13

1016 Kata
"Hurt me with the truth, but don't make me comfort with a lie." . . . Ree mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sakit, begitu pula dengan tubuhnya. Mata Ree perlahan menjelajah seisi ruangan yang begitu asing dirasanya, dan pandangannya jatuh pada seorang wanita yang kini tengah fokus pada ponselnya. Ree mengernyitkan dahi, walaupun penglihatannya agak kabur, namun ia jamin bahwa ia sama sekali tidak mengenali wanita itu. Merasa diperhatikan, Valerie mendongakkan kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Ree, Valerie tersenyum girang saat melihat Ree yang sudah sadar. Ia langsung berdiri dan memencet bel agar dokter segera datang dan memeriksa keadaan Ree. "Syukurlah kau sudah bangun," ucap Valerie. "Si-siapa kau?" tanya Ree bingung. "Kau tidak mengingatku? Aku Valerie Agatha, sepupumu. Kau lupa?" jawab Valerie, namun sedetik kemudian, ia menjentikkan jarinya ke udara, "Ah, iya. Kau terkena amnesia juga?" Ree menaikkan sebelah alisnya, "Aku tidak mengerti apa maksudmu. Kau salah orang, aku Ree Alison." "Tidak, kau yang salah mengenali dirimu. Kau itu adalah Aretha Maharani, istri Farrel Manggala Wdyatmaja. Kau sahabat sekaligus sepupuku, kau hilang lima tahun yang lalu karena pesawat yang kau dan Farrel tumpangi jatuh."  "Kau dan dia mengatakan hal yang sama ... " gumam Ree, "kenapa kalian sangat yakin bahwa orang yang kalian cari itu adalah aku? Bisa saja wajah kami hanya mirip." "Tunggu sebentar, aku memiliki bukti," Valerie membuka ponselnya, kemudian menyodorkannya pada Ree, "ini adalah foto kita berdua yang diambil tepat seminggu sebelum kau dan Farrel dinyatakan hilang." Ree menatap layar ponsel itu, wajahnya sama persis dengan wanita yang sedang tersenyum manis di sana. Ia sempat merasa bahwa itu dirinya, namun ia kembali ke realita. Ini tidak mungkin. "Itu hanya sebuah foto, bisa saja hanya mirip," sanggah Ree. Valerie berdecak, "Aku mengenalmu sudah sejak kita masih sama-sama di kandungan. Aku tau apa yang kau suka dan tidak, aku tau semua kebiasaanmu. Bahkan aku tau, bahwa di perutmu ada sebuah tanda lahir berwarna hitam dengan bentuk yang aneh, mirip seperti pulau. Kalau aku salah orang, coba kau lihat di perutmu." Ree menghela nafasnya, memang benar ia memiliki tanda yang Valerie katakan. Tapi, apakah semua ini benar?  "Aku tidak bisa mengingat apapun, Valerie ... " Valerie tersenyum dan menyentuh lengan Ree, "Ada aku, semuanya akan baik-baik saja. Aku dan Sam akan membantu kalian berdua untuk mengingat semuanya." "Kalian?"  "Ya, kau dan Farrel. Aku heran, kenapa kalian berdua sama-sama menderita amnesia," Valerie menggelengkan kepalanya. "Ternyata dia tidak berbohong," gumam Ree pelan. "Re," panggil Valerie yang membuat Ree langsung menoleh, "apa kau memang menggunakan bahasa Indonesia di sini?" "Bahasa Indonesia?" tanya Ree. "Kau tidak sadar? Daritadi kita menggunakan bahasa itu,"  "Aku bahkan baru tau kalau aku bisa berbahasa Indonesia," ucap Ree yang membuat Valerie melongo. "Astaga," Valerie menggeleng-gelengkan kepalanya, "separah itu kah?" "Ku rasa," jawab Ree, "aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri. Jika tidak ada Dave, mungkin aku lebih memilih mati saja." "Tunggu, siapa Dave?" "Anakku ... " "Ya Tuhan! Dia sudah lahir? Astaga Re, aku kira dia tidak selamat! Ternyata selama ini aku sudah menjadi seorang Tante, dan Farrel adalah seorang Ayah-" "Dia bukan anak Farrel," potong Ree. "Apa?!" Valerie melotot, "anak siapa dia?!" "Dia anak Charles ... " "Ya Tuhan, kau sudah menikah lagi?! Sebenarnya apa yang terjadi di sini?! Ceritakan padaku semuanya, dari awal saat kau membuka mata!" "Aku juga bingung, Valerie-" "Vale saja,"  "Baiklah, Vale. Aku bingung. Saat aku terbangung, aku berada di sebuah rumah mewah dengan banyak sekali alat yang terpasang di tubuhku. Dan yang paling membuatku terkejut, adalah kenyataan bahwa waktu itu aku sedang hamil sekitar tujuh bulan. Aku tidak bisa mengingat apapun, dan saat itu Charles masuk.  Ia mengatakan bahwa ia adalah suamiku waktu itu, dan aku percaya. Dia mengatakan padaku bahwa aku kecelakaan, dan koma. Aku juga mempercayai hal itu. Dua tahun berlalu, sifat asli Charles keluar. Dia bukan pria baik, dia kasar dan selalu mengajakku bertengkar. Dia bahkan memukulku jika aku tidak menurut padanya.  Sampai, dia berteriak padaku, dan mengatakan bahwa sebenarnya kami tidak menikah. Dia bukan suamiku, tapi dia juga tidak mau menjelaskan kebenarannya.  Aku memutuskan untuk keluar dari rumah Charles dan memilih untuk tinggal di apartemen yang pernah ia berikan, ia tidak mengejarku, tapi ia tidak membiarkan aku pergi. Kemanapun aku pergi, dia selalu berhasil menemukan aku. Ancaman terakhirnya, jika aku pergi lagi maka Dave akan ia bunuh. Hingga aku pasrah, dan memilih bertahan agar Dave tetap selamat." "Astaga, biadab!" geram Valerie, "jika Farrel mendengar semua ini, aku pastikan Charles tidak akan selamat." "Tidak ada yang bisa mengganggu Charles, dia orang berkuasa di sini."  Valerie terkekeh, "Well, sepertinya kau belum tahu siapa itu Farrel Manggala Wdyatmaja." "Sepertinya kau lupa bahwa aku lupa ingatan ... " "Astaga, aku lupa," Valerie menepuk jidatnya lalu tertawa lagi, "dan kau yakin bahwa Dave adalah anak si Charles Charles itu?" "Aku ragu, aku bingung." "Ayolah, Re. Pria itu sudah menipumu berkali-kali, dan kau masih mempercayainya?" "Lalu, jika bukan anak Charles, Dave anak siapa?" tanya Ree. "Tentu saja anak Farrel, bodoh. Aku berani menjaminnya." "Kenapa kau sangat yakin, Vale?" heran Ree, "aku yang menjalani hidup bersama mereka selama ini." "Ya, itu karena kau sendiri yang memberitahukannya padaku." "Maksudmu?" "Malam itu, saat foto ini diambil, kita sedang berkumpul di rumahmu. Saat itu aku ingat dengan jelas, kau tidak berhenti tersenyum ... " "Kau kenapa sih?" Valerie menatap heran ke arah Retha yang terus tersenyum, padahal saat ini mereka sedang memasak. "Aku sedang senang," sahut Retha seraya terkekeh. "Senang pasti ada alasannya, Re. Apa yang membuatmu senang? Farrel belikan kau perhiasan baru?" "Bukan," Retha menggelengkan kepalanya, "ini lebih berharga dari sekedar perhiasan." "Terus, apa?" tanya Valerie penasaran. "Mau tau?" Retha balas bertanya. "Mau, apa?"  "Rahasia," Retha menjulurkan lidahnya. "Re, lo tau nggak kalau pisau itu tajam?" "Galak ih, Vale," Retha tertawa, "nih, ya. Aku kasih tau, tapi rahasia." "Apa?" tanya Valerie tidak sabar. "Aku hamil!"  "Hah?!" Valerie melotot. "Farrel sudah tau?" Retha menggeleng, "Nanti aku kasih tau dia, waktu di London." To be continued Farrelnya disimpen dulu, ya. Kita selesein masalahnya satu persatu, tadinya mau pake konflik boom petir halilintar badai, tapi aku lagi nggak bisa mikir bekos lagi fokus ujian.  jadi kalian selamat dari konflol boom boom wow More contact info : Instagram : @cantikazhr
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN