Ayah Alice, Andrew Sullivan benar-benar memiliki kemiripan dengan putrinya Alice. Rambut hitam dan pasang mata hijau serta wajah angkuh. Ia baru saja datang untuk menjemput Alice. Meski pria itu berwajah dingin, namun ada raut cemas yang terselip. Ia melirik pada Alice yang sudah berada di mobil dari bahunya.
"Hmm," Andrew Sullivan menoleh kembali pada Dami dan Lexa. "Maaf sudah merepotkan."
"Yeah," kata Lexa. "Dia akan segera waras kan?" Tanyanya.
"Dia akan baik-baik saja," kata Andrew Sullivan. Lalu pasang matanya berhenti pada Dami, ia mengerutkan dahi.
"Teman baru Alice," Lexa memberitahu.
"Oh, aku tidak tahu Alice punya teman baru," komentar Andrew Sullivan. "Halo, aku adalah ayah Alice, Andrew Sullivan. Kau bisa memanggilku Andrew." Ia menjulurkan sebelah tangannya pada Dami.
Dami membalas jabat tangan itu dengan kikuk. "Dami, Dami Alan."
"Halo, Dami."
"Cih, kau terlalu sopan, Andrew." Kata Lexa. "Berhati-hatilah, semua orang mengenalmu." Peringatnya.
"Kurasa tidak ada salahnya bagiku untuk lebih dekat dengan teman-teman putriku," kata Andrew, tersenyum singkat pada Dami.
Lexa memutar bola matanya, tampak kesal.
"Jangan khawatir, Lexa. Kau akan tetap menjadi teman putriku nomor satu," kata Andrew, mengedip pada Lexa. "Nah, kembalilah beraktifitas. Jangan sampai kondisi saat ini memengaruhi kalian."
"Oh ya, ini sangat memengaruhi kami." Kata Lexa segera. "Apa benar yang diberitakan itu? Jika mayat itu akibat perbuatan Vampir?" Pertanyaan seperti mendesak.
"Lexa sayang, kau lebih baik tidak terlalu memusingkan hal ini."
"Apa maksudmu?!" Seru Lexa. "Jangan terus menutupi perbuatanmu dengan Walikota itu! Kalian pasti telah memasukkan para makhluk berbahaya itu ke dalam kota ini! Iya kan?!"
"Sayang," Andrew terlihat tenang menghadapi Lexa. "Masuklah."
Lexa membuka kembali mulutnya namun ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika Andrew memberikan sorot tajam. Ia mengatupkan mulutnya lalu berbalik pergi begitu saja.
Dami mengerjap kebingungan melihat tingkah Lexa yang menurutnya sangat tidak sopan.
"Nah, nak," kata Andrew kepada Dami. "Masuklah."
Dami mengangguk, lalu berbalik. Ia berlari mengejar Lexa. Namun langkahnya memelan, ia menoleh kembali ke belakang ketika Andrew Sullivan masuk ke dalam mobil. Lalu mobil itu melaju pergi.
Penilaian pertama Dami bertemu dengan pria paling kaya di Burdenjam adalah... Andrew Sullivan sama menakutkannya dengan putrinya, Alice Sullivan.
--
Dami berhasil mengejar Lexa, namun Lexa tidak kembali ke kelas. Gadis itu memilih lorong kosong. Berdiri di sana sambil memandang keluar jendela. Dami berdiri di sebelahnya.
"Kau harus tutup mulut," kata Lexa tanpa memandang ke arah Dami.
"Apa?" tanya Dami tidak mengerti.
Lexa menolehkan wajah. "Jangan beritahu siapa-siapa jika Alice pernah menggila." ia melototkan matanya, mengancam.
"O...oke," Dami mengangguk. "Tapi... kenapa Alice bisa menjadi seperti itu?"
Lexa menarik nafas, ia memandang Dami dengan sorot ragu, sesaat tampak bimbang, ragu untuk menjawab atau tidak. "Alice sangat membenci Vampir. Berita hari ini membuatnya ketakutan."
"Kenapa?"
"Kenapa kau terus bertanya?!" bentak Lexa jengkel.
"Oh, maaf. Aku hanya ingin tahu. Apa yang menyebabkan dia membenci Vampir...?" Tanya Dami.
"Bukankah sudah jelas? Vampir itu mengerikan! Apa pun yang menimpa Alice, pastilah sesuatu hal yang sangat buruk! Kau ingat kan bagaimana dia berteriak histeris? Aku akan sangat malu jika Caranige tahu dia bisa menggila seperti itu. Ck." Lexa menggigit bibirnya, terlihat gelisah. "Ini tidak bisa dibiarkan." desahnya. "Pokoknya, hanya kau dan aku yang tahu hal ini. Jika hal ini tersebar, aku akan tahu siapa pelakunya."
Dami menelan ludah gugup mendapat sorot tajam Lexa.
"Aku akan merahasiakannya," kata Dami, berjanji.
"Bagus," Lexa mengangguk. Dia menghela nafas lagi. "Ini akan sangat buruk." ujarnya.
"Kenapa?" tanya Dami.
"Burdenjam," kata Lexa dengan ekspresi serius. "Burdenjam sudah dimasuki oleh Eksisten bukan manusia."
--
Dami akhirnya bertemu dengan Topaz sepulang sekolah. Si Vampir menunggunya di bawah bayang-bayang pohon peneduh di samping jalan setelah gerbang Caranige.
Dami segera menghampiri Topaz. Bergabung dengan si Vampir di bawah pohon peneduh.
"Dari mana saja kau?" tanya Dami.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Topaz balik.
"Kenapa kau bertanya?" Dami memandang heran pada Topaz.
"Victor memberitahuku jika kau menghilang pada jam pelajaran terakhir."
Dami mengerutkan dahi. "Apakah kalian meminta Victor untuk mengawasiku?" tanyanya.
Topaz hanya mengangkat bahu.
Dami menggelengkan kepalanya, memandang Topaz dengan sorot tak percaya. "Berhentilah mempermalukan aku," pintanya kesal. Ia segera berjalan dan Topaz mengikutinya dengan tanpa suara.
Dami tidak tahu harus bersikap bagaimana jika ia bertemu dengan Victor. Victor pasti menertawainya karena harus diawasi terus-menerus.
"Aku terpaksa memintanya mengawasimu," kata Topaz. "Aku sedang memeriksa sesuatu."
"Apakah ini berhubungan dengan dua mayat yang ditemukan hari ini?" jawaban Dami tepat. Si Vampir mengangguk. "Apakah kau terlibat dalam hal ini?" ia bertanya.
Topaz mendengus. "Kau sama seperti Jadrian, kapan kalian bisa mempercayaiku?" ujarnya jengkel.
"Aku mempercayaimu," kata Dami dan dia tidak melihat Topaz sempat tertegun sebentar. "Hanya saja aku perlu bertanya untuk memastikan."
Topaz mengangguk-angguk. "Aku tidak terlibat," ia menjawab. "Demi Tuhan." Sumpahnya.
Dami mengangguk, menerima sumpah Topaz dengan helaan nafas lega. "Baguslah."
"Pelakunya sudah tertangkap," kata Topaz lagi. Dami berhenti, membelalakan matanya pada Topaz. Topaz mengangguk. "Aku mengikuti penyelidikan para polisi itu, dan mereka menangkap seorang Vampir yang tinggal di dekat lokasi mayat kedua ditemukan."
"Mayat wanita dengan blus berwarna biru?" tanpa sadar Dami berbisik.
"Ya," Topaz mendengar bisikan Dami, mengangguk membenarkan. "Kau melihat foto yang disebarkan itu? Ck, media sungguh mengesalkan..."
"Jadi... Pelakunya sudah ditangkap?" tanya Dami.
Topaz mengangguk. "Sebentar lagi polisi akan memberikan pernyataan. Tenanglah. Segalanya akan kembali seperti ke sediakala."
"Topaz, apakah kau yakin mereka menemukan pelaku sebenarnya?" tanya Dami ragu.
Topaz memandang Dami dengan sorot heran.
"Maksudku... apakah semua bukti memang mengarah pad Vampir itu?" Dami buru-buru menjelaskan.
"Sepertinya begitu," Topaz mengangkat bahu. "Aku sempat melihat pelakunya, secara diam-diam tentu saja. Vampir itu tidak dalam kondisi yang stabil. Dia terlihat sangat kelaparan."
"Lalu apa yang akan terjadi?"
"Apa maksudmu?"
"Apakah Burdenjam akan... menolak Eksisten Bukan Manusia?" tanya Dami takut-takut. "Aku banyak mendengar opini jika manusia tidak ingin ada Eksisten Bukan Manusia tinggal di sini."
Topaz mendengus. "Kau harus terbiasa mendengar opini itu. Di mana pun sama saja. Tidak ada tempat bagi kami. Dunia seolah milik manusia saja."
Dami menundukkan kepalanya, merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan mereka berdua.
"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Pelakunya sudah tertangkap. Dan kupastikan hal ini tidak akan memengaruhi aku dan Jadrian."
Dami mengangguk, ia memutuskan untuk mempercayai Topaz.
"Lalu kemana kau pergi pada jam pelajaran terakhir?" Topaz kembali bertanya.
"Apakah itu penting?" tanya Dami jengkel.
"Kau tahu Jadrian," ujar Topaz. "Dia akan kesal jika tahu aku pergi diam-diam ke lokasi kejadian. Dan dia ingin mendengar semua aktfitasmu dari mulutku."
"Kau jujur sekali," keluh Dami. "Bukankah aku sudah bilang untuk berhenti mengekoriku? Dan aku juga sudah memohon pada Jadrian. Apakah dia tidak mendengarkanku?"
"Kau pikir dia akan mendengarkanmu, ha?"
Dami menarik nafas. Pada akhirnya... Jadrian tidak mendengarkannya. Bahkan Jadrian menyimpan rahasia darinya, namun malah berbagi rahasia itu pada Dael dan Solaris.
"Aku menemani Lexa," Dami memutuskan untuk menjawab. "Dia sangat cemas dengan kekacauan ini. Aku bersama dengannya untuk menenangkannya."
--
Hujan turun deras menjelang malam. Meski suasana terasa kelam dengan suara deras hujan yang berjatuhan di bumi, nampaknya Burdenjam telah kembali bersemangat. Barusan polisi telah memberikan pernyataan di berita televisi mengenai penemuan kedua mayat hari ini. Seperti yang diberitahukan Topaz, Kapten polisi menyampaikan jika mereka sudah menemukan pelakunya. Namun anehnya mereka tidak menyampaikan identitas pelakunya yang adalah seorang Vampir. Tentu mereka tidak akan melakukannya.
Burdenjam masih belum siap menjadi Kota Percampuran. Masih banyak warga yang menentang proyek Walikota terhadap Kota Percampuran. Jalan kota ini menjadi Kota Percampuran masih sangat panjang. Dan setiap kota yang menjadi kota percampuran biasanya akan berujung kekacauan. Akan sangat disayangkan Burdenjam menjadi yang selanjutnya.
Dami memandang keluar jendela dimana pemandangan kota dikacaukan oleh derasnya hujan yang menghantam jendela.
Ia sendirian di dalam apartemen. Belum ada lampu yang dinyalakan. Hanya sinar warna-warni televisi yang menyinari ruangan.
Jadrian dan Topaz tentu sedang berada di klinik. Klinik itu hanya akan menjadi tempat penyamaran saja, sekaligus tempat persembunyian untuk mereka berdua. Tempat kedua Vampir itu membahas rahasia apa pun darinya.
Sebelumnya Dami berharap ingatannya kembali sehingga ia dapat mengidentifikasi pelaku yang menangkapnya. Tapi... bagaimana jika Jadrian sudah mengetahui siapa orang yang menangkapnya itu?
Konyol, dia mulai berpikiran yang tidak-tidak. Jadrian tentu akan segera menangkap si pelaku apabila Jadrian tahu orangnya.
Dami berusaha mengingat potongan mimpinya. Namun sia-sia. Seperti sebuah mimpi pada umumnya, sebelumnya terasa sangat jelas, namun berikutnya semakin lama akan memudar dalam ingatan. Begitu bias. Akan sangat sulit untuk menjadi valid kembali.
"Paman..." bisiknya, memandang jendela yang basah.
Ia hanya ingat jika orang dalam salah satu mimpinya memperkenalkan diri sebagai Paman.
Apakah hanya bunga tidur... ataukah ingatan sepuluh tahunnya yang hilang?