Aku sudah sangat lelah menangis hingga jatuh tak sadarkan diri di pelukan suami. Keesokan hari kubuka mata dengan lemah, berharap bahwa kejadian kemarin hanya mimpi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Membayangkan aku akan membagi suami dengan Bella membuatku ingin menghentikan waktu sampai di sini saja, aku ingin diam di titik ini dan tidak ingin melangkahkan kaki maju ke depan dan tersakiti.
“Kamu udah bangun , Sayang?” Tanya Mas Arya yang datang dan berlutut di depanku, menatap matanya yang selalu mengisyaratkan cinta dan melelehkan hati, air mata ini kembali tumpah begitu saja.
“Aku berharap tidak akan pernah bangun lagi dari tempat ini, Mas, aku terlalu pengecut untuk menerima kenyataan pahit.”
“Aku tahu, ini kesalahan terbesarku yang terlalu terjebak hawa napsu, aku lupa mencemaskan perasaanmu, hingga aku terseret jauh.”
Ia mendesah sambil mengusap wajahnya, lantas menggenggam tanganku dengan penuh cinta.
“Semalam Bella menginap di sini untuk merawatmu, ia baru pulang pagi tadi dengan taksi online.”
Apa? Membayangkan apa yang terjadi tadi malam membuatku gusar, mungkin selama aku tak sadarkan diri, mereka telah …. Ya Tuhan, aku makin gila. Lagi pula tak sudi rasanya jika wanita munafik itu yang telah mengambil kesempatan dalam sakitku untuk mencari muka, dan membuat dirinya makin dekat pada Mas Arya.
Menjijikkan!
“Harusnya kau tak perlu izinkan dia menyentuhku, kau tahu setelah begitu sayangnya aku pada sahabatku, sikapnya sudah menghempas kasar perasaanku, bagaimana mungkin seorang teman tega menusuk temannya sendiri? Aku tak mau membicarakan Bella lagi, Mas,” jawabku pelan.
“Tapi kamu bersedia kan’ maafin aku?” tanyanya dengan raut penuh harap.
“Gak tahu, aku harus memikirkan itu lebih jauh, izinkan aku mengambil waktu sendiri, menjauhlah dariku,” usirku sambil mendorongnya.
“Berarti, kau masih marah, Ariska?”
“Tentu saja Mas, mari bertukar posisi agar kau tahu rasasnya disakiti,” jawabku sambil menutup pintu kamar ini.
“Tolong jangan buat aku merasa tidak enak hati, aku sungguh minta maaf,” ucapnya dari balik pintu.
“Ada caranya untuk kita bersama lagi dengan bahagia, minta pada ibumu untuk membatalkan rencana perjodohanmu, bagaimaana pun aku tidak ridho membagi suamiku pada wanita baru.”
“Kamu tahu sendiri kan’ bahwa ibu menginginkan cucu, ibu setuju menikah karena bella meyakinkannya bahwa kalian akan akur bersama karena sudah bersahabat,” imbuhnya pelan.
Apa, karena kami bersahabat jadi boleh satu rumah dan cinta? Kekonyolan dari mana ini.
Ditahan-tahan hatiku panas juga mendengarnya, alangkah mudahnya mereka mengatakan bahwa aku dan si pengkhianat itu akan saling menyayangi dalam satu atap, dalam posisi membagi ranjang dan suami, ya ampun ….
Kubuka pintu dengan kasar lalu mendelik pada pria yang sedang menatap dengan tatapan memelas padaku,
“Mentang-mentang karena aku belum kunjung hamil teganya kalian bersikap kejam dan dzalim padaku, aku bersumpah bahwa jika setelah ini tidak ada keadilan untukku maka kalian semua akan celaka …!” aku langsung menangis begitu saja.
“Astagfirullah ... jangan berkata begitu, Ariska, aku tidak ingin mendapat kutukan istri yang solehah sepertimu,” ungkapnya dengan raut wajah yang cemas.
“Solehah percuma saja, jika ujung-ujungnya aku tetap harus membagi perasaanku, menyesakkan sekali! Bahkan aku tak bisa berpikir panjang tiap kali mengingat semua yang menimpaku. Aku ingin bertanya dan protes pada Tuhan tiap kali mengingat bahwa pengorbanan dan baktiku tak sebanding dengan beratnya ujian ini," keluhku menyeka air mata.
"Sekarang terserah kau saja, yang pasti ... aku tidak ridho dan tidak akan pernah ikhlas kau menikah lagi.” aku bangkit lalu kembali masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Entah kenapa, tubuhku lemas, gairah hidupku seolah diambil begitu saja, begitu pun selera makan yang juga hilang. Perasaanku hancur, hatiku meronta, haus dan meranggas. Ingin berteriak tapi pada siapa.
**
Pukul delapan lebih dua puluh, suamiku berangkat ke kantornya. Dia mengetuk kamar dan memberi tahu bahwa akan berangkat kerja. Namun, aku tak menjawab sedikitpun ungkapannya dari luar sana.
"Sayang, aku berangkat dulu, jaga diri dan diamlah di rumah."
Hmm, selama ini aku sudah berbakti seperti yang dia minta, tapi apa yang terjadi padaku setelah itu?
Paling-paling selepas jam kantor Mas Arya akan kembali menemui gundiknya, calon wanita yang sudah menyerahkan diri untuk dijamah suami orang lalu dengan liciknya meminta dikawinkan.
Astaghfirullah.
*
[Apa kau sudah menentukan keputusanmu? ]
Sebuah pesan masuk, pesan dari nomor yang pernah kucurigai selama ini. Ternyata itu nomor Bella dan dia dengan terang-terangan menunjukkan bahwa nomor itu adalah miliknya sekarang.
Aku muak harus menjawab pesan tersebut sehingga tanpa banyak berpikir nomornya ku-blok, dan aku tak perlu mendapatkan gangguan lagi dari wanita itu.
Ternyata ... Dugaanku salah, karena mungkin aku tak menanggapi pesannya sehingga dia nekat untuk datang dan bertanya sendiri ke rumahku. Yang lebih mengesalkan lagi, ia masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu dan langsung menerobos begitu saja seolah olah dia adalah pemilik rumah.
"Apa yang kau lakukan?"
"Masuk ke dalam rumah yang akan kutinggali dengan Mas arya," jawabnya percaya diri, sedikit sombong karena Ibu mertua membelanya.
"Heh, percaya diri sekali," gumamku sinis.
"Harusnya, mulailah berkemas-kemas dan pergi, kecuali kau akan bertahan dalam lingakran poligami," desisnya mendelik. Hatiku makin berapi mendengarnya.
"Memangnya kau tak punya rumah sehingga harus bergabung denganku?" tanyaku sinis.
"Rumah ini adalah rumah Mas Arya, dia membangunnya dengan keahlian dan hasil usahanya. Sebagai wanita yang akan menjadi istrinya, aku berhak dong buat bergabung. Lagipula aku tak akan tahan Mas Arya selalu terpisah denganku," bisiknya sambil tertawa.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di wajahnya, aku sudah tak mampu menahan amarah karena kepongahannya sehingga, tanpa bicara lagi, kucabut sandal di kaki dan mendaratkan ke wajahnya berkali kali.
Ia yang langsung sigap melawan langsung bangkit dan menjambak rambutku.
Di saat bersamaan ibu mertua datang dan langsung berteriak memanggil nama kami. Dan di momen itulah si pencari muka memanfaatkan kesempatan untuk berpura-pura pingsan.
Bruk! Dia tersungkur.
"Bella, ya ampun, apa yang terjadi, Nak ...." Ibu mertua segera menolong Bella di depanku.
Sedang aku ... "Ah, muak!"