8

875 Kata
"Izinkan aku nikah sama Mas Arya," ucapnya meluncur begitu saja. Mendengar itu rasa-rasanya cangkir kopi yang kugenggam akan pecah karena kerasnya tekanan tangan menahan emosi. Ya Allah, ya Rabbi bisa-bisanya wanita yang kemarin bertengkar denganku datang ke rumah, duduk di kursi taman belakang dan meminta suamiku. "Apa?" tanyaku pelan, setengah tak percaya. "Aku sudah bicarakan ini dengan Ibu mertuamu, dan dia bersedia mengizinkan Mas Arya poligami," jawabnya. " ... tinggal keputusan dari kamu aja." "Aku gak percaya Ibu mertua melakukan itu," jawabku tertawa getir. "Aku berani mengajakmu untuk membuktikan kata calon mertuaku, kau yang akan malu mendengar ungkapan setujunya nanti. Ayo pergi jika kau ingin menambah luka hati," jawabnya pelan namun menusuk jantung. "Haruskah kamu menambah garam di atas luka yang ada?" Sisi lemahku muncul begitu saja. "Kenyataan harus kau hadapi, sedang aku juga tak mau rugi. Mas Arya sudah menganggapku sebagai istri dan ibunya setuju aku jadi pendampingnya, tinggal keputusan dari kamu." "Kamu santai sekali menyatakan itu di depan temanmu, teman yang sudah ada di saat kamu susah dan berduka." "Hei, Ariska ... Mas Arya itu gebetan aku sebelum jadi suami kamu. Kamu gak sadar kalo kamulah yang nikung sahabat sendiri?!" ujarnya dengan tatapan dingin, sedingin bekuan es yang meruncing lalu membunuhku. "Lalu kenapa kamu gak ngomong dari awal kalo kamu suka mas Arya, jadi aku akan mundur," tanyaku sambil menahan butiran yang mengaburkan mata. "Aku tak ingin merusak momen bahagia kamu, namun, ketika kupikir lebih lanjut ... ternyata aku udah banyak berkorban selama berteman denganmu, jadi sekarang, berkorbanlah untukku!" Ia berdiri dan membentakku, di rumah sendiri. "Jangan keterlaluan sebelum kusiramkan kopi ini ke wajahmu!" teriakku marah. "Ingat, siapa yang ngerjain tugas kuliahmu, siapa yang carikan kerjaan, siapa yang rela piket di jam libur demi menggantikan kamu yang berkencan dengan pria yang Kusuka?! Aku sudah mengorbankan semua itu dari sejak dulu, Ariska!" "Astaghfirullah ...." Aku hanya bisa menekan d**a sambil berurai air mata. Tanpa kusangka mertua dan suami tiba tiba datang dan bergabung di meja dengan kami. Ibu mertua yang tegas langsung memberi isyarat agar kami berdua duduk kembali. "Duduk, Ibu mau bicara!" perintahnya. Saat ini aku tak percaya apa yang terjadi, mereka bertiga dan aku adalah pecundang yang harus mengalah bahkan sebelum semua ini dimulai. "Ada apa Bu?" tanyaku bergetar. "Kamu sudah tahu semuanya kan?" "Iya," jawabku pelan. "Bella dan Arya harus ibu nikahkan, bagaimana menurutmu?" "Apa salahku, apa ini adil untukku, Bu? Apa salahku yang telah bertahun tahun mendampingi Mas Arya. "Tidak ada salahmu, masalahnya sekarang ... ibu butuh seseorang yang bisa memberi kepastian akann garis keturunan keluarga Kami," jawabnya tegas. "Jadi, ibu membuatku membagi suami hanya karena aku belum kunjung mengandung bayi?" "Aku akan mencegah Arya jika kau bisa memberi kepastian kapan kau akan hamil." Wanita cantik beranting mutiara dengan tatanan rambut yang elegan itu menatapku sambil tersenyum sinis. Kualihkan pandangan pada Bella yang melipat tangan di d**a, ia tersenyum penuh kemenangan sedang suamiku hanya menunduk terdiam. "Tapi bukankah ... anak adalah hak mutlak Sang Pencipta, kita hanya bisa berusaha." "Berusaha tapi tak ada hasilnya! Untuk apa?!" Ibu mertua menggebrak meja dan tanpa terasa air mata ini berlinang begitu saja. Aku beralih pada suamiku yang masih bergeming tanpa berani mengangkat wajahnya, kebungkamannya semakin membuatku tersudut dan mudah sekali dikalahkan. Andai dia bisa sedikit membela atau memberi bantuan, tentu aku tak akan tersudut di titik paling rendah sebuah perdebatan. "Mas Arya ... Inikah cara kamu mengakhiri hubungan kita? Mengapa begitu kejam, Mas?" Aku bangkit dan meninggalkan mereka semua, naik ke kamar dan meluapkan emosi dan kesedihan. Rasanya, semakin dipikir semakin berat melepas suami yang tercinta, rumah impian yang kami bangun dari perjuangan, dindingnya adalah wujud dari janji setia yang kita bangun bersama, semua kenangan, kehangatan dan cinta terpaksa akan berpindah tangan. "Ariska ...." Mas Arya menyusulku ke kamar. Aku benci menatapnya, benci sampai ke titik akhir. Aku kecewa dan tidak menyangka bahwa pengorbananku selama ini hanya sia-sia. Dan ujungnya balasan dari kesetiaan seorang istri hanya rasa sakit yang tidak terkira. "Apa lagi?" tanyaku yang malas menatap wajah itu. "Semuanya tidak akan berubah, semuanya akan tetap sama, hubungan, dan bagaimana sikapku padamu," bisiknya mendekat. "Beraninya kau menjanjikan itu setelah menyakitiku, kau tak tahu malu?" "Aku harus menikahi Bella, karena akhir akhir ini dia terlihat sakit karena perbuatanku," imbuhnya. "Sakit apa? Sakit cinta, sakit karena nikamt surgawi yang kalian lakukan. Ataukah ... Maksud dari sakit itu adalah dia sedang hamil?" "Aku belum memastikannya," desahnya pelan. "Tolong ... lakukan sesuatu untukku," ujarku sambil mendekat dan mencengkeram kerah bajunya. Air mataku berlinang terus tak tertahan sedang pria itu hanya bisa terdiam. "Tolong putar kembali waktu, kembalilah ke masa kau tak bertemu Bella, kembalilah ke masa di mana hanya aku di hatimu dan hanya rumah ini tujuan pulangmu," pintaku terisak. "Mana mungkin Ariska ..." "Aku tidak bisa membagi suamiku, aku tak bisa membagi pelukan bahkan tatapan cintamu pada wanita selain aku. Jangankan y untuk melihat adegan itu, membayangkan saja aku bisa gila, Mas! teganya kamu ...." Aku meraung, memukul, dan berakhir dipeluk olehnya sambil meluapkan sesak di d**a. "Maafkan aku, kau tetap istriku yang mulia dan utama," bisiknya. "Tidak aku tak butuh dimuliakan, aku hanya ingin tidak membagi kursi pada lain orang, tidak mau, tidak bisa, Mas." Ya Allah, mungkin hari terburuk yang paling menyesakkan dalam dalam hidupku adalah hari ini, hari yang tidak pernah kuduga kedatangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN