35

1790 Kata
Entah apakah ia terlalu berhati lemah karena takluk begitu saja pada bujukan Argon. Hari ini ia sudah berkemas dan akan mengikuti semua rencana Argon, yaitu menjadi manusia biasa-biasa. Ia mengambil pilihan itu daripada menjadi trainee selama dua tahun di Squirrel. Dia tidak akan mau kembali menjadi trainee karena hal itu bagaikan merendahkan posisinya. Namun, selama dua tahun... Jeffrey memasuki kantor Argon. Argon masih belum datang namun ia tetap ingin bertemu. Ia memandang ke sekeliling ruangan. Dulu ruangan ini adalah milik Kapten Hunt, sayangnya segala hal yang ada di dalam ruangan itu telah berbeda, bahkan langit-langitnya pun tak sama. Ada perasaan kesal dan sedih karena ia seperti kehilangan jejak kehidupan Kapten Hunt. Ruangan ini satu-satunya tempat yang menyatakan keberadaan Kapten Hunt dan segalanya telah hilang begitu saja. Selama ia hidup dan tinggal di Squirrel, orang-orang menganggap Kapten Hunt adalah orang jahat mengerikan yang penuh obsesi, salah satu kegilaan Kapten Hunt adalah ia berhasil membuat senjata pembunuh dari seorang anak manusia, bahkan ia memberikan nama belakangnya kepada anak itu. Anak itu tak lain tak bukan adalah Jeffrey sendiri. Prajurit ciptaan Kapten Hunt yang dibentuk dengan darah dan keringat. Ia berdiri dari duduknya. Sofa mahal pilihan Argon terasa tidak nyaman di bokongnya jika duduk terlalu lama. Ia berjalan mendekati meja kerja, memandang benda-benda di atas meja itu. Ia mengambil figura yang menarik perhatiannya. Jeffrey mendengus tak percaya. Ia menemukan foto Argon bersama keluarganya. Tidak, bukan foto keluarga bersama ayah dan ibu, melainkan anak dan istri. Pintu terbuka dan Argon berjalan masuk. Ia berhenti sesaat ketika menemukan Jeffrey tengah berdiri di dekat mejanya. Ia lalu berjalan cepat kemudian merebut figura dari tangan Jeffrey dengan kasar. Jeffrey hanya tersenyum kecil. "Berapa usia putrimu?" "Diamlah," kata Argon dengan nada dingin. Ia menaruh figura itu ke tempat semula dengan hati-hati. "Empat? Lima?" Tebak Jeffrey. "Aku sudah menemukan wali untukmu," Argon mengabaikan pertanyaan Jeffrey. "Sepuluh tahun..." Jeffrey menghela napas. "Ada banyak yang berubah ya." "Aku ingin kau menjadi anak baik dan tidak macam-macam kepada walimu," Argon berkata lebih nyaring dan penuh penekanan. "Jika kau bertindak macam-macam, kau akan di-blacklist dari Squirrel. Menjadi trainee atau kembali masuk ke dalam satuan hanya akan menjadi omong kosong belaka untukmu." Ancamnya. Dua tahun... Jeffrey kembali memikirkan masa waktu yang perlu ia tunggu untuk mendapatkan kembali tempatnya. Waktu itu tak terlalu lama, ia bisa melewatinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri. "Pergilah," kata Argon. "Salam untuk Putrimu," kata Jeffrey. "Siapa namanya? Kau pasti memberikan nama yang cantik." Argon menahan geram di wajahnya yang memerah. "Pergi!" Usirnya. -- Belle memandang Jeffrey dengan sorot sedih yang memuakkan bagi Jeffrey. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang mengantar kepergiannya ke gerbang keluar Squirrel. "Kau harus menjadi anak baik," Belle menepuk bahu Jeffrey dan Jeffrey menggerakkan bahunya untuk menyingkirkan tangan Belle. "Hanya beberapa pekan aku mengenalmu tapi aku sudah mengkhawatirkanmu." Jeffrey mengabaikan saja celotehan si Penanggung Jawab tak berguna itu. "Hubungi aku jika kau butuh sesuatu," kata Belle lagi. Sebuah mobil model lama berwarna biru tua kusam muncul, lalu berhenti di samping mereka berdua. Seorang pria yang mungkin berusia awal 30an tahun keluar dari mobil itu. Pria itu terlihat sembrono karena gerak-geriknya begitu tergesa-gesa. Ujung kemejanya yang tidak dimasukkan rapi, sempat tersangkut di pintu mobil yang ditutup. Ia perlu waktu untuk menarik pakaiannya lalu merapikannya. Barulah ia datang mendekati Jeffrey dan Belle yang menonton kejadian itu dalam diam. "Hai!" Sapa Belle ramah, berusaha mengenyahkan tawa geli gara-gara kejadian kocak itu, sementara Jeffrey mengamati pria itu lekat-lekat. "Halo, namaku Sean Gelsel yang ditugaskan untuk menjadi wali Jeffrey Hunter." Pria itu memberi hormat kepada Belle. "Halo, aku adalah Belle Bell yang menghubungimu." Belle dan si pria Gelsel saling berjabat tangan sambil melempar senyum malu-malu. "Kami berharap kau bisa menjaga Jeffrey dengan baik." Ujar Belle, kemudian ia mencondongkan kepala pada Sean Gelsel, ia merendahkan suaranya. "Sekadar memberimu saran, bocah ini agak susah diatur jadi jangan terlalu diambil hati." "Oh, ya ya..." Sean Gelsel mengangguk-angguk. Jeffrey kembali menolehkan wajah pada bangunan Squirrel di belakangnya. Ia akan meninggalkan tempat yang sudah ia anggap rumahnya, sekali lagi. -- Jeffrey diam saja sambil mengamati pemandangan kota melalui jendela mobil di sebelahnya. Mobil terus melaju menjauhi gedung Squirrel, membelah kota yang ramai. "Eum," Sean terlihat melirik beberapa kali pada Jeffrey, namun ia belum juga mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya. Tentu ia merasa kikuk menghadapi Jeffrey untuk pertama kali. Mobil berhenti ketika pada saat lampu merah, dan membuat Sean segera mengambil sesuatu di kursi belakang. "Ini," ia memberikan berkas pada Jeffrey. "Apa ini?" tanya Jeffrey, menerima berkas itu. "Daftar sekolah. Menurut Nona Bell kau perlu bersekolah. Pilihlah sekolah yang kau mau. Tapi aku juga sudah menandai sekolah yang ingin kurekomendasikan kepadamu." "Aku tidak ingin sekolah," kata Jeffrey, mengambilkan berkas itu ke kursi belakang tanpa membukanya sama sekali. Ia tidak ingin membuang-buang waktunya dengan melakukan sesuatu yang tidak berguna. Sekolah dan Training, kedua hal itu seperti merusak citra dirinya yang sudah menghabiskan masa kecilnya dengan melakukan kedua hal itu. "Oh, begitu..." Sean mengangguk-angguk. "Ba... bagaimana dengan Perguruan Tinggi?" usul Sean. "Daftarnya juga ada di dalam berkas. Atau kau ingin masuk dalam akademi? Mungkin kau bisa mendaftar di akademi polisi sepertiku." "Polisi?" Jeffrey mengulang dengan ekspresi tak suka. Ia tidak menyukai polisi karena jabatan itu berada di bawah Pembasmi, menurutnya. "Aku tidak akan jadi polisi." Sean mengangguk-angguk lagi. Bola matanya masih bergerak-gerak gelisah. "Kalau begitu..." "Namamu Sean kan?" sela Jeffrey segera sebelum Sean kembali berkata-kata. "Eh, ya." jawab Sean segera. "Kau tidak perlu repot-repot mengawasiku," kata Jeffrey. "Kau tidak perlu mengurusku, atau melakukan apa pun kepadaku. Kau cukup urus saja hidupmu." "Tapi..." "Apa pun yang dipesankan oleh Nona Bell, abaikan saja. Tenang saja, kau akan aman. Aku tidak akan bertindak macam-macam." Ujar Jeffrey jengkel. Sean terlihat memikirkan kata-kata Jeffrey. "Tapi tetap saja," gumam Sean. "Kau seharusnya tetap bersekolah." -- Jeffrey menebak jika Sean juga baru pindah ke apartemen ini melihat barang-barang pria lajang itu sebagian masih di dalam kardus. Belle pasti sudah memberikan fasilitas ini karena Jeffrey akan tinggal bersama si polisi. Jeffrey memasuki kamar barunya. Ia menaruh tas di lantai lalu berjalan mendekati jendela. Sesaat ia hanya berdiri diam memandang keluar jendela. Pintu diketuk membuat Jeffrey berbalik. "Apa kau bisa merapikan kamarmu sendiri?" tanya Sean. "Aku harus pergi bekerja." Jeffrey hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sebal. Perlu berapa kali ia harus mengatakan kepada polisi kikuk itu untuk mengurus diri masing-masing saja? -- Jeffrey kembali berada di dalam sel. Ia sudah berhari-hari di dalam sana. Mungkin tiga hari. Tanpa makanan dan minuman, bahkan tak terlihat keberadaan siapa pun. Ia nyaris putus asa, dan di hari ketiga ia mendapatkan makanannya. Dengan rakus ia menghabiskan makanannya. Makanan itu sebenarnya sangat menyedihkan dan tidak layak untuk dimakan, namun ia harus bertahan hidup dan tidak ingin mati konyol. Setelah itu, ia kedatangan tamu. Seorang Vampir. Anak perempuan yang mungkin berusia 6 hingga 7 tahun. Ia baru saja terbangun dari tidurnya setelah mendapatkan makanannya. Vampir itu sudah berada di dalam sel bersamanya, berdiri di sudut sel dalam bayang-bayang, memandanginya. Pasang mata merahnya menyala. Jeffrey segera bangkit duduk dengan sigap. Ia mundur namun ia tidak menemukan senjata apa pun yang dapat ia gunakan untuk melawan si Vampir. Vampir yang terjebak di usia muda kebanyakan menunjukkan sikap agresif. Semakin muda maka daya berpikir Vampir tidak secerdas Vampir yang terjebak di usia dewasa. Kebutuhan haus darah Vampir muda lebih sulit dikontrol dan mereka mungkin kesulitan menahan emosi. Tapi Vampir kecil itu masih diam di tempatnya, hanya mengamati Jeffrey. Beberapa menit telah berlalu dan Vampir itu tidak menunjukkan sikap agresif sedikit pun. Malah, si Vampir kecil menularkan sikap tenang kepada Jeffrey. Ini hipnotis, pikir Jeffrey. Ia tidak boleh terpengaruh. "Halo," sapa si Vampir kecil setelah sekian lama keheningan di antara mereka. Lalu Vampir cilik itu tersenyum lebar kepadanya. -- Jeffrey tersentak bangun ketika mendengar ketukan pintu. Kamarnya gelap gulita. Jendelanya yang terbuka menunjukkan langit malam dan sinar redup bulan menerangi kamarnya. Rupanya ia tertidur seharian tanpa ia sadari. Ia menoleh ke pintu dan hanya pasang mata amber Sean yang terpancar memandanginya dengan cemas dalam kegelapan kamar. Sean segera menyalakan lampu, membuat Jeffrey mengerjapkan mata karena silau. "Aku pikir kau sudah mati," kata Sean. "Kau tidak menyahut, dan kulihat kau tidak bergerak sama sekali." "Ada apa?" tanya Jeffrey jengkel. "Apakah seharian ini kau hanya tidur-tiduran saja?" Sean memandangi ransel Jeffrey yang masih tergeletak di lantai, sama sekali belum dibuka. "Hmm, mungkin kau lelah. Bisa dimengerti. Oh ya, aku baru saja pulang. Dan aku membeli makan malam untukmu. Turunlah. Kau perlu makan." -- Jeffrey turun setelah mandi dan berganti pakaian. Ia menemukan bungkus makanan di meja dapur. Ia makan saja semua yang dibelikan oleh Sean. Sean tak terlihat batang hidungnya. Namun kondisi ini cukup bagus menurut Jeffrey. Ia tidak ingin terlalu banyak kontak dengan si polisi. Setelah selesai, ia berjalan kembali menuju kamarnya, namun tak sengaja menabrak Sean yang tengah berlari terburu-buru. Sean terjungkal jatuh dan berkas di tangannya jatuh berhamburan. "Kau tidak apa-apa?" tanya Jeffrey yang sama sekali tidak terjatuh. "Oh, oh, tidak apa-apa," jawab Sean kikuk, segera bangkit lalu merapikan berkasnya. Jeffrey membantu mengambilkan kertas-kertas yang berhamburan. Rupanya kertas-kertas itu merupakan berkas laporan kasus. Ia menemukan beberapa foto korban. Ia mengerutkan dahi, mengenali penyebab kematian ketiga korban walau hanya dari foto saja. "Berikan," pinta Sean. Namun Jeffrey malah mundur untuk mengamati setiap foto dengan seksama. "Korban meninggal karena kehabisan darah," ujarnya. "Ayolah, berikan berkasku." "Ini perbuatan Vampir kan?" "Tidak ada Vampir di Burdenjam. Kembalikan foto-foto itu." "Ini sudah pasti perbuatan Vampir." kata Jeffrey yakin. Ia sudah akrab bagaimana keadaan mayat ketika darahnya dihisap habis oleh Vampir. "Pelakunya sudah ditangkap. Dan bukan Vampir." "Kau yakin?" tanya Jeffrey, meragukan. "Sudahkah kau bertemu dengan pelakunya?" "Ya, tentu saja," jawab Sean kikuk, terlihat jelas sedang berbohong. "Oh, baiklah. Aku tidak punya akses untuk menemui pelaku. Aku hanyalah salah satu anggota tim yang mengetik laporan." "Apakah pelakunya seorang Vampir muda?" "Apa maksudmu?" tanya Sean. Jeffrey menunjukkan foto pergelangan salah satu korban. Ada bekas luka berupa dua titik di sana. "Ini mungkin bekas luka dari gigi Vampir yang berusia sangat muda. Mungkin di bawah usia 8 tahun sesuai dengan ukuran tubuh anak-anak." "Astaga, Jeff," kata Sean. "Aku sedang terburu-buru. Kembalikan foto-foto itu." Jeffrey memberikan semua foto itu pada Sean. Sean menghela nafas lega ketika menerimanya. "Jadi kau hanyalah salah satu anggota tim?" tanya Jeffrey. "Ya," jawab Sean. "Kau tidak perlu khawatir. Pelakunya adalah seorang maniak yang mengumpulkan darah korban untuk kesenangan sendiri. Dia akan segera dihukum mati karena ada banyak tuntutan terhadapnya." ia menarik nafas. "Dan pelaku bukan seorang Vampir. Juga bukan Vampir berusia muda. Atasanku sudah memastikannya dan aku baru saja menyelesaikan laporannya." "Kau belum bertemu dengan pelakunya, bagaimana kau bisa yakin?" Sean kembali menghela nafas. "Sudahlah. Aku harus segera berangkat. Jangan tidur kemalaman. Aku akan pulang telat." ia berpamitan lalu bergegas pergi. Jeffrey mendengar pintu depan tertutup. Ia mengusap dagu. Ia sudah menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya dari pada mendaftar ke sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN