Dia berada di dalam sebuah ruangan kecil dengan dinding kayu. Seseorang menangis di depannya, seorang wanita yang mengenakan blus berwarna biru, tersedu-sedu, memohon untuk dilepaskan. Orang itu duduk di sudut ruangan dan kedua tangannya terikat. Ia terus saja menangis.
Tidak ada yang ia lakukan selain diam memandang wanita itu. Lalu seorang pria jangkung berambut emas memasuki ruangan, kemudian berlutut di sebelahnya.
Ia tidak memandang pria itu yang berbicara dengan suara berbisik ke dekat telinganya. Ia hanya memandang wanita itu saja.
"Sayangku..." Bisik pria berambut emas, suaranya lembut dan menenangkan. "Apakah kau tidak lapar?"
Dia merasakan ada sesuatu yang salah.
Dia menggelengkan kepala.
"Tapi kau kesakitan, sayang..." Kata pria berambut emas. "Kau kesakitan, kau perlu meminum sumber keabadian kita. Ya?"
Dia merasa goyah.
Tapi ini salah. Salah! Katakan tidak!
Dia menganggukkan kepala.
Kemudian, Ia mendekati si wanita yang terus saja menangis.
Setelahnya suara jeritan wanita itu melengking nyaring, bergema memenuhi ruangan.
--
Dami terlonjak bangun, napasnya terengah dan tubuhnya gemetar. Telinganya terasa masih berdenging dari teriakan seorang wanita.
Mimpi?
Ia memandang ke sekeliling kamarnya. Tidak ada ruangan kecil dengan dinding kayu. Tidak ada orang yang terikat.
Dami menghela napas, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Mimpi yang sangat mengerikan.
--
Dami tidak melihat Topaz sejak pagi dan tidak mengharapkan akan bertegur sapa dengan si Vampir. Ia meninggalkan apartemen, berjalan kaki menyusuri trotoar. Ia berhenti di depan klinik Jadrian.
Tapi dia tidak berniat masuk dan menyapa Jadrian. Ia berpaling lalu melanjutkan langkahnya. Entah mengapa dia sedang tidak ingin menyapa Jadrian. Dia terlalu gelisah memikirkan akhir pekan ini. Dia sudah berbohong kepada banyak orang demi keinginannya sendiri. Tapi juga mungkin karena ia merasa jauh dari Jadrian. Fakta jika Jadrian tidak lagi berbagi rahasia dengannya sedikit membuatnya tidak nyaman.
Mungkin Jadrian tidak percaya jika dia adalah Dami. Tentu saja, siapa yang bisa langsung percaya jika dia adalah seorang Vampir dulunya?
Ponselnya bergetar. Ia segera mengangkat panggilan Alice.
"Halo?"
"Dami..."
"Ya?"
"Maaf, aku tidak bisa menjemputmu."
"Oh ya, tidak apa-apa."
Lalu panggilan itu selesai begitu saja. Dami memandang ponselnya sesaat, menghela napas. Ia tidak akan pernah terbiasa menghadapi sikap Alice yang dingin.
Ia melanjutkan langkahnya lagi. Berjalan di pagi hari cukup menenangkan dirinya. Ia telah memulai hari barunya dengan mimpi buruk, dan ia ingin menghapusnya.
Sebuah mobil mini berwarna kuning melaju melewatinya di jalan raya.
Dami memandangi mobil itu dan tahu Aoi dan kawan-kawannya tidak akan pernah menyapanya lagi karena dia berteman dengan Alice dan Lexa. Yah, selalu ada konseskuensi.
Namun mobil mini itu mundur, lalu berhenti di samping jalan, tepat di sebelah Dami.
Dami mengerjap kebingungan.
Jendela mobil membuka.
"Hai!" Sapa Aoi. Di belakangnya Aimee juga ikut menyodorkan wajah dan terlihat tidak nyaman.
"Oh, hai..." Balas Dami kikuk. Ia tidak menyangka mereka akan menyapanya.
"Kau sendirian?" Tanya Aoi.
"Ya," jawab Dami.
"Alice tidak menjemputmu?"
Dami menggelengkan kepala.
"Hei, apakah kau sudah dicampakkan Alice?" Tanya Aimee, terdengar meledek.
Dami malah berharap ia benar-benar dicampakkan.
"Masuklah," ajak Aoi.
"Eum, tidak usah," Dami merasa gugup.
"Tidak apa-apa. Kita hanya akan sampai di parkiran. Alice tidak akan melihatmu." Aoi seolah tahu apa yang ia pikirkan.
Daisy yang duduk di belakang membukakan pintu mobil.
"Oh, baiklah..." Dami menyerah.
--
"Ini mengerikan!"
Dami memandangi Daisy, ia nyaris lupa bagaimana suara Daisy karena gadis itu sangat jarang berbicara.
Daisy sedang menutupi wajahnya dengan koran. Lalu menurunkannya, membelalakan mata birunya dengan ekspresi histeris.
"Mayat salah satu orang hilang ditemukan!" Jeritnya.
"Ya, aku menonton beritanya tadi pagi," Aimee berkata.
"Mengerikan!" Ulang Daisy.
"Polisi belum memberikan pernyataan," kata Aoi. "Kita harus bersikap tenang."
"Polisi akan menutupi kasus ini, Aoi." ujar Daisy. "Mereka tidak akan memberitahu kondisi korban yang ditemukan. Web Netralix sudah merilis penyelidikan mereka. Mereka menuliskan jika korban yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan!"
"Jangan percaya situs penipu itu," gerutu Aimee.
"Mengenaskan?" Ulang Dami.
"Ya!" Daisy beralih pada Dami. "Sangat mengenaskan!"
"Ayolah, Daisy..." Pinta Aoi.
"Korban yang ditemukan..." Daisy mengabaikan Aoi dan Aimee, melotot pada Dami yang mau mendengarkannya. "... Kondisinya dalam kehabisan darah! Itu artinya ada Vampir yang meminum darahnya!"
Dami mengerjapkan mata, terkejut.
"Sial, aku akan menuntut situs penipu itu!" Gerutu Aimee kesal.
"Ini, mereka sempat datang ke lokasi mayat itu ditemukan," Daisy menyodorkan ponselnya, menunjukkan gambar di layar. "Tidak terlalu jelas, tapi kau bisa melihatnya. Mayatnya kehabisan darah sampai-sampai tubuhnya mengkerut!"
Dami melihat gambar di layar ponsel Daisy. Ada banyak petugas berwajib yang menghalangi. Pastinya orang yang memotret bersembunyi agar tidak ketahuan. Namun mereka berhasil mendapatkan gambar yang mereka inginkan. Sebuah brankar didorong oleh petugas berseragam putih. Mayat itu sudah berada di atas brankar. Kain putih menutupi mayat itu, dari lekuk yang terbentuk pada kain putih, ukuran mayat itu terasa lebih kecil, padahal tidak ada anak kecil dalam daftar orang hilang yang dilaporkan. Dan foto itu diambil tepat ketika tangan si mayat terjuntai keluar dari kain putih. Tangan si mayat mengeriput dengan kulit yang berwarna kelabu.
--
Penemuan mayat itu memengaruhi Caranige. Di mana pun suasana terasa kelam. Murid-murid tidak lagi mengobrol sambil tertawa-tawa, wajah mereka terlihat serius dan berbicara dengan suara rendah. Dan siang ini mayat kedua dikabarkan telah ditemukan. Berita penyebab kematian mayat itu pun tersebar sebelum polisi sempat memberikan pernyataan. Entah oleh siapa, penampakan mayat kedua difoto kemudian disebarkan oleh orang tidak bertanggungjawab.
Dami memandang foto yang disebarkan itu. Tubuhnya merinding. Dan entah mengapa ia merasa sangat gugup. Pakaian wanita itu mirip dengan pakaian wanita dalam mimpinya tadi pagi. Blus berwarna biru.
Dami menarik napas, ia keluar dari website itu.
Ini hanya kebetulan. Ia meyakinkan dirinya.
Tapi rasanya seperti ada yang salah.
"Hei," Lexa mendekatinya, menoleh ke sekeliling. "Apakah kau melihat Alice?"
Dami menggelengkan kepala. "Aku sudah tidak melihatnya sejak pagi."
Lexa menghela nafas. "Dasar. Dia mulai bertingkah." Gerutunya.
"Ada apa?" Tanya Dami.
Lexa mengedikkan bahu. "Alice membenci Vampir." Jawabnya. "Dan mayat yang ditemukan sudah pasti mati karena Vampir. Dia pasti terpengaruh dengan situasi ini. Ck."
Lexa pergi meninggalkan Dami untuk mencari Alice.
Dami masih terdiam di tempatnya berdiri. Ini adalah informasi baru baginya, Alice membenci Vampir. Seberapa besar kebencian Alice pada Vampir hingga memengaruhi gadis keras kepala itu?
Entah mengapa Dami merasa penasaran. Ia kembali memandang ponselnya, apakah ia perlu mengirim pesan kepada Alice? Tapi panggilan Lexa saja tidak diangkat, apalagi jika dia yang bertanya? Dia tidak sedekat itu dengan Alice yang misterius.
Namun Dami memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Alice, setidaknya ia bertanya.
Dan tak berapa lama Alice membalas pesannya.
Dami : kau dimana?
Alice : di ruang musik.
Dami bergegas menuju ke ruang musik.
--
Ruang musik gelap. Tirai-tirai tidak dibuka dan lampu tidak dinyalakan. Namun Dami dapat menemukan keberadaan Alice yang duduk di depan piano. Ia segera menghampiri Alice, lalu duduk di sebelahnya.
"Hei," sapa Dami ragu.
Alice bagaikan patung, ia menunduk hingga rambutnya terjuntai menutupi sisi wajahnya, rupanya ia sedang memandang layar ponselnya yang menampilkan gambar mayat kedua yang ditemukan.
"Ini... perbuatan Vampir kan?" bisik Alice.
Dami menelan ludah. "Polisi belum memberi pernyataan."
Alice menoleh pada Dami, pasang matanya membelalak. "Kau pikir mereka akan memberikan pernyataan?!" Ia tiba-tiba membentak.
Dami mengerjap kaget. Ia tergagap. "A... Aku tidak tahu."
"Orang-orang bodoh itu..." Desis Alice. "Mereka akan menutupinya! Mereka terlalu mencintai Burdenjam!"
Dami tak tahu harus bagaimana menghadapi Alice. Ia tak mampu berkata-kata.
"Semua Vampir harus dibunuh!" Kata Alice. Ia mendadak berdiri. Lalu menelepon seseorang.
"Ayah!" Seru Alice pada teleponnya yang diangkat. "Ayah! Bunuh semua Vampir! Bunuh mereka! Panggil Pembasmi! Suruh mereka membasmi Vampir! BASMI MEREKA!!!" Jeritnya nyaring, melengking sampai urat lehernya tercetak jelas di leher.
Dami sampai mundur ke belakang. Ia ketakutan melihat sikap Alice yang meledak.
"BUNUH SEMUA VAMPIR!!"
"Alice?" Lexa muncul tepat pada waktunya. Ia segera menghambur mendatangi Alice yang berteriak tak terkendali. Ia memeluk Alice erat-erat, mencoba menenangkan Alice yang tampak terguncang.
Dami tak pernah menyangka akan melihat Alice dalam kondisi terpuruk seperti ini.