Cuti atau pun liburan panjang bukan suatu hal yang akrab bagi Jeffrey. Sebagai prajurit yang sejak kecil sudah mengabdi di Squirrel, ini adalah pertama kalinya ia menganggur. Pemimpin Baru Squirrel telah sengaja memperlakukannya seperti ini. Argon pasti sangat senang melihatnya menderita karena tidak dapat melakukan apa pun.
"Bahkan aku perlu persetujuan Argon untuk masuk ke Area Latihan?" Jeffrey mendengus kesal ketika Belle, Si Penanggung Jawab, memberikan keterangan.
Ia sangat tidak menyukai Belle. Belle bertindak terlalu jauh sebagai Penanggung Jawab sialan itu. Bagaikan... pengasuh saja.
"Kapten Argon tidak ingin kau terluka," Belle dengan sabar menjelaskan kembali. "Kau sedang dalam tahap pemilihan diri."
Bahkan Belle tidak lagi memanggil Bapak atau sebutan yang lebih sopan kepada Jeffrey. Fakta jika Jeffrey lahir lebih dulu dari Belle dipatahkan dengan takdir Jeffrey yang terbangun dalam kondisi sama dengan sepuluh tahun lalu, yaitu seorang pemuda berusia delapan belas tahun.
"Aku akan ke sana," kata Jeffrey.
"Tapi, Jeffrey..." Belle mati-matian menghalangi Jeffrey yang terus berjalan di lorong, menuju ruang latihan. Pintu ruang latihan sudah tidak begitu jauh darinya.
Kemudian terdengar suara bel di lorong. Pintu ruang latihan membuka seiring bunyi bel. Berikutnya Pemuda-pemudi berseragam latihan keluar dari pintu itu. Mereka semua mendadak terdiam ketika melihat keberadaan Jeffrey.
Jeffrey bisa merasakan sorot penilaian yang tidak mengenakkan dari para pemuda dan pemudi itu.
---
DOR!
Belle tersentak-sentak kesal tiap kali Jeffrey melepaskan tembakan.
"Ayolah, Jeff..." Pinta Belle. "Kapten Argon bisa marah jika tahu kau masuk ke ruang latihan..."
Jeffrey mengabaikannya saja. Ia lebih memikirkan kekesalannya karena sasaran tembaknya beberapa kali meleset. Dulu dia tidak pernah sepayah ini. Apakah ini adalah efek dari tidur selama sepuluh tahun?
Bahu dan tangannya terasa kaku dan lemah. Jika Belle ingin dia melakukan pemilihan diri, seharusnya dia dibiarkan berlatih, bukannya tidur-tiduran saja. Bukan prajurit namanya jika dia terus absen berlatih.
"Halo, Nona Bell."
Jeffrey nyaris akan menembak. Ia menolehkan wajah dan melihat seorang pemuda baru saja menyapa Belle. Ia berpaling kembali namun ia mendengar pemuda itu menyinggung dirinya.
"Apakah dia prajurit nomor satu yang dulu itu?"
Jeffrey menurunkan pistolnya. Ia berbalik menghadap si pemuda.
"Oh, eum... Bukan... Bukan..." Belle menjawab dengan gugup.
"Ya, benar." Jawab Jeffrey segera, kemudian berjalan mendekat.
Pemuda itu tampak sangat pas untuk disebut sebagai prajurit Squirrel, dengan badan kekar dan tubuh tinggi. Dan jika seorang prajurit dengan berani bertanya langsung tentang Jeffrey, itu artinya prajurit ini adalah yang terbaik.
"Siapa kau?"
Pemuda itu tersenyum, namun bukan senyum ramah yang mengenakkan untuk dilihat, melainkan senyuman berupa tantangan.
"Perkenalkan, namaku Harry."
"Dan kau adalah Prajurit Nomor satu yang sekarang?" Tanya Jeffrey.
Pemuda itu - Harry, mendengus. "Kami tidak menggunakan sebutan memalukan itu lagi." Ujarnya. "Nomor satu, menjijikan." Desisnya namun terdengar sangat jelas.
Jeffrey hanya diam memandang pemuda itu.
"Aku hanya ingin mengecek," kata Harry lagi. "Mengenai rumor aneh tentang pengkhianatan seorang prajurit Squirrel."
Jeffrey mengerutkan dahi.
"Oh, itu hanya rumor," Belle mencoba menyela.
"Prajurit nomor satu sepuluh tahun lalu telah berbohong mengenai pembasmiannya terhadap si Perusuh. Kemudian dia berkhianat, dan menjadi putri tidur yang terbangun setelah sepuluh tahun. Benar-benar kedengaran sulit dipercaya."
"b******k," dengur Jeffrey, menatap Harry dengan sorot merendahkan. "Apakah Argon yang menyebar rumor itu?"
"Oh, sudahlah..." Belle berhasil mengusir Harry, kemudian menarik Jeffrey untuk pergi dari ruang latihan.
Harry pergi sambil meninggalkan senyum mengejek yang memuakkan.
Jeffrey membanting senjata latihannya. Sudah lama ia tidak menemukan orang-orang yang meremehkannya. Sepertinya sekarang ia akan mulai dari awal lagi.
--
Jeffrey dikunci di kamarnya. Namun ia tidak mencoba keluar lagi dari kamar. Hari kemarin ia merusak pintu, pernah juga ia memecahkan jendela. Untuk hari ini ia memutuskan bermain game perang yang diberikan Belle kepadanya. Dulu benda semacam ini tidak secanggih sekarang. Ia bermain dengan menggunakan peralatan controller yang dipasang ke tubuhnya sehingga pengalaman bermainnya terasa cukup nyata.
Ia bisa merasakan seseorang masuk ke dalam kamarnya. Namun ia mengabaikan saja, ia terus saja bermain untuk menyelesaikan perang virtualnya, hingga akhirnya ia menang.
Ia melepaskan perangkat di matanya, menoleh pada Argon yang sedang berdiri mengamatinya dengan kedua tangan bersedekap.
"Aku dengar kau memaksa ke ruang latihan." Kata Argon tanpa basa-basi.
Jeffrey duduk ke ranjangnya. Ia melepas satu-satu perangkat controller yang terpasang di tubuhnya.
"Aku akan lebih senang jika kau mematuhi aturanku. Dan aku tidak ingin ada kekacauan karenamu."
"Apakah prajurit kesayanganmu adalah yang bernama Harry?"
"Hmm, kau sudah bertemu dengannya ya?"
"Apa yang dia bisa?"
Argon mengusap dagunya. "Dia bisa apa saja. Levelnya sama denganmu. Atau bisa dibilang di atasmu karena dia..." Ia tersenyum kecil. "Dia tidak menggunakan obat-obatan sihir."
Jeffrey terdiam.
"Yah, aku tidak ingin menyinggungmu karena dulu kita juga pernah dalam satu tim. Dulu kau adalah pemimpinku dan aku harus menghormatimu di kala itu. Tapi rahasia sekecil apa pun pada akhirnya akan terkuak. Tenang saja, hanya aku yang tahu mengenai kelicikanmu bersama Kapten Hunt."
Jeffrey mendengus. "Kau tidak akan bisa membeberkannya." Ujarnya sambil tersenyum sinis. "Jika masyarakat tahu organisasi pembasmi terpercaya seperti Squirrel menggunakan ramuan sihir pada prajuritnya, tentu nama baik Squirrel akan tercoreng dan kau tidak akan bisa menjadi pemimpin di sini. Yah... Kau menerima segalanya dengan bersih. Siapa yang bisa menyangka jika anak manja yang masuk timku karena ayahnya adalah salah satu pendiri organisasi pada akhirnya menjadi pemimpin Squirrel?"
Argon tersenyum menyeringai. "Wah, begitu menurutmu?" Ia tertawa kecil. "Kau bahkan tidak tahu malu setelah mantan anggota timmu tahu kelicikanmu."
Jeffrey tersenyum saja dan Argon terlihat muak. Ia mengamati kedua tangan Argon terkepal erat di samping tubuh. Ah, selalu menyenangkan membuat Argon tidak berkutik, bahkan hingga saat ini Argon tak banyak berubah.
"Kau tidak akan pernah menyentuh ramuan apa pun itu lagi," dengus Argon. "Kau hanya akan menjadi manusia biasa-biasa yang masih berusia 18 tahun. Dan jika kau ingin tetap menjadi anggota Squirrel, maka patuhi perintahku. Berhenti bertindak macam-macam." Ancamnya dengan sorot sengit.
"Oh ya?" Jeffrey tetap terlihat santai menghadapi Argon. "Dengan mengunciku di kamar, memberiku virtual game serta melarangku ke tempat latihan. Menurutmu berapa lama kau bisa mengekangku?"
Argon terlihat sedang menahan dirinya karena tampak rahangnya mengeras. "Kau tidak bisa kembali bekerja. Belum ada tempat untukmu di sini." Desisnya.
"Ah, aku perlu mengajukan lamaran pekerjaan ya?"
"Jangan kau pikir prajurit berusia 18 tahun bisa menjadi ketua tim. Sekarang aturan sudah berubah. Di usiamu dilarang untuk turun ke lapangan. Setelah usiamu 20 tahun, dengan penilaian baik, kau baru bisa turun ke lapangan. Jadi jika aku terpaksa memberikan tawaran, kai harus menjadi trainee lebih dulu."
Jeffrey menundukkan kepalanya. "Trainee?" Ulangnya tidak senang. "Aku sudah di-trainee sejak aku baru bisa berjalan. Apa kau lupa? Untuk apa aku kembali menjadi trainee?"
"Penerimaan trainee di bawah usia 17 tahun telah dihapuskan. Hal itu sudah dilarang keras di Squirrel karena melanggar HAM dan perlindungan anak pada usia di bawah 17 tahun. Kau tidak akan melihat satu pun prajurit yang masih remaja di bawah 17 tahun turun lapangan dan menembaki werewolf buas. Tidak ada sama sekali."
Jeffrey memandang Argon. "Peraturan itu kedengaran bagus sekali. Aku mendukungnya." Ujarnya. "Tapi Kapten Hunt sudah menjadikan aku seperti ini. Jika kau menyia-nyiakan aku, kau telah menyia-nyiakan usaha Kapten Hunt. Peraturan itu tidak berlaku untukku."
"Jeff," kata Argon. "Sadarlah. Kau hanyalah manusia biasa tanpa ramuan hebat yang diberikan oleh mendiang Kapten Hunt. Kau tidak tahu jika di luar sana ada lebih banyak pemuda dan pemudi yang sangat kuat dan cerdas bahkan tanpa ramuan apa pun."
Jeffrey menggigit bibirnya, menahan diri tiap kali Argon menyinggung tentang ramuan sihir. "Ah, ya... Sampai sekarang kau meragukanku ya."
"Kusarankan. Lebih baik kau berhenti untuk saat ini. Aku bisa memberikanmu identitas. Jika kau tidak ingin menjadi trainee kembali, maka tunggulah hingga usia 20 tahun. Kau hanya perlu dua tahun lagi untuk menunggu."
Jeffrey terdiam, ekspresinya terlihat syok. "Dua tahun ya..." ia mendengus.
"Ya." Argon tiba-tiba menghampiri Jeffrey yang duduk di atas ranjang, ia berlutut di depan Jeffrey, lalu menarik kedua tangan Jeffrey. Jeffrey tersentak kaget namun Argon menahan kedua tangannya. "Kau belum pernah merasakan bagaimana hidup sebagai manusia biasa-biasa, Jeff. Nah, dengan baik hati aku memberikan kesempatan ini kepadamu. Cobalah untuk merasakan kehidupan yang sudah dirampas oleh Kapten Hunt darimu."
Jeffrey merasa kesal melihat usaha Argon dalam membujuknya. Ia tidak menginginkan kehidupan yang disebut-sebut oleh Argon. Squirrel adalah hidupnya. Tidak mungkin ia melepaskannya begitu saja.
"Ada banyak petinggi yang memasang mata pada kinerja Squirrel. Aku tidak ingin organisasi kita mendapat kesulitan apalagi setelah rumor pengkhianatanmu tersebar. Tidak, Jeff. Aku sama sepertimu. Aku juga ingin mempertahankan Squirrel agar dunia kita aman dari para makhluk buas di luar sana. Tapi kita butuh menaati peraturan jika ingin organisasi ini terus berjalan."
Jeffrey terdiam untuk beberapa saat.
"Biarkan aku bekerja, Jeff. Untuk kali ini, patuhi perintahku. Walau aku tahu kau membenciku, setidaknya tujuan kita sama demi Squirrel."
Jeffrey menarik kedua tangannya dari Argon dengan kasar. Ia tampak sangat jijik. Namun ia tidak bisa melakukan apa pun lagi.
Pada kenyataannya segalanya telah berubah. Dan sudah tidak ada Kapten Hunt yang bisa mendukungnya saat ini. Sekarang ia berdiri sendiri, tidak ada Kapten Hunt yang mewakilkannya dalam berbicara. Ia harus menerima kenyataan jika saat ini ia masih berusia 18 tahun meski ia sudah dibuat tidak sadarkan diri selama sepuluh tahun.
"Demi Squirrel," gumamnya lalu menganggukkan kepala.