalu, apa lagi hal aneh yang dia lakukan?" "Apaya?" Valerie berpikir sejenak, kemudian ia menjentikkan jarinya. "Ah, aku ingat! Saat kau diskors, kita pergi liburan di Bali. Di sana kau dan dia semakin dekat, bahkan dia membelikanmu sepuluh botol parfum yang kau suka. Dia tidak waras, iyakan?" "Sepuluh?" tanya Ree, "parfum kesukaanku-" "Victoria Secret," potong Valerie cepat. "Kau benar," Ree terkekeh. "Banyak sekali sebenarnya hal romantis tentang kalian berdua, aku tidak bisa mengingat semuanya karena kau juga tidak menceritakan semuanya, dulu. Dan sekarang kalian sama-sama lupa, huh."  "Maka dari itu kau harus membantuku mengingatnya 'kan?"  "Tentu, aku akan membantumu mengingat semuanya." Valerie mengedipkan sebelah matanya. Farrel tiba-tiba datang, dengan nafas yang terhengal-hengal. Ia menatap Ree dengan tatapan kacau, pria itu berjalan menghampiri Ree yang menatapnya heran.  "Kau kenapa?" tanya Ree.  Tidak menjawab, Farrel malah memeluk Ree erat. Pria itu bahkan membuat Ree sama sekali tidak bisa bergerak, hingga akhirnya Ree menyuruh Farrel untuk melepaskannya karena nafasnya mulai sesak. "Farrel, ada apa?" tanya Ree sekali lagi. "Maaf, maaf, maaf," Farrel masih memeluk Ree erat dan enggan melepaskan. "Maaf untuk apa?" Ree semakin penasaran, "memangnya kau melakukan apa?"  "Maafkan aku, maaf ... " lirih Farrel. Pria itu masih bertahan memeluk Ree tanpa ingin bergerak sedikitpun. "Farrel, kau membuatnya tidak bisa bernafas!" pekik Valerie. Tersadar, Farrel segera melepaskan pelukannya. Dapat ia lihat Ree yang langsung menarik nafas dalam-dalam, ternyata wanita itu memang tidak bisa bernafas. Namun, hal itu tidak membuat Farrel menjauh. Ia berlutut dan memegangi tangan Ree, kemudian menundukkan kepalanya. "Kau kenapa, sih?" Ree mulai kesal. "Dave  ... " Raut wajah Ree seketika berubah serius, wanita itu segera mengubah posisinya menjadi duduk kemudian menatap Farrel serius.  "Dave mana?" "Dia hilang, dia dibawa Charles," "Apa?!" Ree segera turun dari kasurnya, ia mencengkram kuat bahu Farrel yang masih berlutut di hadapannya. "Apa maksudmu dia hilang?!" "Tadi aku sudah pergi ke kamar pertama tempat ia dirawat sebelumnya, suster bilang dia dipindahkan ke ruangan lain, aku sudah mencari ke seluruh ruangan di sini, ia tidak ada. Aku sudah mengecek ke cctv, ada rekaman yang membuktikan bahwa Charles membawanya pergi. Kau tenang saja, aku akan segera menemukannya." Tubuh Ree lemas bagaikan tidak bertulang, wanita itu menangis histeris. Lagi dan lagi ia merasakan kesakitan yang luar biasa, bukan hanya fisik, namun juga batinnya. Siapa yang tidak setres, jika mengetahui anaknya berada di tangan orang yang tidak memiliki hati seperti Charles? Membiarkan Dave bersama Charles sama saja ia memasukkan Dave ke lubang buaya. Farrel menundukkan kepalanya, ia merasa gagal sebagai seorang 'suami'. Walaupun ia baru bertemu dengan istrinya, beberapa jam yang lalu. Tetap saja, rasanya ia telah gagal untuk melindungi Ree dan Dave. Walaupun Farrel belum tahu pasti, Dave itu sebenarnya anak siapa. Kalau ternyata Dave adalah anak Charles, maka Farrel akan berusaha menerimanya. Dan jika ternyata Dave adalah anaknya, Farrel bersumpah tidak akan membiarkan Charles hidup dengan tenang jika melukai anak itu. Dengan pasrah, Farrel kembali memeluk Ree erat dan membiarkan wanita itu menangis di pelukannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, Farrel sama sekali tidak berpengalaman dalam menenangkan wanita jika dalam keadaan seperti ini. Yang bisa ia lakukan hanya memeluk erat Ree, lalu mengelus puncak kepala wanita itu untuk sedikit mengurangi bebannya. "Apa yang kau lakukan, Bodoh!" Valerie langsung menarik tubuh Farrel, "cari anakmu, bukan hanya diam dan ikut bersedih di sini!" "Apa?" "Dave itu anakmu, Farrel Manggala Wdyatmaja!" ucap Valerie gemas, "cepat kau cari dia sebelum sesuatu terjadi padanya yang akan membuatmu menyesal, untuk selamanya." "Dave anakku?" ulang Farrel menatap Ree dan Valerie bergantian. "Ingin rasanya aku menceburkan kau ke laut Antartika, mengapa kau menjadi sangat bodoh saat ini?!" geram Valerie. Sempat terdiam beberapa detik, Farrel lalu tersadar, ia merogoh ponselnya yang ada di saku mantel tebalnya. Kemudian mendial nomor seseorang, dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.  "Selamata malam, sir," ucap Farrel membuka percakapan. "Ya, ada yang bisa kami bantu?" "Aku ingin kau mempersiapkan seluruh personilmu untuk membantuku mencari anakku, malam ini." "Sir, untuk mencari seorang anak, tidak perlu mengerahkan seluruh personil kami." "Apa aku harus menyebutkan namaku dulu agar kau melakukannya?" tanya Farrel dengan suara menantang. "Silahkan, Sir." "Farrel Manggala Wdyatmaja," Hening sejenak, sampai orang di balik telepon itu berbicara lagi. "Ba-baiklah Tuan, kami akan menerahkan segala personil kami untuk mencari anak anda, kami membutuhkan setidaknya sebuah foto yang jelas dari anak tersebut," "Nanti aku akan mengirimkannya," balas Farrel dengan suara datar, "ah, iya. Tolong, orang yang menculik anakku bernama Charles, Charles Alexandro, dia tidak boleh sampai lolos." "Apa? Charles Alexandro?"  "Ya, adaapa? Kau tidak berani menangkapnnya?" tanya Farrel. "Bukan seperti itu, Pak. Tapi-" "Sudahlah, aku paham. Kalian fokus saja mencari anakku, dan Charles adalah urusanku. Dan jika aku yang menemukannya, aku tidak jamin pria itu masih bisa selamat." "Baiklah, Sir. Kami mengerti, kami akan mencoba untuk mencari anakmu." "Itu harus, karena jika tidak, kau tahu sendiri kau sedang bermain-main dengan siapa." To be continued Ramekan kolom komentar, bisa?  Mau double update harus rame dulu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN